Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puisi BH. Riyanto: Tepi Magrib

I
Penulis: Ina Herdiyana❯
Ilustrasi Jawa Pos
Ilustrasi Jawa Pos

Tepi Magrib


Advertisement

Khusyuk yang didesirkan gerimis

Melinangkan air matamu ke tepi magrib

Isyarat-isyarat yang tak hanya bisu itu

Advertisement

Mendekap hening dan rindu bertubi-tubi

(2024)

……………………………….

Advertisement

 

Datang dan Pergi

Petang beranjak sepelan degup doa

Dalam diam kau pun kembali berkidung

Mengapa datang dan pergi kerap tak sama?

Meski bisa saja sama

Dicerna dan dimakna 

Atau dirasa!

(2024)

……………………………….

 

Sepimu

Siapakah yang membelaimu

Ketika seluruh nyeri luruh di pelupuk mata sepimu?

Duhai, siapakah yang melukiskan segenap tanda, atas segala rindu membirumu?

Dan di sisa isak yang paripurna

Manakah kini sesungguhnya yang paling berarti

Sepimu atau kenangankah?

(2024)

……………………………….

 

 

Menakar Senyap

Ia menakar senyap

dari segenap riuh rindu 

Dan senja memeluk hatinya

yang kian jingga

Ia pun terpaku

Dari sepi ke perih

dari perih kembali

ke jantung sepi

Ya, ia menakar senyap

Mungkin

hingga ke tangis rindu

paling pilu

(2023)

……………………………….

 

Setiap Rindu

Setiap rindu adalah nyanyian desir angin; melambaikan daun-daun doa; yang mengekalkan selaksa kegelisahan pada isak kekasih

Setiap rindu adalah kelebat bayangan awan-awan kelabu; memahat segenap lirih perih di ufuk-ufuk penantian

Setiap rindu adalah gemulung gelombang; yang tak henti beriak di samudra kesendirian; menabuh ribuan senja; yang turun begitu perlahan 

Maka setiap rindu adalah kau-aku; yang selalu tabah mendekap segala nyeri luka; pada selengkung bianglala kenangan

(2023)

……………………………….

 

Di Dermaga Kecil Itu

Senja pun datang padamu, tanpa kopi. Tanpa cerita.

Derau angin berkali menampar mata sayumu. Sampai kapan kau menanggung lebamnya rindu?

Di dermaga kecil itu, ada yang hendak kau tulis. Mungkin gelegak ombak. Atau gemuruh di palung hatimu.

Lampu-lampu di tepian mulai menyala. 

Sedang kau tak jua beranjak. Menatapi senja yang hilang perlahan; tanpa kopi, tanpa cerita.

Tanpa kata-kata.

(2023)

……………………………….

BH. RIYANTO atau Budi Hariyanto lahir pada 15 Oktober 1973. Menulis puisi dan melukis. Buku-buku puisinya Pesan Pendek dari Tuhan, Suramadu, Kisah Kau-Aku, Hujan yang Mengguyur di Sepanjang Ingatan, La’ang,dan Musim Orang Mati. Sejak 1997 mengajar seni budaya di SMAN 1 Pademawu. Tinggal di Desa Kaduara Barat, Larangan, Pamekasan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Puisi J. Akit Lampacak

Puisi J. Akit Lampacak

pada saatnya buih itu sampai ke matamu seprti kerikil yang terlempar dari kaki masa kecil tentu kau akan mendengar suara angin seperti riuh burung pagi kehilangan mimpi gemerciknya menggelinding mengaliri ruang sunyi

Puisi Ririe Rengganis

Puisi Ririe Rengganis

Ibu selalu membawa laut di rambutnya....

Maulid Puisi: Sastra, Teater dalam Kehidupan Sehari-hari

Maulid Puisi: Sastra, Teater dalam Kehidupan Sehari-hari

Salah satu kegiatan rutin untuk mengumpulkan mereka dalam satu ruang bersama dilakukan saat bulan Maulid tiba. Mereka mengadakan Maulid Puisi, yaitu membaca puisi setelah membacakan salawat Sarafal Anam.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer