BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menggelar Trunojoyo Madura International Conference (TMIC) Rabu (29/10). Kegiatan yang berlangsung di lantai 10 Graha Utama UTM tersebut menghadirkan dua pembicara internasional, yakni berasal dari Jepang dan Jerman.
Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik UTM Prof Achmad Amzeri menyatakan, TMIC rutin dilaksanakan setiap tahun. Tujuannya, untuk memublikasikan riset berskala internasional atau jurnal terindeks Scopus.
Sosok pemateri internasional yang dihadirkan adalah Wahyu Rahmaniar dari Institute of Science Tokyo, Jepang. Lalu, Mirjam Lucking yang berasal dari Ludwig-Maximilian University, Munich, Jerman.
”Di samping itu juga ada pembicara dari internal UTM, yakni Wahyu Andy Nugraha dan Medhy Aginta Hidayat,” ujarnya.
UTM mengalokasikan anggaran khusus untuk kegiatan penelitian. Riset yang dibiayai kampus rata-rata mengusung tema tentang Madura. Mulai dari permasalahan, potensi, dan keinginan masyarakat Madura.
”Harapannya, setelah dipublikasikan secara internasional, Madura lebih dikenal masyarakat internasional. Juga berdampak terhadap pemeringkatan,” ucapnya.
Tahun ini, UTM tengah menyiapkan beberapa pemeringkatan. Antara lain, webometrics. ”Ini yang menjadi salah satu acuan untuk mendapatkan kinerja dari penelitian dan pengabdian,” tambahnya.
TMIC tahun ini diikuti dosen di lingkungan UTM dan beberapa pengajar dari kampus lain di Jawa Timur. Juga, ada pula yang berasal dari kalangan mahasiswa. Sebab, dalam setiap penelitian UTM, mahasiswa dilibatkan.
Hasil penelitian mahasiswa yang dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus bisa menjadi pengganti tugas akhir. Sehingga, tidak perlu menulis karya ilmiah berupa skripsi.
”Jadi tugas akhir di UTM tidak hanya skripsi, tetapi juga artikel yang dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus,” katanya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti