BANGKALAN, RadarMadura.id – Matahari baru saja meninggi saat Kampung Nelayan, Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, dipenuhi warna-warni pakaian adat pada Minggu (26/7).
Para perempuan mengenakan busana Marlena, sedangkan laki-laki tampil gagah dengan pakaian pesa’. Mereka larut dalam perayaan yang telah diwariskan turun-temurun, yakni rokat tase’.
Sebelum kirab budaya dimulai, perhatian warga tertuju pada panggung sederhana di tepi Pantai Banyusangka. Tiga penari tampil anggun membawakan tarian malate sato'or.
Alunan musik saronen dari Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Sumenep, mengiringi setiap gerakan mereka. Hal itu menjadi penanda bahwa prosesi rokat tase’ segera dimulai.
Baca Juga: Bunda Genre Sampang Dorong Duta Genre Jadi Agen Perubahan
Tak lama setelah itu, rombongan kirab bergerak mengelilingi desa. Warga berbaris mengikuti arak-arakan sebelum kembali menuju bibir pantai sebagai puncak pelaksanaan rokat tase’.
Di sepanjang jalan, masyarakat memenuhi sisi rute kirab untuk menyaksikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu. Bukan hanya warisan leluhur, tapi telah menjadi kearifan lokal bagi masyarakat setempat.
Bagi masyarakat pesisir Banyusangka, rokat tase’ bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi tersebut merupakan ungkapan syukur atas rezeki hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Melalui rangkaian doa dan prosesi adat, warga memohon agar para nelayan selalu diberi keselamatan saat melaut, sekaligus berharap hasil tangkapan ikan terus melimpah.
Tokoh agama M. Ridwan Zubaidi menuturkan, makna rokat tase’ sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan.
Selama tujuh malam berturut-turut, sekitar sebulan sebelum acara, para juragan nelayan bersama simpatisan berkumpul menggelar pengajian di tepi pantai.
Baca Juga: BRI Jadi Motor Utama Program 3 Juta Rumah, Pemerintah Apresiasi Kinerja Penyaluran KUR Perumahan
Setiap malam mereka membaca surah Yasin, surah Al-Waqiah, Salawat Nariyah sebanyak 11 kali, serta tahlil dengan bacaan assalatu wassalamu alaika ya rasulallah sebanyak 100 kali.
Seluruh bacaan tersebut ditutup dengan doa rokat tase’ yang bersumber dari kitab Miftahul Jannah, karya saudara kandung Syekh Raden As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
”Harapannya, kegiatan rokat tase’ ini mampu memperkuat hablumminallah dan hablumminannas. Melalui doa, kami memohon keberkahan rezeki dari laut, sedangkan kebersamaan dalam kegiatan ini mempererat persaudaraan,” ujarnya.
Usai doa dipanjatkan, prosesi yang paling ditunggu masyarakat pun dimulai. Puluhan perahu yang dihias diberangkatkan secara bersamaan menuju laut lepas dengan iringan musik saronen.
Di antara rombongan itu, sebuah perahu kecil yang membawa sesaji perlahan dilarung ke tengah laut.
Di dalam perahu tersebut tersimpan nasi tumpeng, ketan, beras kuning, burung merpati, perlengkapan rias wajah, serta sejumlah uang. Seluruh sesaji itu dihanyutkan sebagai bagian dari tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Tokoh masyarakat Muhib menjelaskan, setiap isi sesaji memiliki filosofi tersendiri. Tumpeng melambangkan rasa syukur, ketan dan beras kuning menjadi simbol kemakmuran, sedangkan perlengkapan rias wajah serta uang dimaknai sebagai harapan datangnya keberkahan rezeki.
Baca Juga: ASN Pemkab Bangkalan Gotong Royong Mengecat Trotoar, Sambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI
Tradisi itu juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini telah menjaga kawasan laut sejak dahulu.
”Masyarakat di sini masih memercayai adanya penjaga laut. Karena itu, sesaji dihanyutkan sebagai simbol penghormatan sekaligus doa agar laut tetap memberikan keberkahan bagi para nelayan,” katanya.
Ketua Panitia Rokat Tase’ Ruspandi mengatakan, seluruh elemen masyarakat terlibat dalam persiapan acara.
Tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok nelayan, pemuda, hingga kaum perempuan bergotong royong menghias perahu, menyiapkan konsumsi, dan mengatur jalannya kirab budaya.
Menurut dia, semangat kebersamaan itulah yang menjadi roh rokat tase’ dan terus diwariskan kepada generasi muda agar tradisi leluhur tidak tergerus perkembangan zaman.
Selain menjaga tradisi, rokat tase’ juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Puluhan pedagang makanan, minuman, dan pelaku UMKM memanfaatkan keramaian untuk berjualan.
Ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah turut menggerakkan perekonomian warga, mulai dari jasa parkir hingga penjualan hasil olahan laut.
Baca Juga: Anggaran P3TGAI di Sampang Tembus Rp 43 Miliar, Satu Lokasi Dianggarkan Rp 195 Juta
Ruspandi berharap, pelaksanaan rokat tase’ ke depan memperoleh dukungan dari pemerintah daerah.
Menurut dia, keterlibatan pemerintah tidak hanya membantu penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mengenalkan tradisi masyarakat pesisir sebagai salah satu potensi wisata budaya di Bangkalan.
Sementara itu, Kepala Desa Banyusangka H Abd. Syukur mengatakan, rokat tase’ merupakan bentuk penghormatan kepada para nelayan pendahulu sekaligus ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.
Karena itu, tradisi tersebut tetap dilaksanakan setiap tahun, baik saat musim ikan melimpah maupun ketika hasil tangkapan menurun.
”Harapannya, tradisi ini tetap lestari dan mampu membawa keberkahan sehingga penghasilan masyarakat pesisir Banyusangka terus meningkat,” pungkasnya. (ina/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti