Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPRS Bhakti Sumekar Berbagi dengan Nasabah 

A
Penulis: Amin Basiri❯
BERBAGI: Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar memberikan hadiah pada pengunjung pertama di kantor pusat BPRS Bhakti Sumekar, Selasa (3/2).
BERBAGI: Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar memberikan hadiah pada pengunjung pertama di kantor pusat BPRS Bhakti Sumekar, Selasa (3/2).

SUMENEP, RadarMadura.id – BPRS Bhakti Sumekar menjadikan momentum Nisfu Sya’ban dengan aksi berbagi dengan nasabah, Selasa (3/2).


Advertisement

Pengunjung pertama di Kantor BPRS Bhakti Sumekar langsung diberi hadiah. Kegiatan itu bagian dari refleksi sosial dan kesadaran finansial umat. 

Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar Hairil Fajar menyampaikan, pemberian hadiah tersebut merupakan kegiatan sederhana.

Tujuannya, sebagai pengingat bahwa spiritualitas harus berjalan beriringan dengan kepedulian dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement

Bagi Hairil, momentum Nisfu Sya’ban menjadi momen evaluasi diri. ”Ini bukan hanya peristiwa religius, tapi ruang perenungan. Di dalamnya ada pesan tentang kejujuran, amanah, dan keberanian mengevaluasi cara hidup terutama di tengah tantangan ekonomi,” ujarnya. 

Menurut Hairil, kegiatan berbagi dengan nasabah sebagai pesan simbolik bahwa bank syariah tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan, tetapi juga mitra sosial masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Bank semakin dekat, manusiawi dan hadir dalam momen reflektif seperti saat menjelang Ramadan. 

Advertisement

Dia mengungkapkan, momentum Nisfu Sya’ban memiliki relevansi kuat dengan literasi keuangan umat.

Hairil menegaskan bahwa literasi keuangan bukan hanya urusan teknis perbankan, melainkan bagian dari kesadaran iman.

Mengelola keuangan secara bijak merupakan wujud nyata nilai amanah dan tanggung jawab.

”Literasi keuangan itu bukan hanya sekadar pintar hitung, tapi sadar nilai,” ungkapnya. 

Selain itu, Hairil juga menyoroti kecenderungan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Menurutnya, bulan puasa kerap bergeser menjadi momentum belanja berlebih, padahal esensi puasa adalah pengendalian diri. 

”Puasa itu menahan, bukan menambah. Kalau Nisfu Sya’ban dijadikan titik sadar, Ramadan seharusnya lebih sederhana, bukan justru boros,” tuturnya. 

Dia menambahkan, spiritualitas tanpa pengendalian diri dalam urusan ekonomi hanya akan melahirkan kelelahan batin.

Menurutnya, malam Nisfu Sya’ban seharusnya menjadi titik perubahan sikap hidup, bukan sekadar seremoni tahunan. 

”Kalau ingin kuat, maka harus kuat perencanaan hidupnya, spiritualitas dan kecerdasan finansialnya,” tandasnya. (tif/bil)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Qlola Mobile BRI Hadir, Nasabah Korporasi Bisa Pantau Keuangan secara Real-Time

Qlola Mobile BRI Hadir, Nasabah Korporasi Bisa Pantau Keuangan secara Real-Time

BRI meluncurkan Qlola Mobile untuk memudahkan nasabah korporasi memantau keuangan dan menyetujui transaksi secara real-time.

Rekening Dormant Diatur Ulang, BRI Tingkatkan Keamanan dan Perlindungan Nasabah

Rekening Dormant Diatur Ulang, BRI Tingkatkan Keamanan dan Perlindungan Nasabah

BRI mengimbau nasabah menjaga rekening tetap aktif melalui transaksi rutin guna meningkatkan keamanan dan perlindungan layanan perbankan.

Sidang Perdata BNI Pamekasan Ditunda Lagi 

Sidang Perdata BNI Pamekasan Ditunda Lagi 

Sidang lanjutan antara BNI Pamekasan dengan salah satu nasabah yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan kembali ditunda kemarin (1/7). 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer