
Oleh MUHAMMAD AUFAL FRESKY
NAMA Kampung Batik Klampar sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar warga di Pamekasan. Di dalamnya terdapat ratusan bahkan sampai ribuan pelaku UMKM batik, termasuk juga perajin batik.
Sebagai salah satu warga Klampar, saya merasa terpanggil untuk menuliskan tentang nasib kampung ini. Bagaimanapun, saya lahir, tumbuh, dan besar di Klampar. Pastinya, sedikit banyak memahami terkait kultur dan realitas sosial yang ada di Klampar. Memang, sebagian besar warganya berprofesi sebagai pelaku UMKM batik dan perajin batik.
Dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata budaya, saya rasa perhatian pemangku kekuasaan perlu lebih intens lagi terhadap kampung ini. Sebab, saya mengamati, lambat laun di Klampar mulai terjadi krisis perajin batik. Bahkan, hal tersebut sudah terjadi sejak beberapa tahun ke belakang. Sebagian lagi, warga memilih beralih profesi dari pedagang batik atau perajin batik ke profesi lain. Salah satu alasannya, industri batik mulai lesu.
Hal tersebut berpengaruh langsung pada permintaan batik yang mulai merosot tajam. Lebih-lebih ketika dilanda pandemi Covid-19 dua tahun lalu, Kampung Batik Klampar seolah sepi tanpa pengunjung. Meskipun ada, itu bisa dihitung dengan jari.
Melihat kondisi yang sedemikian rupa, kita tak bisa langsung menuduh pemerintah pusat maupun daerah sebagai satu-satunya biang keladi terjadinya kemerosotan pengunjung. Hemat saya, menyikapi hal tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi. Termasuk juga pola konsumsi para pembeli di era sekarang.
Tak bisa dipungkiri lagi, kemajuan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi juga berpengaruh terhadap jumlah pengunjung yang datang ke Desa Klampar. Lebih-lebih generasi muda sekarang yang bisa dikatakan sebagian besar menginginkan segala sesuatunya secara praktis dan instan. Termasuk dalam membeli sebuah produk.
Generasi muda saat ini cenderung melakukan proses jual beli yang dianggapnya lebih efektif, fleksibel, dan efisien. Era sekarang berbeda jauh dengan era-era sebelumnya. Belum lagi ancaman dari produk tekstil impor yang harganya jauh lebih murah dibandingkan batik. Ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM batik untuk menghadapi realitas zaman yang begitu kompleks dan dinamis.
Semua pola-pola penjualan konvensional cepat atau lambat akan ditinggalkan. Meskipun tidak sepenuhnya, tapi percayalah, jual beli di dunia maya jauh lebih menjanjikan bagi konsumen. Sebab, dari sudut pandang konsumen, memilah dan memilih produk, termasuk batik di marketplace ataupun di media sosial, jauh lebih hemat. Mereka bisa menghemat waktu, tenaga, bahkan uang.
Sementara bagi pelaku UMKM batik di Desa Klampar yang menutup diri dari perubahan zaman, pasti akan ketinggalan. Di sisi lain, hal itu menjadi peluang emas bagi para pelaku UMKM batik di Desa Klampar untuk memperluas jangkauan pemasaran dan menjalin networking dengan berbagai pihak. Pilihannya hanya dua, menutup diri atau membuka diri terhadap perubahan.
Selain itu, ada beberapa faktor yang saya rasa juga menjadi penyebab sepinya Kampung Batik Klampar. Di antaranya:
a) Tata kelola dari BUMDes Klampar yang kurang profesional. Sepengetahuan saya, BUMDes yang diberikan amanah oleh Pemkab Pamekasan mengelola Gedung Sentra Batik Klampar. Gedung tersebut menghabiskan anggaran miliaran rupiah. Setahun lebih sejak diresmikan, namun jumlah pengunjung sangat sedikit. Hanya beberapa kegiatan yang pernah ada di tempat tersebut. Bahkan, ada beberapa ruangan yang digunakan oleh anak-anak muda sebagai arena bermain bulu tangkis. Bukankah itu penyalahgunaan fungsi?
b) Pemkab Pamekasan seolah tidak mau ikut cawe-cawe terhadap penggunaan gedung tersebut. Seolah melemparkan tanggung jawabnya ke BUMDes. Padahal, gedung tersebut sangat potensial untuk mendatangkan wisatawan dari berbagai pelosok tanah air.
c) Tidak adanya audit dan evaluasi dari pemerintah pusat terkait penggunaan gedung tersebut. Dan tentunya, masih banyak penyebab lainnya.
Saya pribadi menyayangkan betul, gedung yang menjadi kebanggaan warga Pamekasan, khususnya warga Klampar dibiarkan begitu saja. Seolah setelah membangun semua selesai. Padahal tanggung jawab yang paling berat adalah pasca pembangunan. Yaitu, bagaimana mengisi gedung tersebut dengan berbagai kegiatan produktif. Terutama dalam rangka melestarikan budaya batik.
Jadi, selain masalah penggunaan gedung Sentra Batik Klampar yang tidak optimal, masalah regenerasi perajin di Klampar juga perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Baik pemerintah pusat dan daerah tentunya. Ini bukan hanya eksistensi Kampung Batik Klampar. Lebih dari itu, bagaimana agar batik terus lestari dari generasi ke generasi.
Jika tidak ada yang membuat batik, cepat atau lambat batik Madura, khususnya batik Pamekasan bisa punah. Dan, tentunya kita tidak berharap hal itu terjadi. Sebisa mungkin kita harus menangkal kepunahan batik sedini mungkin. Ini memerlukan sinergi semua pihak, terutama keberpihakan pemerintah selaku pemangku kekuasaan.
Rasa-rasanya pemerintah pusat perlu turun tangan untuk menstimulus perajin batik dan pelaku UMKM batik di Desa Klampar agar kembali menggeliat. Perlu taktik dan strategi khusus yang sesuai dengan realitas zaman untuk membuat Kampung Batik Klampar ramai pengunjung. Sepertinya perlu tim khusus untuk kembali merancang dan membangun ulang Klampar sebagai kawasan destinasi wisata yang menarik.
Selain itu, perlu dilibatkan pemuda setempat yang potensial untuk ikut serta membangun Klampar sebagai kawasan wisata budaya. Sebab, ide-ide kaum muda biasanya lebih progresif. Sebelum terlambat, mari hidupkan kembali Kampung Batik Klampar. (*)
*) Owner ANEKA Batik Tulis Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




