
SAMPANG, RadarMadura – Faridatul Azman lahir dan besar di lingkungan pendidikan pesantren salaf.
Namun, hal tersebut tidak membuat Firda antilembaga pendidikan formal. Baginya, pengetahuan agama dan umum harus seimbang dan beriringan.
Firda merupakan putri pasangan almarhum KH Ahmad Mustofa Mahfud dan Ny Hj Musliha.
Orang tuanya merupakan pengasuh ke-4 Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Faizin yang berlamat di Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang.
Almarhum ayahandanya, KH Ahmad Mustofa, merupakan perintis hadirnya Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Darul Faizin.
Lembaga pendidikan formal tersebut berdiri di lingkungan pesantren salaf.
Firda merupakan perempuan berprestasi. Pendidikan tingkat menengah pertama dan menengah atasnya berhasil ditempuh dengan singkat. Yaitu, hanya empat tahun.
Dengan demikian, waktu yang dibutuhkan untuk menamatkan pendidikan jenjang menengah pertama dan atas hanya empat tahun.
Pendidikan formal itu ditempuh di MTs dan MA Amanatul Ummah, Kabupaten Mojokerto.
Selepas lulus dari pesantren modern itu, Firda tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Anak ketiga dari enam bersaudara itu justru memilih kembali menimba ilmu di pesantren demi lebih mendalami pendidikan agama.

Lembaga yang dipilih yaitu Ponpes Tahfiz Darun Rohmah, Gondanglegi, Malang.
Istri Moh. Miqhdat Ilmi itu baru menempuh perguruan tinggi pada 2017.
Jurusan yang dipilih pendidikan agama Islam di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Pendidikan strata satu (S-1) dia tuntaskan hingga 2021.
Pada tahun yang sama, Firda berkecimpung dalam pendidikan formal yang dirintis almarhum ayahandanya.
Yakni, dengan menjadi tenaga pengajar di MA Darul Faizin. Dia juga menjabat wakil kepala madrasah di lembaga itu.
”Abi saya wafat 2016 ketika saya masih di pondok. Memang ada pesan dari abi yang disampaikan melalui ummi yang meminta saya untuk melanjutkan sekolah,” terangnya.
Menjadi tenaga pengajar bukan pengalaman yang baru bagi ibu satu anak itu.
Sebab, sejak duduk di bangku kuliah, dia sudah aktif mengajar. Tugas terberatnya sebagai pengajar yaitu meningkatkan semangat siswa.
Karena itu, penguatan semanagat belajar siswa terus ditingkatkan. Sebab, pada umumnya, siswa memiliki mindset yang penting bersekolah, bukan sekolah itu penting.
Cara yang dilakukan yaitu dengan mengubah suasana kegiatan pembelajaran.
”Secara telaten, saya melakukan pendekatan persuasif kepada anak-anak agar mereka terbuka dan boleh menganggap saya seperti teman. Selamanya, saya akan mengurus pendidikan karena ini amanah abi,” terang ibunda Mohammad Rafa Al Fatir tersebut.

Firda mengaku tidak ingin setengah hati dengan pilihannya mengabdi di bidang pendidikan.
Perempuan kelahiran 1997 itu akan terus konsisten mengembangkan pendidikan yang dikelolanya menjadi lebih baik.
Dari awal, niatnya tidak ingin mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari pendidikan.
Namun, memanfaatkan pendidikan agar menjadi sarana supaya bermanfaat bagi orang lain. Juga untuk mengimplementasikan pengetahuan yang didapat.
”Profesi guru ini tidak saya anggap sebagai pekerjaan untuk mendapatkan keuntungan materi. Tetapi, untuk mengamalkan ilmu dan ini sesuai dengan ajaran guru saya ketika di pondok,” jelasnya.
Menurut dia, peningkatan mutu pendidikan di lembaganya akan terus dilakukan secara bertahap melalui inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman saat ini.
Juga memastikan, peserta didik mampu menguasai pengetahuan umum dan ilmu agama secara beriringan.
Setiap hal yang dikerjakan saat ini juga mendapat dukungan penuh dari keluarga.
Dengan begitu, meski aktif sebagai tenaga pendidik di madrasah, dia juga tidak akan mengabaikan kewajiban yang lain. Yakni, tugas sebagai ibu dan istri.
”Pilihan untuk terus mengabdi di sektor pendidikan ini juga didukung penuh oleh keluarga. Suami saya juga menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Sampang,” terangnya. (jun/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




