
Oleh MASYITHAH MARDHATILLAH*
INTENSITAS hujan tinggi di berbagai daerah menjadikan banjir pada awal Ramadan ini tak terhindarkan.
Meski lazim dipercaya bahwa hujan atau cuaca sejuk dapat meringankan dahaga saat puasa, bencana semacam ini tentu di luar ekspektasi.
Hingga naskah artikel ini ditulis, akses jalan provinsi belum sepenuhnya lancar sehingga mereka yang berencana pulang dari atau berangkat ke Surabaya diimbau menunda perjalanan atau memilih jalur lain.
Belakangan, banjir memang menjadi bencana langganan. Sebuah gerai di salah satu sudut rawan Kota Sampang sampai memilih ”Banjir” menjadi namanya.
Sementara di Pamekasan, daerah langganan banjir berpusat di area kota bagian selatan, seperti Parteker, Jungcangcang, Gurem, Patemon, Laden, dan Jalmak.
Karena itu, kehadiran banjir sejak Selasa (12/3) malam tidaklah mengherankan, tetapi kedatangannya pada awal bulan suci Ramadan seperti memberikan warning tersendiri.
Di luar semua pernak-pernik konsumerisme dan selebrasinya, Ramadan tetap menjadi momentum ibadah dan tirakat kesalehan.
Laku disiplin sebulan penuh dengan berbagai treatment, rutinitas, serta ritualnya adalah titik balik yang tepat untuk melakukan refleksi dan introspeksi, termasuk perihal kesalehan.
Sayangnya, di antara berbagai dimensi kesalehan, kesalehan ekologis seperti menjadi yang paling tidak terpikirkan.
Kesalehan sosial begitu menemukan momentumnya. Kewajiban menahan haus dan lapar dipercaya sebagai role play agar yang biasa berkecukupan lebih simpatik pada kaum papa.
Berbagai varian zakat dan sedekah juga disalurkan, baik yang merupakan perintah agama an sich atau sudah dimodifikasi dengan tradisi setempat.
Pun dengan kesalehan individual yang dikondisikan sedemikian rupa melalui berbagai ritual, seperti buka bersama, Tarawih berjemaah, hingga tadarus.
Kesalehan ekologis cenderung luput dari perhitungan. Ia seperti terlepas dari rumpun kesalehan lain.
Kategorisasi kesalehan vertikal-horizontal atau individual-sosial seolah tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk beririsan dengan kesalehan ekologis.
Akibatnya, lazim dijumpai masyarakat yang masjidnya ”hidup”, penduduknya rukun dan santun, namun gemar membuang sampah ke sungai dan atau jembatan.
Sedikitnya ada dua hal yang dapat menjelaskan ini, yakni aspek ideologis dan pragmatik. Sejauh ini, tema-tema ekologis masih jarang menjadi bahan kajian forum-forum akar rumput.
Bahasan soal membuang sampah, konkretnya, masih dianggap kurang urgen dibanding perihal penguatan ibadah vertikal atau penanaman karakter dalam interaksi sosial.
Sementara itu, konon, mereka yang terdampak banjir bukanlah pelaku pembuangan sampah ke sungai atau jembatan.
Kebiasaan membuang sampah sembarangan tentu bukan merupakan satu-satunya sebab di balik persoalan banjir yang tak kunjung menemukan penyelesaian dari waktu ke waktu.
Semakin hilangnya lahan resapan air digantikan berbagai bangunan dengan proses pendirian tanpa amdal yang serius, tentu ikut bertanggung jawab.
Keseriusan dan prioritas kerja pemerintah setempat juga layak dipertanyakan, termasuk perihal alur pengelolaan sampah.
Namun, kesadaran akan urgensi kesalehan teologis ini mendesak untuk dihidupkan kembali dan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk itu.
Ramadan menawarkan banyak event yang relevan untuk menyegarkan kembali kesadaran perihal kesalehan teologis ini.
Berbagai perhelatan besar atau forum rutin selama Ramadan bisa menjadi wadah yang tepat untuk agenda ini.
Panitia peringatan Nuzulul Qur’an, misalnya, bisa request tema lingkungan untuk diulas tuntas para penceramah, termasuk juga khotbah Jumat atau Kultum Tarawih.
Sementara itu, THR berupa pohon bisa menjadi alternatif untuk menciptakan dampak positif yang berjangka panjang.
Pengarusutamaan kesalehan ekologis ini menjadi penting karena jika banjir yang melanda adalah benar-benar banjir kiriman, hanya kesadaran teologislah yang potensial meminimalisasi ketimpangan tersebut.
Untuk bernegosiasi dengan mindset dan laku masyarakat religius seperti di Madura, agaknya hanya driving force agama yang mampu melakukannya.
Tanpa kanal agama, perilaku semacam itu cenderung akan terulang, sebab pelaku tidak merasakan langsung dampak dari perbuatan (destruktif)-nya. (*)
*)Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




