SAMPANG, RadarMadura.id – Menu makan bergizi gratis (MBG) di SDN Rongtengah 2 Sampang menuai polemik. Wali siswa mengeluhkan salah satu menu MBG yang dibagikan pada Senin (9/3) karena ditemukan ulat atau belatung.
Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), MBG di SDN Rongtengah 2 didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dalpenang, Sampang.
Menu yang diberikan berupa paket makanan kering dengan porsi kecil, terdiri dari susu, jeruk, roti, bandeng presto, dan puding.
Namun, diduga salah satu porsi menu yang diterima siswa terdapat belatung pada bandeng presto. Hal itu langsung menuai protes dari wali murid.
Kepala SDN Rongtengah 2 Sampang Saeri membenarkan adanya temuan tersebut. Menurut dia, belatung ditemukan pada menu bandeng presto milik salah satu siswa. "Menu MBG yang ditemukan ulat itu dibagikan pada Senin (9/3),” ujarnya.
Dia menjelaskan, paket MBG yang dibagikan saat itu merupakan jatah untuk tiga hari. Total penerima manfaat di sekolah tersebut sebanyak 116 siswa. Namun, dari jumlah itu hanya satu porsi yang diketahui terdapat belatung.
"Secara fisik kami tidak mengetahui langsung. Kami hanya menerima kiriman video dari wali siswa kelas dua,” katanya.
Saeri menjelaskan, menu MBG tersebut dibagikan sekitar pukul 09.30 dan langsung dibawa pulang oleh siswa.
Setelah menerima video dari wali siswa, pihak sekolah segera menindaklanjuti dengan menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak SPPG.
"Menunya terdiri dari susu, jeruk, roti, ikan presto, dan puding. Hanya satu porsi yang terdapat ulat,” jelasnya.
Menurut dia, setelah keluhan disampaikan, pihak SPPG langsung merespons dan mengganti menu yang bermasalah tersebut.
Baca Juga: Kapus Banyuanyar Klaim Miskomunikasi dan Tak Persulit Pasien
"Hanya satu menu yang diganti oleh SPPG karena dikeluhkan ada ulatnya. Selama ini tidak pernah ada keluhan seperti ini,” ujarnya.
Pihak sekolah berharap, SPPG lebih serius memperhatikan kualitas menu sebelum didistribusikan kepada siswa. Hal itu penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Kami berharap menu yang kurang layak tidak disalurkan. Harus benar-benar diperhatikan sebelum diberikan kepada siswa,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Dalpenang Athoullah mengakui adanya satu porsi menu MBG yang ditemukan ulat seperti yang dikeluhkan wali siswa.
Namun, pihaknya mengaku langsung mengganti menu tersebut. "Hanya satu porsi yang kami ganti sesuai keluhan pihak sekolah,” ujarnya.
Athoullah menjelaskan, ikan bandeng presto yang ditemukan berulat tersebut merupakan produk jadi yang disuplai oleh pelaku UMKM lokal, bukan dimasak langsung oleh dapur SPPG. Keterlibatan UMKM dilakukan sebagai bentuk pemberdayaan produk lokal.
"Pasokan menu ikan itu datang ke dapur kami terlambat, sekitar pukul 01.00 dini hari. Meski begitu, sebelum didistribusikan, semua menu sudah melalui proses sortir,” ungkapnya.
Dia mengeklaim, menu yang dinilai tidak layak langsung dibuang. Namun, kemungkinan ada satu ikan yang terlewat dari proses penyortiran sehingga lolos dan ikut terdistribusi. "Yang jelas, ikan tersebut murni produk suplai UMKM, bukan hasil olahan dapur kami,” katanya.
Athoullah berjanji akan melakukan evaluasi terhadap seluruh petugas SPPG. Ke depan, pihaknya akan memperketat proses penyortiran makanan, terutama yang berasal dari produk UMKM. "Kami akan memperketat kembali proses sortir menu ke depan,” tandasnya. (bai/han)
Editor : Amin Basiri