BANGKALAN, RadarMadura.id – Pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Blega harus dievaluasi.
Sebab, fasilitas kesehatan (faskes) tersebut diduga mempersulit warga yang ingin mendapatkan layanan kesehatan dengan dalih ruang rawat inap (ranap) sudah penuh.
Moh. Sugianto, warga Desa Alasraja, Kecamatan Blega, mengaku membawa keponakannya ke Puskesmas Blega, Senin (15/4).
Sebab, suhu tubuhnya tinggi. Dia khawatir keponakannya terkena demam berdarah dengue (DBD).
”Semula hendak melakukan pemeriksaan laboratorium. Karena itu, kami datang sekitar pukul 07.00. Tapi, layanan cek laboratorium katanya baru buka pukul 09.00. Karena menunggu terlalu lama, saya memutuskan rawat inap saja. Sebab, kondisi keponakan sudah lemas,” ujarnya.
Namun, petugas di unit gawat darurat (UGD) Puskesmas Blega menolak dengan alasan kamar rawat inap penuh.
Padahal, saat Moh. Sugianto melakukan pengecekan, terdapat tiga ruangan yang kosong.
”Kalau memang tiga kamar ranap yang kosong itu untuk pasien umum, seharusnya disampaikan (kepada kami) secara baik-baik. Jangan menolak pasien, kasihan. Kalau ada pasien datang dengan kondisi kritis, apa tidak mau dilayani dengan dalih kamar ranap penuh,” kesalnya.
Setelah menyampaikan protes, akhirnya keponakannya dipersilakan untuk menempati salah satu ruang ranap yang kosong.
Dia berharap, layanan kesehatan di puskesmas yang terakreditasi paripurna tersebut dibenahi.
”Kejadian seperti ini berulang-ulang. Kasihan kalau insiden ini dialami warga yang benar-benar tidak mampu,” imbuhnya.
Pria yang biasa disapa Sugik itu menambahkan, tiga hari lalu dia juga membawa kerabatnya berobat ke Puskesmas Blega.
Namun, seorang tenaga kesehatan (nakes) menyampaikan kamar ranap penuh. Akan tetapi, saat mengecek satu per satu, ada satu kamar ranap kosong.
”Setelah saya sampaikan ke salah satu perawat senior, akhirnya dipindah. Mau sampai kapan pelayanannya seperti ini, kasihan warga,” imbuhnya.
Kepala Puskesmas Blega Siti Safitri mengakui terdapat keluhan dari kerabat pasien tersebut.
Namun, dia mengeklaim hal tersebut dipicu miskomunikasi antara nakes yang bertugas di UGD dan di ruang ranap.
”Awalnya memang penuh. Kemudian ada pasien yang pulang paksa, sehingga (kamar ranap) kosong. Informasi (pasien yang pulang paksa) itu belum disampaikan ke depan (nakes yang bertugas di UGD),” dalihnya.
Dia membantah sering menolak pasien dengan alasan kamar ranap penuh.
Dia juga mengeklaim tidak pernah membeda-bedakan pasien umum dengan peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) kelas III yang ter-cover dalam program universal health coverage (UHC).
”Kami tidak pernah membeda-bedakan pasien, mulai dari obat maupun kamar ranap,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Nur Hotibah belum dapat dimintai tanggapan secara utuh mengenai insiden penolakan pasien tersebut.
Saat dihubungi melalui layanan telepon selulernya, mantan kepala Puskesmas Kamal tersebut mengaku masih menghadiri acara.
”Masih ada acara tahlilan di Burneh,” ucapnya. (jup/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta