Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Keluarga Korban Minta Ekshumasi, Atas Kematian Anggota TNI AL yang Dianggap Tak Wajar

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 7 Mei 2026 | 07:25 WIB
MENCARI KEADILAN: Mohamad Sholeh selaku kuasa hukum keluarga korban dugaan penganiayaan mendatangi kediaman kliennya di Kelurahan Keraton, Bangkalan, Senin (4/5). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
MENCARI KEADILAN: Mohamad Sholeh selaku kuasa hukum keluarga korban dugaan penganiayaan mendatangi kediaman kliennya di Kelurahan Keraton, Bangkalan, Senin (4/5). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Kasus dugaan penganiayaan berujung kematian terhadap Ghofirul Kasyfi, prajurit TNI AL asal Bangkalan berbuntut panjang.

Sebab, keluarga korban masih merasakan adanya kejanggalan terhadap kematian anggota TNI berusia 22 tahun tersebut.

Kuasa hukum keluarga korban, Mohamad Sholeh, melayangkan surat pengajuan otopsi ke Komando Armada (Koarmada) I.

Pihaknya berharap langkah yang ditempuh segera mendapat respons dari pihak yang berwenang. Sehingga, ekshumasi terhadap tubuh Ghofirul Kasyfi bisa dilakukan.

Kliennya belum menerima alasan kematian Ghofirul Kasyfi yang disebut bunuh diri.

Baca Juga: Mayat Perempuan Mengapung di Perairan Kamal, Bangkalan, Teridentifikasi Warga Sidoarjo

Sebab, berita acara kematian Ghofirul Kasyfi hingga saat ini belum diserahkan ke kliennya. Kemudian, bukti foto-foto saat korban bunuh diri juga tidak diberikan kepada pihak keluarga.

”Lalu, bagaimana kami bisa percaya,” ujar pria yang biasa disapa Cak Sholeh itu.

Dia mengakui keluarga Ghofirul Kasyfi sempat menolak untuk diotopsi. Namun, kini ayahnya menginginkan otopsi karena kematian korban dinilai sarat kejanggalan.

Semestinya jika memang korban meninggal karena bunuh diri, pihak TNI Koarmada I merespons baik agar masalah itu menemukan titik terang.

”Semakin mereka tidak mau, justru membuat curiga pihak keluarga, dan bertanya-tanya ada apa dengan kejanggalan-kejanggalan yang keluarga temukan,” bebernya.

Dalam pernyataan resmi, pihak Koarmada I tidak menyinggung soal chatting-an korban dengan keluarga tentang dugaan adanya kekerasan yang dilakukan seniornya.

Juga keinginan Ghofirul Kasyfi untuk segera pindah tempat tugas karena mendapatkan perlakuan tidak baik selama bertugas.

”Bagaimana mereka menjawab chat WhatsApp korban dengan keluarganya soal sering mendapatkan kekerasan dari seniornya,” katanya.

Baca Juga: BB 3,16 Kg Positif Narkotika, Kejari Sampang Pastikan Proses Hukum Lanjut

Berdasarkan hasil visum et reportum resmi yang dikeluarkan Rumah Sakit TNI Angkatan Laut (RS TNI AL) Dr. Mintohardjo, Minggu (26/4), tidak ditemukan lebam akibat kekerasan pada tubuh almarhum Ghofirul Kasyfi.

Koarmada I juga membantah adanya pendarahan pada selangkangan Ghofirul Kasyfi.

Sementara luka pada bagian leher akibat tekan yang melingkar, disertai pengelupasan kulit ari yang pola dan karakteristiknya secara medis identik dengan luka gantung.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematian korban murni akibat gantung diri, bukan karena kekerasan.

Sementara luka lebam pada jenazah yang terlihat sesaat sebelum dimakamkan, merupakan livor mortis.

Yakni, salah satu tanda kematian yang disebabkan berhentinya sirkulasi darah. Sehingga, sel darah merah mengendap ke bagian tubuh terendah akibat pengaruh gara gravitasi.  (za/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#RS TNI AL #prajurit TNI AL #ekshumasi #Penganiayaan #kematian