
oleh ACHDIAR REDY SETIAWAN*
”Kita semua memiliki titik terendah. Kalau orang menyebutnya luka, saya menyebutnya pelajaran. Sesuatu yang saya jadikan pegangan hidup saya, tanpa rasa malu. Mungkin setelah kita bisa menganggap itu semua sebagai bagian dari hidup kita, barulah kita melihat ke depan. Karena saya yakin di depan sana, sesuatu yang lebih baik setia menanti”.
EPILOG yang dituturkan memungkasi serial yang tayang di Netflix merangkum semua narasi sinema bertajuk Gadis Kretek. Serial lima episode dengan masa tayang masing-masing kurang lebih satu jam ini memperkaya khazanah dunia seni peran Indonesia. Duet sutradara suami istri Ifa Isfansyah dan Kamila Andini berhasil memaksa saya untuk terus-terusan mengkhatamkan serial ini dalam dua hari.
Penceritaan sinema ini (mengadaptasi novel berjudul sama karya Ratih Kumala) berporos pada sosok Dasiyah, yang karib disapa Jeng Yah (diperankan dengan epik, seperti selalu, oleh Dian Sastrowardoyo). Putri pertama pemilik usaha rokok Idroes Moeria ini adalah figur yang sedari kecil berkecimpung dengan tembakau. Terbentuk oleh didikan natural lingkungan dan DNA bisnis ayahnya, Jeng Yah tumbuh menjadi gadis yang berbakat dalam meracik saus, cengkeh, dan tembakau menjadi satu batang rokok kretek yang bernilai jual.
Bakat yang menonjol pada diri seorang perempuan dalam meracik kretek kala itu (serial ini mengambil setting tahun 1960-1970-an) masih dianggap tabu. Bahkan ada mitos, perempuan dilarang memasuki kamar peracikan karena dipercaya akan merusak aroma kretek yang dirancang. Hasrat untuk mencipta racikan ini, dalam diri Jeng Yah, dalam perjalanan waktu menemukan kesempatannya saat keluarga Idroes kedatangan seorang pemuda bernama Soeraja, akrab disapa Raja. Anak muda yang ternyata pernah bekerja di ladang tembakau ini diselamatkan oleh Pak Idroes dan dipekerjakan di usaha rokoknya.
Di babak awal, serangkaian drama berporos di seputar persaingan bisnis rokok kretek di kota kecil itu. Perjalanan Jeng Yah dengan bantuan Raja meracik sebuah kretek berjaya saat diluncurkan rokok berjenama ”GADIS”. Rokok ini laris di pasaran. Pak Idroes girang bukan kepalang karena produknya berhasil menguasai pasaran di Kota ”M”. Kebersamaan dua sejoli ini pun berujung tumbuhnya asmara di dada keduanya.
Di seri pertengahan, konflik bermula lebih laju saat desir asmara antara Jeng Yah dan Raja berkelindan dengan situasi politik di sekitar 1965-1966. Anasir komunis dilekatkan kepada Pak Idroes Moeria dan putrinya Dasiyah. Konflik yang berujung tewasnya Pak Idroes dan dipenjarakannya Dasiyah membuyarkan mimpi Dasiyah dan Raja membina mahligai rumah tangga. Pada saat yang sama, cita untuk membesarkan pasar rokok kretek racikannya (berjenama GADIS) juga sirna.
Raja yang berhasil lolos dari cap komunis kemudian diselamatkan oleh keluarga Pak Djagat, kompetitor usaha kretek Pak Idroes. Di sinilah pertentangan batin dimulai. Raja yang membangun racikan kretek ”GADIS” bersama dengan Jeng Yah ”dipaksa” menurut untuk mencangkokkannya kepada jenama baru “”DJAGAT RAJA”. Alasan yang melatarinya sederhana saja, Raja ingin Dasiyah dibebaskan dari penjara mengingat Pak Djagat dekat dengan petinggi tentara republik. Cerita semakin kompleks saat hubungan bisnis antara Pak Djagat dan Raja ini berkembang menjadi hubungan mertua dan menantu. Pak Djagat menikahkan putrinya, Purwanti, dengan Raja.
Perasaan cinta sejati Raja kepada Dasiyah yang harus terkubur karena situasi politik inilah yang menjadi beban masa lalu Raja. Di masa tuanya yang sakit-sakitan, Raja ingin melegakan batin dan pikirannya. Semua rahasia yang dipendamnya tentang Dasiyah dan keluarga besar Idroes perlu dicari dan juga diketahui tiga putranya. Di saat vonis dokter sudah agak berat tentang kematiannya, Raja meminta putra bungsunya, Lebas, mencari tahu keberadaan Dasiyah dan keluarganya yang tersisa. Permohonannya sederhana saja: dia hendak menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi dan memohon maaf atas kesalahan yang dia lakukan.
Berdasar petunjuk ayahnya, tibalah Lebas (diperankan oleh Arya Saloka) di Kota M. Bertemulah ia dengan Arum Cengkeh (Putri Marino memerankannya dengan piawai), seorang dokter muda yang akhirnya diketahui adalah putri Dasiyah. Perjalanan menemukan jejak-jejak masa lalu Raya atas Dasiyah ini memenuhi separo akhir serial ini.
Serial ini mengambil latar peristiwa Raja dan Dasiyah muda di tahun 1960-1970-an serta masa tua di sekitar tahun 2000-an. Eksekusi sinematografinya begitu ciamik. Penonton dapat merasakan suasana kebatinan era orde lama dan orde reformasi yang berbeda. Mulai dari tata busana, gedung dan bangunan, makanan hingga keseharian masyarakat sekitar. Terasa kontras dan berbeda. Ifa dan Dini, dalam pandangan saya, benar-benar memperhatikan detail setiap shoot yang disajikan. Suasana industri kecil kretek yang menjadi usaha keluarga Pak Idroes terasa hidup, diiringi tata musikal yang selaras dengan peristiwanya, sinema ini begitu memesona.
Pada akhirnya, sinema ini membawa pesan kuat tentang kemanusiaan. Setiap orang memiliki masa lalunya masing-masing. Tak ada manusia yang sempurna. Rahasia yang bertahun-tahun tersimpan dan membebani pikiran dalam benak Raja pada akhirnya memerlukan penyalurannya. Demi apa? Untuk ikhlas melepaskannya. Berdamai dengan menceritakan apa yang sejatinya berlaku dan meminta maaf jika itu pada akhirnya melukai yang lain. Pada saat yang sama, manusia lain dapat pula mengambil hikmah atas peristiwa di masa lalu.
Deepak Chopra, seorang penulis tersohor pernah menulis: ”Dalam proses melepaskan, kamu akan kehilangan banyak hal dari masa lalu, tetapi kamu akan menemukan dirimu sendiri.” Agama juga mengingatkan untuk mengambil hikmah atau pelajaran atas semua yang terjadi. Pesan Allah SWT dalam Qur’an, ”Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2). Dus, Soeraja yang akhirnya berpulang dalam ketenangan dengan melepas dan memaafkan diri (dan meminta maaf pada yang tersakiti) atas masa lalunya itu memberi hikmah besar. Ada ketenangan dan kedamaian yang menyeruak tatkala berhasil menyibak sisi muram masa lalu. Hal ini membenarkan apa yang pernah dikatakan Gus Dur, ”Memaafkan memang tidak akan mengubah masa lalu, namun memberi ruang yang luas untuk menatap masa depan”. Wallahu a’lam. (*)
*)Pembelajar pada Jurusan Akuntansi, FEB Universitas Trunojoyo Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




