Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kiai Homaidy dan Gerakan Seni

D
Penulis: Dafir.❯
Homaidy Ch (kanan) foto bersama Muhammad Affan Adzim (dua dari kiri), Ahmad Muhli Junaidi (kiri), dan Lukman Hakim AG bersama anggota Sanggar Tikar SMA 3 Annnuqayah setelah bedah buku Tora.
Homaidy Ch (kanan) foto bersama Muhammad Affan Adzim (dua dari kiri), Ahmad Muhli Junaidi (kiri), dan Lukman Hakim AG bersama anggota Sanggar Tikar SMA 3 Annnuqayah setelah bedah buku Tora.

Oleh Muhammad Affan Adzim*


Advertisement

SETELAH Kiai A. Pandji Taufiq dilantik sebagai ketua PCNU Sumenep periode pertama, pertengahan 2012 saya diminta untuk menakhodai Lesbumi. Orang pertama yang saya ingat ketika itu adalah Homaidy Ch. Pikir saya, dia satu-satunya teman yang paling memungkinkan untuk dihubungi, diajak, sekaligus diminta bantuannya.

Lewat Kiai Homaidy, saya berharap nanti bisa tersambung dengan teman-teman seniman Sumenep. Maklum, sepulang dari Malang pada 2006, aktivitas saya lebih banyak bergerak di wilayah isu lingkungan bersama almarhum Kiai Zamiel El Muttaqien di Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) Pondok Pesantren Annuqayah (PPA), selain juga membentuk kelompok diskusi dan bergabung di Sekolah Filsafat asuhan Kiai Muhammad Mushthafa di Sabajarin. Sementara untuk jaringan seniman dan komunitas sanggar di Sumenep, saya adalah orang yang awam. Saya pendatang baru di bidang ini.

Homaidy Ch mengantarkan kelompok binaan belajar membuat keripik ke Pak Dirman di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, Sumenep.
Homaidy Ch mengantarkan kelompok binaan belajar membuat keripik ke Pak Dirman di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, Sumenep.

”Kita segera ke Eeng (Mahendra Cipta) dan Midi (Turmedzi Djaka)”. Itu kalimat almarhum yang saya dengar kali pertama. Kurang dari seminggu setelah saya menghubungi kali pertama, berangkatlah kami berdua menuju rumah Mahendra. Masih terekam baik, waktu itu malam Senin, jalanan agak gerimis dan licin. Homaidy mengemudikan motor, saya bonceng di belakang.

Sesampai di sana, setelah saling bertegur sapa, kami pun berdiskusi. Rupanya Mahendra sudah tahu maksud kedatangan kami karena sebelumnya Kiai Homaidy sudah mengabari. Sehingga, setiba di sana dia sudah tidak butuh prolog lagi.

Advertisement

Dua orang ini adalah sahabat lama. Mereka teman seperjuangan di ranah seni dan budaya. Malam itu saya merasa seperti orang asing, serasa anak kecil di antara dua orang pelaku seni berpengalaman yang sudah lama malang melintang. Saya tidak begitu dekat dengan Mahendra. Saya tahu dan kenal orang ini sekadarnya saja. Ini tentu barokah-nya Kiai Homaidy.

Seperti mahasiswa semester pertama yang baru ikutan demo, kami langsung berdebat, saling melempar argumentasi sambil berapi-api. Terutama Mahendra, dia tampak begitu bersemangat dan antusias. Malam itu saya sangat senang. Isyarat kebangkitan anak-anak muda berkesenian sastra dan drama telah menyeruak aromanya.

Photo
Photo

Misi pertama telah berhasil. Seminggu berikutnya kami bersiap-siap menuju kediaman Kiai Turmedzi Djaka. Kali ini Mahendra juga ikut bersama. Ini juga atas saran Kiai Homaidy. Sesampai di sana, kami bertiga merayu agar Kiai Turmedzi mau. Ternyata benar seperti dugaan, Kiai Djaka siap bergabung bersama kami, menakhodai lahirnya MSP, Masyarakat Seni Pesantren.

Kiai Turmedzi Djaka adalah teman seperjuangan Kiai Homaidy Ch saat keduanya berkarir bersama membesarkan kelompok musik Semedi Dzikir sekitar. Jauh sebelum itu, Kiai Homaidy membangun Sanggar Tirta di pusat keramaian Kecamatan Ganding, menampung dan membina anak-anak muda berbakat seni di sekitar sana. Puncak karirnya, ia menggagas Temu Penyair Madura, bertempat di PP Sumber Payung, Ganding, Sumenep. Pertemuan itu, diakui atau tidak, adalah titik tolak lahirnya gerakan seniman penyair Madura di masa-masa berikutnya. Di mata kami, Kiai Homaidy adalah katalisator kebudayaan.

Photo
Photo

Beberapa tahun terkahir, sembari membina Sanggar Tikar di SMA 3 Sabajarin, Kiai Homaidy tinggal di hutan Assalam. Di sana ia merawat lingkungan, membatik, beternak kambing, dan menjaga kebun mete. Almarhum juga sempat membentuk sekolah alam. Khidmahnya di situ atas permintaan almarhum Kiai Zamiel El Muttaqien yang secara kelembagaan peran tugas mendiang berada di bawah naungan BPM PPA, Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah.

Advertisement

Dua tahun yang lalu, saya dan teman-teman sempat menyertai perjuangannya merintis Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia MWCNU di kepulauan Raas, Sapudi, Ganding, dan Pasongsongan.

Perjuangan belum selesai, kini Kiai Homaidy telah berpulang. Jejak kebaikannya selama ini begitu terasa mendalam. Pengabdian dan kebaikannya tampak di mana-mana. Homaidy Ch adalah sosok pejuang, teman yang rendah hati dan selalu lucu. Hidupnya yang sederhana begitu rapi menyembunyikan perannya yang besar. (*)

*)Aktif di Gusdurian Sumenep, tinggal di Sabajarin Guluk Guluk

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

PCNU Sumenep Desak Pemkab Tutup THM Langgar Izin

PCNU Sumenep Desak Pemkab Tutup THM Langgar Izin

Katib Syuriyah PCNU Sumenep KH Muhammad Bahrul Widad secara tegas meminta seluruh tempat hiburan atau kafe yang beroperasi tapi tidak sesuai izin untuk ditutup.

Lesbumi PCNU Sumenep Gelar Malem Salekoran, Perkuat Ekosistem Kesenian di Kota Keris

Lesbumi PCNU Sumenep Gelar Malem Salekoran, Perkuat Ekosistem Kesenian di Kota Keris

Lesbumi PCNU Sumenep menggelar Malem Salekoran bertema Titik Koma Kesenian Sumenep di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer