BANGKALAN, RadarMadura.id – Saat usia 40 hari kehilangan ibunda tercinta, lima tahun kemudian ayahandanya juga berpulang ke rahmatullah. Namun, sebagai yatim piatu, Rafly tak putus asa untuk meraih cita-cita.
Hidup Rafly tidak semudah remaja sebayanya. Sedari kecil sudah terbiasa dengan kehidupan yang sangat keras. Apalagi, dia harus hidup tanpa kedua orang tua yang sudah mendahuluinya.
Ibunya meninggal saat Rafly masih berusia 40 hari. Sedangkan sang ayah meninggal saat dia berusia 5 tahun.
Yatim piatu itu kemudian diasuh oleh pasangan suami istri Sakimah dan Tajib. Sakimah merupakan saudari almarhum ibu Rafly. Sejak kecil, dia tinggal bersama bibi dan pamannya itu di Dusun Labang Utara, Desa/Kecamatan Labang, Bangkalan.
Dia disekolahkan oleh keduanya. Mereka menaruh harapan yang amat besar kepada Rafly untuk menjadi orang sukses.
Kepada kedua orang itulah Rafly memanggil emak dan bapak. Sebab, merekalah yang mengasuhnya.
”Emak dan bapak ini buta huruf. Mereka pegang bolpoin saja tidak tahu. Emak hanya bekerja sebagai penjual nasi jagung di Pasar Labang dan bapak bekerja sebagai tukang becak,” kenang Rafly kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Kamis (16/11).
Pagi itu, kami bertemu Rafly Zaka Rulloh di salah satu kafe di area Kamal, Bangkalan. Remaja sederhana berparas tampan itu saat ini masih kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Saat ini masih semester 7 jurusan teknologi rekayasa instrumentasi.
Melihat kondisi ekonomi keluarga, sangat tidak memungkinkan bagi Rafly untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Namun dengan kegigihan dan tekadnya, dia bisa kuliah.
Dia sempat mendaftar di sejumlah perguruan tinggi ternama seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan jalur bidikmisi. ”Alhamdulillah bisa diterima dan kuliah di ITS melalui jalur bidikmisi,” ujarnya.
Sebelum kuliah, dia menyelesaikan pendidikan di SDN Labang (2008–2014), SMPN 1 Labang (2014–2017), dan SMAN 1 Kamal (2017–2020).
Setelah diterima di ITS, Rafly tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia harus bersungguh-sungguh belajar dan menjadi mahasiswa berprestasi. Dia aktif di sejumlah organisasi internal kampus.
Dia juga mencoba peruntungan untuk mengikuti sejumlah kompetisi karya tulis ilmiah (LKTI) di beberapa kampus.
Alumnus SMAN 1 Kamal itu berhasil meraih finalis Top 5 LKTI tingkat provinsi dengan ide membuat cookies/kue kering dari kulit pisang. Selain itu, dia pernah meraih juara pertama LKTI tingkat nasional.
”Tidak ada yang tidak mungkin asalkan ada kemauan,” ujarnya.
Dari situ, dia juga ingin membantu adik-adik lulusan SMA yang masih bingung mau berbuat apa setelah kuliah. Akhirnya, dia memutuskan untuk membangun Komunitas Arah Langkah untuk membantu siswa.
Rafly memutuskan pulang pergi Madura–Surabaya dalam menempuh pendidikannya. Dia ingat betul dengan kondisinya yang serba kekurangan secara ekonomi tidak ingin menambah beban untuk kedua orang tuanya.
Sebab jika dia tinggal di Surabaya, akan banyak biaya yang harus dia keluarkan. ”Jika saya ngekos di Surabaya, rasanya tidak mungkin,” paparnya.
Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Rafly juga bekerja di usaha katering Surabaya. Saat itu dia sebagai pramusaji, mencuci piring, bagian melayani saat ada acara pernikahan ataupun kegiatan lain dengan upah Rp 100–150 ribu.
Dia pernah menjadi guru les privat mata pelajaran matematika, fisika, dan bahasa Inggris.
Tanpa gengsi dan rasa malu, dia juga berjualan online dan jasa titip (jastip) di kampusnya. Setiap masuk kuliah, dia pasti membawa barang-barang yang dipesan oleh teman dan mahasiswa ITS.
Rafly bersyukur dengan semua itu. Sebab, dari situ dia bisa memenuhi semua kebutuhan sehari-hari. ”Meskipun saat ini belum bisa membantu ekonomi orang tua secara penuh,” imbuhnya.
Yatim piatu tak membuat cita-cita padam dan prestasi terpendam. Rafly telah membuktikan itu. Dia berhasil meraih Juara 3 Ajang Kreativitas Majalah Dinding 3 Dimensi tingkat provinsi, Juara 1 Nasional Lomba Fotografi (Stimlog Bandung), dan Lulusan Terbaik 3 Peminatan IPA SMAN 1 Kamal 2020.
Kemudian, Juara 1 Lomba Esai Nasional-Baramuda Essay Competition 2020 di UTM, Finalist of TOP 15 National Essay 2020 di UM, dan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif oleh Kemendikbud 2022.
Selain itu, meraih medali perunggu Kelas Presentasi Pimnas 35 Belmawa UMM 2022, Juara 1 Lomba Esai Nasional UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Juara 2 Lomba Karya Instrumentasi & Kontrol Olimpiade Vokasi Indonesia UNY2022, serta IPK tertinggi pada semester 5 dalam satu departemen.
Baca Juga: Madura Awards Menjadi Tolok Ukur untuk Meningkatkan Prestasi
Dia menjadi delegasi ITS dalam KKN Kebangsaan di Kalimantan Tengah, menjabat sebagai ketua Laboratorium Safety Instrumented System 2023, dan ketua eksternal Lembaga Kajian Kerohanian Islam (LKKI) Teknik Instrumentasi 2023.
Dia juga menjadi juri lomba karya tulis ilmiah salah satu jurusan di ITS. Dari kampusnya, dia mendapat penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi pada Dies Natalis Ke-63 ITS pada 10 Nopember 2023.
Rafly mengajak siswa yang senasib dengannya dari segi ekonomi untuk tidak minder, apalagi putus asa untuk kuliah.
Menurut dia, setiap ada kemauan pasti ada jalan. Selain itu, harus berperilaku baik kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.
Baca Juga: Inspiratif! Andalkan Keripik Segitiga, Perempuan Paro Baya Penuhi Kebutuhan Hidup Keluarga
Atas berbagai prestasi yang diraih itu, Rafly kerap menjadi pembicara di beberapa pelatihan dan seminar.
”Karena kita tidak tahu kebaikan mana yang membantu kita dan mempermudah jalan kita ke depan. Kebaikan bagi seekor semut pun harus kita lakukan,” pesannya. (*/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta