Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Komunitas Masyarakat Lumpur Tampil di Pentas Kesenian Nasional, Kombinasikan Musik Tradisional-Modern untuk Tonjolkan Aspek Lokalitas

Fatmasari Margaretta • Selasa, 19 Desember 2023 | 22:44 WIB

 

KHUSYUK: Anggota Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan saat pentas musikalisasi puisi di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin (11/12). (KOMUNITAS MASYARAKAT LUMPUR UNTUK JPRM)
KHUSYUK: Anggota Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan saat pentas musikalisasi puisi di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin (11/12). (KOMUNITAS MASYARAKAT LUMPUR UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) menampilkan musikalisasi puisi dalam pentas kesenian nasional yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (11/12). Penampilan itu mencuri perhatian para tokoh dan seniman tanah air yang hadir.

Kelompok seniman yang tergabung di KML Bangkalan tampil di pentas kesenian nasional yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik (Kemendikbudristek) Senin (11/12). Kesempatan itu tidak pernah diduga sebelumnya.

Sebab, kesempatan itu datang seminggu sebelum pelaksaaan kegiatan. Pembina KML M. Helmy Prasetya diminta menampilkan musikalisasi puisi dalam acara tersebut.

Baca Juga: Polres Sampang Belum Tangkap Pelaku Rudapaksa terhadap Bocah 8 Tahun, Klaim Sudah Kantongi Identitas

Dia sempat mikir-mikir untuk menerima tawaran itu. Sebab dengan persiapan satu minggu dinilai tidak cukup baginya untuk membawakan penampilan yang bagus dan memukau.

Namun, setelah mendapatkan informasi dari panitia bahwa pentas karya komunitas itu digelar di Taman Ismail Marzuki, dia langsung mengiyakan tawaran.

Apalagi, acara tersebut dihadiri oleh sastrawan ternama di Indonesia. Antara lain, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, dan beberapa pegiat seni lainnya.

Helmy memenuhi undangan itu bersama enam koleganya. Yaitu, Yunita Fendita Astiti, Putra Mulya Nurjaya, Abu Rizal, Syaifi Dwi Cahya, Siswandi, dan Muhammad Syaiful Arief.

Sementara musikalisasi yang dibawakan berjudul Dhamar Celleng (Damar Celleng, Mdr) karya M. Helmy Prasetya.

Musikalisasi tersebut mengombinasikan musik tradisional dengan modern. Tujuannya, menonjolkan aspek lokalitas. Sesuai dengan judulnya, musikalisasi puisi yang ditampilkan juga berbahasa Madura.

Musikalisasi yang dibawakan KML mendapat apresiasi dari para penonton yang hadir. Musik yang mengiringi pembacaan puisi dinilai sangat unik karena menggunakan dug-dug dan klonnong sapi. Jadi, ciri khas Madura-nya sangat tampak.

”Alat musik dug-dug dan klonnong itu juga dikombinasikan dengan alat musik modern seperti gitar dan biola sehingga menjadi lebih mapan,” imbuhnya.

Baca Juga: Bikin Bangga! Kadispendik dan 2 Guru di Sumenep Raih Anugerah Literasi Indonesia

Para seniman yang hadir saat itu sangat menyayangkan KML yang hanya membawakan satu puisi. Padahal, musikalisasi puisi yang dibawakan sangat bagus. Itu artinya, penampilannya sangat diharapkan banyak pihak.

Helmy menyatakan, puisi Dhamar Celleng yang ditampilkan menceritakan sepasang kakak beradik. Tokoh kakak objeknya seorang perempuan, sedangkan tokoh adik perwujudannya laki-laki.

Menurut dia, sebelum aliran listrik seperti saat ini, pada malam hari, Madura gelap gulita. Momen yang paling ditunggu-tunggu yaitu malam tera’ bulan. Namun, suasana itu tidak terjadi setiap malam.

Karena itu, Helmy mencoba mengangkat kisah keluarga seorang kakak yang mencoba memberikan nasihat kepada adiknya agar menjadi anak yang baik. ”Secara personifikasi, puisi Dhamar Celleng adalah lambang anak laki-laki Madura. Ada istilah oreng lake’ Madura itu celleng manis,” paparnya.

Baca Juga: Catatan Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Jawa Timur 2023; Pekerjaan Selanjutnya Memastikan Buku Tepat Sasaran

Sementara yang merancang musikalisasi puisi Dhamar Celleng itu adalah Anwar Sadad. Aransemen musikalisasi puisi yang ditampilkan berangkat dari kejhungan Madura yang memang terkenal sejak zaman lampau.

”Kami sangat bersyukur bisa berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Apalagi, dalam acara itu juga ada pentas sastrawan nasional. Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan,” katanya. (*/jup)

Editor : Fatmasari Margaretta
#bangkalan #Trending #Pentas Karya Komunitas Sastra #pentas kesenian #taman ismail marzuki #seni #Kemendikbudristek #madura #budaya #sastrawan #Komunitas Masyarakat Lumpur