SUMENEP, RadarMadura.id – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep melakukan perpanjangan imunisasi massal atau outbreak response immunization (ORI). Alasannya, target imunisasi belum terpenuhi. Terdapat belasan ribu anak yang belum diimunisasi.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasyah menyampaikan, pelaksanaan vaksinasi massal belum mencapai target. Hingga sekarang terdapat 17.000 anak lebih yang belum diimunisasi.
Dia memerinci, total sasaran imunisasi 73.969 anak, capaian vaksinasi mencapai 56.800 anak atau sekitar 76,8 persen. Masalah ini juga menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mengakhiri status kejadian luar biasa (KLB).
Ellya mengungkapkan, rendahnya capaian vaksinasi di antaranya karena ada penolakan dari sejumlah warga. ”Kami belum bisa memprediksi status KLB campak ini kapan berakhir, sebab kasus baru masih bermunculan,” ujarnya.
Dia menegaskan, penurunan kasus menjadi faktor penentu apakah status KLB bisa dicabut atau perlu diperpanjang. ”Kalau sudah tidak ditemukan lagi dan kasus menurun, baru KLB bisa dicabut,” ujarnya.
Diketahui, jumlah suspek campak di Sumenep tercatat sebanyak 2.782 orang hingga Kamis (11/9). Terdapat 2.688 pasien sembuh dan 20 pasien dilaporkan meninggal dunia. Sementara, 74 pasien yang mayoritas anak-anak masih dirawat intensif.
Kasus campak di Kabupaten Pamekasan juga terus bertambah. Angkanya mencapai 565 kasus suspek, 178 positif, dan 6 meninggal, Sabtu (13/9). Masalah ini mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk Komisi IV DPRD Pamekasan. Legislatif juga mendorong agar imunisasi campak dipercepat.
Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Saedy Romli menyampaikan, kasus campak di Pamekasan relatif tinggi. Tidak sedikit anak yang terpapar campak akibat belum diimunisasi. Dinas kesehatan harus proaktif untuk mengatasi permasalahan campak tersebut.
”Dinkes harus menyelesaikan masalah ini dari hulu ke hilir. Terutama mengenai cakupan presentase imunisasi yang masih rendah,” pesannya.
Plt Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan Avira Sulistyowati menyampaikan, pihaknya sudah menyebar surat edaran untuk penanggulangan kasus campak melalui imunisasi tambahan serentak (ITS). Apalagi jumlah pasien meninggal bertambah satu.
”Untuk pasien meninggal, kita menunggu audit klinis tentang kematiannya bersama tim ahli. Untuk ITS ini kami mulai dari tanggal 15 sampai 27 September,” ungkapnya.
Kepala Puskesmas Tlanakan Henny Setyowati membeberkan, kasus campak di Kecamatan Tlanakan masuk KLB. Dia mencatat, ada 55 anak yang dirawat karena campak. Meski begitu, dirinya optimistis ITS bisa dilaksanakan dengan baik.
Imunisasi akan menyasar siswa TK di 60 sekolah atau 3.334 anak. ”Semoga semua stakeholder bisa berperan dalam penanganan kasus campak ini. Sempat ada penolakan karena masalah kehalalan imunisasi,” pungkasnya. (tif/ay/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti