Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Anggota TNI Tewas, Keluarga Curiga Korban Disiksa, Temukan Lebam di Sekujur Tubuh

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 5 Mei 2026 | 08:13 WIB
BUKA SUARA: Orang tua Ghofirul Kasyfi menunjukkan bukti chatting-an dengan korban sebelum meninggal, Minggu (3/5). (ISNIN UNTUK JPRM)
BUKA SUARA: Orang tua Ghofirul Kasyfi menunjukkan bukti chatting-an dengan korban sebelum meninggal, Minggu (3/5). (ISNIN UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Sudah sepekan Ghofirul Kasyfi meninggal saat bertugas sebagai anggota TNI AL kelasi dua.

Namun, keluarga korban belum menerima alasan penyebab kematian Ghofirul Kasyfi yang disebut bunuh diri.

Sebab, orang tua Ghofirul Kasyfi menemukan beberapa kejanggalan pada tubuh korban.

Mahbub Madani, ayah Ghofirul Kasyfi menyatakan, buah hatinya di Surabaya pasca dilantik menjadi anggota TNI AL pada Desember 2025.

Februari 2026, pihaknya menerima informasi bahwa Ghofirul Kasyfi ditugaskan di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada Februari lalu.

”Februari kami menerima kabar Ghofirul ditugaskan ke Jakarta,” jelasnya.

Saat pamit kepada orang tuanya, semangat Ghofirul sangat menggebu-gebu.

Meskipun Mahbub merasa berat melepas buah hatinya bertugas di Ibu Kota Jakarta. Dia khawatir kondisinya tidak sama seperti saat bertugas di Surabaya.

”Jujur saya berat untuk melepasnya, namanya juga anak,” sambungnya.

Kekhawatiran Mahbub makin menjadi-jadi, satu bulan yang lalu Ghofirul mengirimkan kabar melalui telepon kalau dirinya tidak kuat bertugas di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat.

Dia mengeluh mendapatkan perlakuan tidak baik atau disiksa oleh seniornya.

”Saya mencoba menguatkan dia, saya bilang itu biasa terjadi saat masa orientasi dan itu menguatkan kamu bukan menyiksa,” tuturnya.

Berdasar pengakuan korban, dia disiksa di tempatnya bertugas oleh sekitar 60 seniornya.

Setengah bulan kemudian, pihaknya kembali menerima keluhan dari korban melalui WhatsApp. Saat itu buah hatinya meminta untuk dipindah ke Surabaya.

”Saya berpikir anak ini masih baru, apakah bisa mengajukan mutasi atau pindah ke Surabaya, rasanya tidak mungkin,” lanjutnya.

Mahbub lagi-lagi mencoba menguatkan anaknya meskipun baginya tidak mungkin memindahtugaskan anaknya ke tempat lain.

Karena tergolong baru menjadi prajurit TNI.  Pesan meminta bantuan untuk pindah tugas tersebut diterima setiap hari.

”Lalu, Minggu (26/4) mamanya (korban) menerima kabar dari dua komandannya, katanya Ghofirul kabur dari kapal,” katanya.

Keesokan harinya, Ghofirul ditemukan meninggal dunia di kamarnya.

Padahal, sehari sebelumnya semua kamar sudah digeledah dan korban tidak ditemukan di kamarnya. Itu dinilai janggal dan tidak wajar oleh Mahbub.

Sementara alasan kematian korban yang disampaikan kepada pihak keluarga adalah bunuh diri (bundir).

”Pilihan bunuh diri rasanya tidak mungkin, karena saya tahu betul anak saya itu orangnya tegar dan tidak mudah menyerah. Jadi saya tidak percaya kalau dia bunuh diri,” paparnya.

Senin (27/4), Mahbub ditelepon untuk menyaksikan data dan jenazah korban di rumah ibunya di Kelurahan Kraton, Kecamatan Kota Bangkalan.

Lalu dia meminta peti jenazah anaknya dibuka. Saat dilihat, ditemukan luka lebam di wajahnya.

Keesokan harinya sebelum dikuburkan, pihak keluarga meminta peti jenazah dibuka, banyak luka lebam di sekujur tubuhnya.

Bahkan di selangkangan mengeluarkan darah. ”Anehnya lagi, katanya anak saya itu gantung diri, tapi di lehernya tidak ada bekas luka sama sekali,” tandasnya. (za/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kematian Ghofirul Kasyfi #disiksa #bunuh diri #Masa Orientasi #Tidak Wajar