Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Beragam Kegelisahan dalam Metafora Garam dan Cinta

Abdul Basri • Senin, 14 Agustus 2023 | 01:30 WIB
Istimewa
Istimewa

BUKU antologi puisi Garam Mengaku Ikan, Cinta Merampas Metafora yang ditulis oleh penyair Ali Ibnu Anwar ini mengangkat beragam tema kegelisahan. Seperti halnya laut, hujan, gunung, cinta, kemanusiaan, dan hal-hal yang berkaitan dengan ekologi. Dalam buku antologi puisi ini, penulis memberikan pesan satire yang dikemas dengan halus dan indah.

Buku ini menghimpun 41 judul puisi dengan gaya bahasa yang khas digunakan penulis. Penulis buku ini merupakan penggagas Komunitas Ranggon Sastra, Jakarta. Yang saat ini bergiat di tempat kelahirannya–di Jember sebagai petani sekaligus editor lepas. Buku puisinya yang berjudul Tanah tanpa Biografi pernah menjadi manuskrip buku puisi yang tercatat sebagai Manuskrip Unggulan Dewan Kesenian Jawa Timur (2021).

Puisi sering menyentuh realitas hidup, dan puisi yang baik, terlepas dari subjektivitas. Seorang penulis harus pandai membawa pembaca untuk berpikir pada apa yang ada di dalam teks sampai ke luar dari teks. Seperti penyair Ali Ibnu Anwar ini, puisinya cukup berhasil merangsang pembaca, meski tidak terlalu sulit untuk dipahami, tapi diksi-diksi yang digunakan tidak juga terlalu sederhana.

Penulis buku ini lahir di Jember, jadi tidak heran lagi jika puisi-puisinya menyentuh tentang Madura. Sebab, di Jember mayoritas masih menggunakan bahasa Jawa dan Madura. Apalagi, penulis pernah mondok di Pesantren Al-Amien Prenduan, yang atmosfer literasinya mendukung kegiatan kreatif. Sehingga, bisa mendorong santri untuk progresif dalam menulis. Kita dapat mengenal penyair Ali Ibnu Anwar melalui puisinya di bawah ini:

 

menggarami garam

apakah itu gunung salju?

Bukan! Itu gundukan rindu.

 

mimpi-mimpi dibatasi petak-petak tanah

dalam pekik harapan bernanah.

 

tambak-tambak garam tumbuh dari

endapan-endapan luka yang meruam.

matanya genangan ketakutan yang

digarami sayatan sedalam lautan.

 

apakah itu perih air mata?

bukan! itu bahasa jiwa.

 

air laut yang beku, serupa kristal

membuntal nasib yang lebih asin dari

keringat mereka.

 

Genre puisi seperti di atas ini sudah sering disinggung oleh para penyair-penyair Madura yang lahir di Pulau Garam. Akan tetapi, penulis Ali Ibnu Anwar memberikan nuansa berbeda dengan menghadirkan puisinya yang dikemas dengan kekuatan diksi-diksinya yang khas dan cukup kritis menyikapi fenomena yang sering terjadi di sekitarnya.

Ali Ibnu Anwar dalam buku antologi puisinya ini, banyak merespons beberapa persoalan yang terjadi di kehidupan masyarakat. Seperti yang terdapat pada halaman /62-63/ dengan judul ”banjir menyeret jakarta”. Pada puisi ini, penulis memberikan rangsangan kepada pembaca agar sadar bahwa membuang sampah, seperti halnya botol air mineral, dan tidak peduli pada lingkungannya, akhirnya akan menyebabkan banjir. Fenomena banjir yang sering terjadi di Jakarta memang nyata. Akan tetapi, sebagai manusia yang memiliki akal, penulis mengajak kita untuk berpikir, apa penyebab terjadinya banjir tersebut. Penulis juga mengatakan bahwa ketika genangan banjir di permukaan bumi itu sudah tidak ada, kita justru melupakan dan mengulanginya lagi tanda-tanda yang akan mendatangkan fenomena terjadinya banjir. Padahal sudah jelas, bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali dia sendiri yang mengubahnya.

Setelah saya membaca buku antologi puisi Garam Mengaku Ikan, Cinta Merampas Metafora ini, rupanya penulis juga merasakan keresahan tentang bangunan Jembatan Suramadu. Mari kita lihat respons puisinya di bawah ini:

 

garam mengaku ikan

 

tentang kapal yang dulu pernah mengantarku

menyeberangi laut itu, ada saja kisah tentang

garam yang ingin jadi ikan. atau tentang

impian, kalau-kalau antara surabaya dan madura

terbentang sebuah jembatan, yang membuat laut

jadi barang antik di museum ingatan.

 

dan sebuah jembatan sudah dibangun. jadi,

tak akan kujumpai lagi, sepasang kekasih

menghirup angin di atas geladak kapal.

 

garam tak pernah mengeluh, dan tak butuh

jembatan, untuk menghubungkan rasa asin dan

lemak di tubuh ikan. ia pun ingin menjadi ikan,

untuk merasakan seberapa pekat rasa asin yang

menjalar ke tubuhnya. tak seorang pun mau

mengakuinya, walau dalam gelap matanya selalu

menangkap mesin berbau minyak yang mengubah

rasa asin di tubuhnya.

 

sejak itu, garam tak hanya ingin jadi ikan.

ia juga ingin menjadi diriku yang selalu

bernyanyi dengan suara sumbang dalam

gempuran gelombang.

 

ia hanya bisa memilih. walau sebenarnya bukan

itu pilihan yang ia kehendaki.

 

Puisi yang terdapat di halaman 27-28 ini, cara penyampaiannya sangat menggugah hati. Bukan hanya karena puisi di atas berangkat dari realitas, melainkan diksi yang diracik penulis tepat sasaran. Apalagi bagi orang Surabaya dan Madura yang lahir sebelum pembangunan jembatan, dengan catatan–sering melewatinya melalui kapal atau perahu, pasti mengenang dan merindukan. Sementara bagi yang lahir setelah pembangunan jembatan, mereka akan membayangkan suasana para leluhur ketika bersahabat dengan laut. Saya kira penulis buku antologi puisi ini berhasil mempengaruhi pembaca untuk mengimajinasikan apa maksudnya dan apa pesan yang harus kita garis bawahi sebagai pembaca. Meski yang pasti setiap pembaca memiliki persepsi yang berbeda-beda.

Kemudian kita lanjutkan untuk membaca puisi di bawah ini:

 

cinta merampas metafora

buku-buku rajin menulis

metafora untuk cinta:

         air mata jadi sungai

         rindu jadi sunyi

        jumpa jadi hujan

 

mengapa tidak menulis:

         air mata jadi batu bata

         (untuk membangun rumah)

          rindu jadi paku

         (untuk membuat jendela)

         jumpa jadi genting

         (untuk mengatapi cinta)

 

supaya cinta tidak

jadi dingin

dalam seribu simulasi

cinta tanpa cinta.

 

kita hanya dua sementara

yang tiada sengaja berjumpa

dalam menghadapi

kemungkinan-kemungkinan

yang tak selesai dengan

metafora.

 

sebagai dua pengembara

kita akan lewati musim dan cuaca

agar lebih mengerti

untuk merampas metafora

di tengah belantara kota

perlu kartu kredit.

 

(hlm 46-47)

 

Setiap penyair yang menciptakan puisi, sering saya temukan cinta di dalam karyanya. Mulai dari bumi bagian barat sampai bumi bagian timur. Ini menunjukkan bahwa cinta menjadi hal penting untuk ditulis.

Seperti puisi di atas ini, memang sederhana. Akan tetapi, dari kesederhanaan yang dilahirkan dengan sebuah kreativitas yang berkualitas, akhirnya membawa saya pada kedalaman rasa. Karena tidak sedikit penyair yang lahir disebabkan cinta. Seperti halnya penyair Ali Ibnu Anwar, dengan kegelisahan cintanya yang garam, ia berhasil membuat metafora karyanya lebih beragam, dan mampu menghasilkan antologi buku puisi ini. Selamat membaca! (*)

 

Yogyakarta, 2023

 

AGUS WIDIEY

Lahir di Sumenep, 17 Mei. Saat ini belajar di daerah Jogjakarta.

Editor : Abdul Basri
#Sastra Madura #Metafora Garam dan Cinta #resensi buku #biografi #radar madura