Penulis: Carlos Maria Dominguez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan pertama: September 2016
Cetakan kedua: Desember 2018
ISBN: 978-979-1260-62-6
RadarMadura.id – Betapa kata-kata memiliki kekuatan. Banyak hal terjadi di luar nalar karena seucap kata atau segores tinta.
Tak heran bila dalam buku ini dikatakan bahwa buku berbahaya. ”Buku mengubah takdir hidup orang-orang.”
Semua kisah ini berawal dari buku La Linea de Zombra. Karya Joseph Conrad yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol itu tergeletak di atas meja, penuh debu dan sisa semen yang melekat pada sampulnya.
Buku itu ditujukan kepada Bluma Canon, dosen sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge. Namun, nasib tak mampu menakdirkan buku itu sampai ke tangannya. Sebab, ajal terlalu cepat menjemput Bluma.
Perempuan asal Inggris itu meninggal ditabrak mobil saat sedang membaca buku puisi Emily Dickinson pada halaman kedua di tikungan jalan pertama toko buku di Soho.
Semasa hidup, Bluma pernah berkata kepada asistennya bahwa seandainya ia ditakdirkan mati, ia akan mati saat membaca puisi Emily Dickinson.
Dalam pengantar buku itu, Conrad menegaskan: ”Dunia orang hidup berisi cukup keajaiban dan misteri sebagaimana adanya –keajaiban dan misteri yang menindaki perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan.”
Bukan hanya soal misteri. Buku itu juga mengisahkan para bibliofili (pencinta buku) dengan berbagai metode baca yang memukau. Lalu, sampai pada seorang kolektor buku yang paling gila, yaitu Carlos Brauer.
Ia mengabdikan hidupnya pada buku. Rumahnya sesak dengan buku. Di ruang tamu, ranjang, bahkan di celah-celah kamar mandinya berisi buku.
Hingga suatu ketika, ia mengasingkan diri dari hiruk pikuk keramaian. Ia membangun rumah dari puluhan ribu bukunya di daerah terpencil menghadap laut. Di sanalah dia menghabiskan masa tua dan kegilaannya seorang diri.
Brauer memiliki cara peletakan yang unik terhadap buku-bukunya. Buku yang berjumlah puluhan ribu eksemplar itu diberi indeks.
Penulis yang berkonflik tidak disejajarkan di rak. sementara penulis yang memiliki kesamaan gaya atau bersahabat, bukunya disandingkan di rak yang sama.
Dari buku ini, kita bisa belajar berbagai cara dalam membaca. Untuk meningkatkan daya ingat, ketika membaca, kita bisa sambil mencoret hal-hal yang dianggap penting atau menuliskan kembali di kertas lain, lalu ditaruh di halaman yang kita baca.
Selain itu, membaca dalam hati, dalam suasana hening dengan cahaya lilin atau dengan iringan instrumen musik yang tak begitu nyaring. Semua itu akan memiliki kesan berbeda.
Buku ini mampu menggugah semangat baca. Jika kamu lagi malas atau menunda-nunda waktu untuk membaca, bacalah buku ini! (in)
Editor : Ina Herdiyana