BANGKALAN, RadarMadura.id – KH Muhammad Toha memiliki peran penting dalam pendirian jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).
Dari beberapa sumber disebutkan bahwa sebelum menyampaikan aspirasi, puluhan ulama berkumpul di Langgar Jengkebuan.
Mereka bermaksud meminta petunjuk kepada Syaikhona Muhammad Kholil.
Saat itu para ulama menemui KH Muhammad Toha di Jengkebuan. Sebab, kala itu dia yang melanjutkan estafet kepemimpinan di sana.
Sementara Syaikhona Kholil sudah pindah dan mendirikan pondok di Demangan.
”Waktu itu KH Toha juga dilibatkan dalam pendirian NU,” terang Syamsudin Kholili, majelis keluarga Ponpes Al Muntaha Al Cholily, Jengkebuan, Bangkalan.
Dalam susunan PBNU 1926 tercatat bahwa KH Muntaha atau Kiai Toha sebagai mustasyar. Ada tujuh kiai waktu itu yang dipercaya untuk menjadi mustasyar.
Salah seorang di antaranya KH Toha atau KHR Muntaha dari Bangkalan, Madura.
”Beliau juga tercatat dalam kepengurusan PBNU yang pertama sebagai mustasyar,” urainya.
Pada masa hidupnya, KH Toha menerjemahkan beberapa kitab ke bahasa Jawa. Penerjemahan ini untuk mempermudah pemahaman santri dalam proses belajar mengajar.
Setidaknya ada enam kitab yang diterjemah. Seperti kitab fikih, falak, dan kitab manasik haji. (za/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti