
BANGKALAN, RadarMadura.id – Tiga anak buah kapal (ABK) MSC asal Bangkalan tertahan di Selat Hormuz akibat blokade dan ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Mereka adalah Muhammad Ahyarama, Hariri Samlan, dan Mashudi Nasir.
Ketiganya merupakan warga Kecamatan Arosbaya, Bangkalan.
Sudah lebih sebulan kapal yang ditumpangi ketiga ABK tertahan di jalur pelayaran vital yang menghubungkan teluk Persia dan Oman.
Baca Juga: Tingkatkan Mutu Layanan Kesehatan di Puskesmas, Pemkab Bangkalan Buka Kanal Pengaduan Masyarakat
Muhammad Ahyarama merupakan seorang able seaman atau juru mudi di kapal kargo itu.
Sementara Hariri Samlan bertugas sebagai juru masak. Sedangkan Mashudi Nasir juga seorang juru kemudi.
Kepala Desa (Kades) Lajing Moksin membenarkan ketiga ABK yang tertahan di Selat Hormuz itu merupakan warganya.
Bahkan, sudah lebih satu bulan ketiganya tertahan di selat strategis dalam tata niaga energi tersebut.
”Warga kami tertahan di Selat Hormuz akibat situasi perang di Timur Tengah,” katanya.
Namun, pihaknya meminta keluarga dari ketiga AKB itu tidak panik.
Sebab, mereka tertahan bukan kerana terlibat kasus.
Tetapi, karena situasi perang yang masih terus berkecambuk antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
”Itu urusan perusahaan dan keluarga tidak perlu khawatir,” katanya.
Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan perusahaan tempat ketiga warganya bekerja.
Sebab, perusahaan juga memilik tanggung jawab untuk menjamin keamanan semua ABK.
”Masalah sepele dan itu pasti diurus oleh pihak perusahaan,” sambungnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Bangkalan Jimmy Tria Sukmana mengaku belum menerima informasi dari pihak keluarga ketiga tiga ABK yang tertahan di Selat Hormuz.
Namun, pihaknya berjanji akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk menyikapi adanya ABK asal Indonesia yang masih tertahan di Selat Hormuz.
”Kami belum mendapatkan informasi apa pun, nanti akan kami sampaikan ke Kemenlu jika memang ada warga Bangkalan yang tertahan di Hormuz,” ucapnya.
Selain itu, Disperinaker Bangkalan juaga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI).
”Kami koordinasikan dengan Kemen P2MI sebelum melapor ke Kemenlu,” tandasnya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti