
Oleh HIDAYAT RAHARJA*
LITERASI bukan hanya baca tulis, tetapi lebih jauh kegiatan tersebut mampu mengajak siswa mengembangkan kemampuan melakukan analisis, interpretasi, mengkritisi, dan mencipta. Kegiatan yang tidak mudah dilakukan namun harus dikenalkan kepada siswa sejak mula. Literasi visual salah satu aktivitas siswa untuk menjelajahi berbagai kemungkinan kreatif lewat gambar atau foto untuk dimaknai disampaikan sebagai pesan kepada orang lain.
Literasi visual menjadi salah satu tren di kalangan anak muda dengan berbagai unggahan foto mereka di akun sosial. Mereka berkabar makanan, tongkrongan, traveling, dan lainnya melalui foto atau video yang diunggahnya di Instagram. Bahkan, gambar menjadi salah satu cara kafe untuk menarik pegunjung dengan gambar dekorasi yang menarik, dan tagline instagramable. Suatu hal yang lumrah jika kemudian di antara mereka mengunggah gambar (foto) sebagai kabar bagi orang lain.
Setiap Jumat pagi kami melakukan kegiatan literasi dengan berbagai tema yang kami atur supaya tidak membuat mereka jenuh. Sekali waktu mereka lakukan kegiatan menulis atau mengarang cerita, di waktu yang lain menonton film dan mengomentarinya, atau sekadar bercerita tetang buku yang dibaca. Pilihan ini dilakukan, karena anak-anak kami tidak begitu akrab dengan buku, tetapi sangat akrab dengan media sosial dan internet.
Bamford (2003:1) mengemukakan bahwa literasi visual mencakup kemampuan membaca dan menyusun sebuah pesan visual. Bahwa literasi visual merupakan kemampuan seseorang dalam mengambil gambar sebagai pesan yang disampaikan kepada orang lain, di dalamnya mencakup kemampuan menginterpretasi makna dari gambar atau pesan visual yang diterimanya.
Literasi visual adalah pemahaman yang lebih dalam menginterpretasi dan menangkap suatu makna dari informasi yang berbentuk visual atau gambar. Literasi visual ada, karena muncul pemikiran bahwa sebuah gambar itu dapat dibaca. Artinya, bisa dikomunikasikan dari proses membaca (https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-literasi). Kemampuan melakukan literasi visual perlu dimiliki setiap orang, sehingga mereka mampu memaknai atau mengartikan objek gambar yang dilihatnya. Kemampuan untuk melihat, memahami, dan menafsirkan serta mengomunikasikan dengan orang lain.
Pada 11 Agustus 2023, kami melakukan kegiatan literasi menggunakan kamera ponsel mengambil gambar atau foto lingkungan sekolah yang menarik. Foto menarik bisa berarti karena nilai keindahannya, bisa juga karena permasalahan atau pesan persoalan yang ada di dalamnya. Hasil foto ini penting sebagai karya yang berhubungan dengan minat dan ketertarikan setiap siswa. Maka, setiap anak memberikan caption pada foto yang diambil di lingkungan sekolah, lalu diunggah di akun Instagram yang dimiliki. Objek yang diambil dibatasi, yakni semua yang ada dalam lingkungan sekolah.
Pohon sebagai Lambang
Beberapa objek yang mereka potret antara lain, tanaman bunga, pohon, bangunan, batu, dan manusia. Ada objek tampilan sekadar ditampilkan sebagai objek itu sendiri tanpa ada tambahan informasi, seperti tentang manfaat pohon bagi kehidupan manusia. Tetapi, ada juga yang memberi caption berkaitan dengan nilai filosofis yang ada hubungannya dengan objek foto, dan ada yang memberikan caption tidak berhubungan dengan foto. Aya mengambil objek pohon sebagai simbol yang mereka gunakan untuk mengungkapkan sesuatu seperti berikut; ”Hiduplah seperti pohon yang berbuah lebat, hidup di tepi jalan, dan ketika dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah” (Aya).
Ila mengambil gambar foto bangunan dan pohon bidara di depan kelas XII IPS menuliskan caption bahwa saat ini gambar hanya menangkap peristiwa, sekadar peristiwa dan dalam jangka waktu tertentu peristiwa dalam gambar akan menjadi ingatan dan kenangan yang menyimpan berbagai memori yang menyertainya. ”Foto hanyalah gambar yang lama-kelamaan akan menjadi kenangan.”
Pohon sebagai Fungsi
Sandiaulia mengambil objek pohon bidara di depan kelas dan ia hanya melihat pohon bidara sebagai pohon yang memberikan fungsi bagi manusia sebagai peneduh, tempat yang sejuk dan indah karena bagian ranting-rantingnya dipangkas melingkar sehingga berbentuk seperti payung. Sementara Alfianingsih melihat pohon bidara sebagai pohon yang selalu hijau buah dan daunnya banyak memberikan manfaat kesehatan dan konsumsi bagi manusia seperti untuk mengatasi demam dan alergi pada kulit.
Baca Juga: Senja Kala Kampung Batik Klampar
Akun dedeckgemoy87 juga sama, melihat pohon dari fungsi yang diberikan kepada manusia. Bidara sangat bermanfaat bagi sekolah dan manfaatnya juga banyak dan kita dapat berteduh di bawah pohon bidara ini dan juga bidara ini daunnya bisa dibuat teh, tidak hanya teh, sabun pun bisa, dan bijinya juga bisa dibuat kopi begitu banyak manfaatnya bagi kesehatan dan juga bagi SMAN 1 Omben. Fadil menulis pohon depan kelas. Judul yang sangat sederhana tanpa ada keterangan lain, sehingga penikmat bisa secara leluasa memaknainya sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan tentang pohon yang jadi objek foto.
Bunga
Ana Yulia (anayulia_s) menuliskan caption yang berhubungan dengan karakter pohon dan dijadikan sebagai nilai filosofis kehidupan manusia, :”Karakter itu seperti pohon dan reputasi seperti bayangannya. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan tentangnya dan pohon adalah apa nyatanya.” Sebuah perbandingan antara pohon dan sifat manusia. Kesamaan antara dua makhluk yang berbeda tetapi memiliki nilai filosofis yang sepadan.
Foto sudut Taman karya xf_ninz. Dia menulis ”Hanya Ada Satu Sudut Alam Semesta Yang Bisa Anda Pastikan Untuk Ditingkatkan, Dan Itu Adalah Diri Anda Sendiri”. Ninz membuat sebuah refleksi dari foto taman yang diunggahnya dan melihat bahwa sudut taman merupakan cermin kecil dari sudut semesta dan tidak lain dirinya sendiri. Semesta sebagai makrokosmos dan diri sendiri sebagai mikrokosmos, sehingga ia melihat pantulan semesta dalam dirinya.
Foto Bangunan
Lia menulis caption: ”sekolahku yg aku suka.” Bagiku di depan kelas sangat aku suka karena tempatnya sejuk dan tenteram walaupun pelajarannya sangat melelahkan tapi sangat menyenangkan. Aisyah mengambil foto bangunan sekolah tampak depan –menuliskan Dengan semangat baru... /Gedung ini mungkin saja bisa berubah/ tapi tidak dengan kenangannya//.
Linda memotret bangunan gedung bertingkat tepat pada bagian tangga. Sudut pandang yang berbeda dan fokus pada tangga bangunan yang berkelok sebagai simbol dan pengingat saat salat Duhur tiba, karena di ruang aula difungsikan sebagai tempat salat bersama.
”Tangga ini mungkin berkarat
Tapi tangga ini mengajarkanku untuk sholat tepat waktu”
Widi mengambil foto bangunan utama sekolah tampak depan, gambar langit dengan pancaran sinar matahari yang mulai memanas dengan lugas ia menuliskan: ”Sejauh mata memandang indahnya langit biru, bersama cahaya matahari yang menyengat, sekolah baru tantangan baru, mari kita hadapi dengan semangat.”
Silfia mengunggah foto dalam posisi miring dan dengan singkat menuliskan caption: ”Railah prestasimu demi masa depanmu.”
Foto Langit
Selain mengambil dan mengunggah foto bangunan dan pohon, sebagian siswa mengambil foto langit. Langit sebagai lambang dan langit sebagai hamparan pesona yang membentang luas imajinasi dan gumpalan awan berarak mengikuti arah angin. Aku _fiyzx mengunggah foto langit yang diambil dari halaman belakang gedung sekolah. Ia secara lugas memberikan alasan kenapa tertarik dan mengunggah foto langit biru: ”Mengapa saya foto langit karena cita-cita saya setinggi langit.”
Tidak jauh berbeda ungkapan yang disampaikan Mufar Rihana menjadikan langit sebagai lambang cita-cita. Mengapa setinggi langit? ”Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit / Bermimpilah setinggi langit / Jika engkau jatuh, engkau jatuh di antara bintang-bintang. Sedangkan Habiburrahman (habiburrahmanelz) mengunggah foto atap ruang kelas, pohon dan langit. Tiga komponen yang dilambangkan sebagai tiga komponen ekosistem di lingkungan sekolah yang berjuang untuk mempertahankan esksistensinya. Secara lugas habiburrahman menuliskan: ”sekolah adalah bukti nyata sebuah perjuangan.”
Batu
Selain foto bangunan, tanaman dan langit, ada hal lain yang menarik siswa saat melakukan literasi visual yang mengambil foto batu di depan kelas. Satu-satunya foto yang diunggah Ghofar. Di bawah foto Ghofar menuliskan,: ”sekeras-kerasnya batu akan hancur juga oleh tetesan air.”
Foto Selfie
Selfie atau swafoto salah satu fenomena yang sangat dominan di era digital. Saat berkumpul atau datang pada suatu acara di suatu tempat adalah suatu hal yang tidak bisa dilupa untuk dilakukan foto selfie. Saat literasi visual, ada beberapa siswa yang mengambil dan mengunggah foto selfie sebagai hasil pembacaan mereka terhadap apa yang biasa dilakukan di lingkungannya.
Akun kopi_paitt.ye mengambil foto selfie berupa siluet di bawah sinar matahari pagi. Foto dirinya, tentang dirinya, sebuah keberanian untuk menyatakan eksistensi. Di bawah foto yang diunggahnya dia menuliskan,: ”mulai sekarang berhenti mencemaskan sesuatu, karena realita hidup ini hanya dua pilihan antara sabar tanpa tapi atau syukur tanpa tapi.” Sementara segerombolan siswa kelas XI IPS mengambil foto selfie di depan kelas dengan berbagai gayanya yang santai, di samping fotonya mereka menuliskan; ”Kami semua sangat berbahagia berkumpul bersama-sama di sekolah.”
Betapa tidak mudah untuk membangun literasi di sekolah, apalagi para siswa dan guru tidak terbiasa dengan kegiatan membaca. Maka, mencari berbagai kemungkinan dilakukan untuk merangsang dan menarik minat siswa terhadap dunia literasi. Kami mulai dari kebiasaan siswa sehari-hari dengan literasi visual, mereka belajar mengamati lingkungan, mengambil gambar dan memberinya caption. Sebuah upaya kami bersama tim literasi untuk memberikan jeda di antara kesibukan mereka (siswa) mengerjakan tugas-tugas pembelajaran yang melelahkan.
Apa yang kami lakukan hanya membuat jeda mereka dari berpikir yang menjenuhkan menjadi lebih longgar dan bebas, sehingga sangat mungkin di antara mereka saat melakukan kegiatan literasi visual tidak menyerahkan tugas karena tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Setidaknya, mereka kenal literasi bukan hanya baca buku dan menulis, tetapi ada literasi visual untuk memahami bahwa foto bukan hanya gambar, tetapi di dalamnya ada pesan yang bisa dibaca, ada persoalan yang bisa didiskusikan bersama untuk mencari jalan keluar.
Bahwa undang-undang telah memberikan aturan-aturan dalam penggunaan foto dan bahkan sanksi terhadap penyalahgunaan foto atau gambar yang merugikan pihak lain. Di dalam Pasal 27 Ayat 3 UU ITE menyebutkan bahwa pelaku pelanggaran yang menyebarkan video tanpa izin dalam bentuk foto atau video bisa mendapat hukuman berat. Sehingga, mereka bisa bersikap kritis secara visual apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Meski sampai saat ini kajian tentang penguasaan literasi visual masih terbatas (Palmer & Matthews, 2015:2). Sementara itu, perkembangan media informasi sangat mengandalkan aspek visual dalam berkomunikasi sehingga kemampuan untuk dapat memahami sebuah gambar (visual) sangatlah penting.
Maka, kerja remeh mulai dari mengambil gambar, memberi caption, dan kemudian diunggah di akun Instagram mereka merupakan sebuah upaya sederhana untuk mengasah kemampuan menangkap gambar, memberikan pesan (caption), dan diunggah untuk dikomunikasikan dengan orang lain. Proses sederhana dan jika dilakukan secara rutin memiliki makna penting dalam pengembangan kecakapan visual dan kemampuan berpikir kritis terhadap apa yang dilihat dan disampaikan kepada orang lain. (*)
*)Guru dan diberi tugas sebagai pengelola di SMAN 1 Omben
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




