BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tidak hanya fokus terhadap pengembangan akademik. Namun, juga kental dengan nilai-nilai religiusitas yang tinggi. Itu dibuktikan dengan penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan Kamis (2/10).
Acara yang diikuti civitas academica tersebut berlangsung di Musala Syaikhona Muhammad Kholil Graha Utama, lantai 9. Dai yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, KH Muhammad Cholil Nafis.
Rektor UTM Prof Safi’ mengutarakan, lembaga yang dipimpin akan terus menebar manfaat sebagaimana tagline kampus berdampak. Salah satunya, dengan cara meneladani perjalanan hidup Nabi Muhammad.
Oleh karena itu, inti dari peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan adalah untuk mengambil pembelajaran dari semangat dan nilai-nilai yang diajarkan nabi akhir zaman. ”Teladan paling sempurna adalah Nabi Muhammad,” ujarnya.
Pakar hukum tata negara itu menambahkan, UTM memiliki perpustakaan yang diakui lembaga akreditasi internasional. Prasarana literasi tersebut menjadi roh dari semangat akademik di lingkungan UTM.
Oleh sebab itu, kampus terbesar di Pulau Geram tersebut terekognisi unggul, baik secara institusi maupun program studi (prodi). Capaian tersebut juga mengindikasikan UTM sangat kaya literasi.
”Kami beharap semua civitas academica, baik dosen maupun mahasiswa bisa meningkatkan wawasannya dengan terus meningkatkan budaya literasi di lingkungan kampus,” imbuhnya.
KH Muhammad Cholil Nafis memaparkan, salah satu tantangan besar yang dihadapi mahasiswa Gen Z adalah media sosial (medsos) dan artificial intelligence (AI). Karena itu dapat mendegradasi semangat literasi.
Sebab, mahasiswa bisa semakin malas belajar dan lebih tertarik pada hal-hal yang instan. Sehingga, validitas dan orisionalitas dari karya mahasiswa perlu diuji.
”Mahasiswa yang rajin baca jurnal atau buku ke perpustakan bisa dihitung jari, bahkan hampir tidak ada,” ujarnya.
Pria kelahiran Sampang itu menambahkan, jika tradisi membaca mulai runtuh dari perguruan tinggi, akan berdampak terhadap nilai-nilai akademik. Sebab nilai akademik menjadi sempurna karena budaya literasinya yang baik.
”Nilai akademik menjadi hebat karena literasi juga hebat,” ujarnya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti