Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puisi Achdiar Redy Setiawan; Heneng Hening Henung

H
Achdiar Redy Setiawan
Achdiar Redy Setiawan

Merdeka, di Perempatan Jalan Itu


Advertisement

di perempatan jalan itu

sesosok tubuh meringkuk menahan lebam kesedihan

kubaca paragraf kesenduan yang terpahat dengan tinta air mata, pada sorot mata yang tampak layu dan bibir kering terpapar cuaca

Advertisement

sekotak tempat koin terjejer di sebelah kain yang terhampar begitu saja

anak dara duduk manis dengan jemari lincah menatap boneka kecilnya

ia belum lagi mengerti, tentang terik, hujan, dan keluh yang berkecamuk di antara kerumunan

Advertisement

 

bahwa hidup sesungguhnya tak boleh sememilukan ini

peluh yang mengalir seusai upacara ini mengetuk rutuk

ah, tetiba ada perih yang menyembul

tatkala kenangan melayang menuju negeriku

di banyak perempatan jalan dengan gambar serupa

 

potret buram ini menampar degup keriaan

di antara pekik merdeka,

yang sebentar tadi

berkumandang di setiap perempatan

di negeriku, dan negeri-negeri jauh

MERDEKA (?!,.””#)

George Town, Penang, Malaysia 17082024

………………………………………………….

 

Heneng Hening Henung*

aku menjumpaimu di kala bulan sudah tergelincir menjauh

dua per tiga dini hari

wajahmu lindap di balik kelambu yang semakin temaram

kopi yang kujerang masih hangat

kepulan asap di atas mug tua ini lamat-lamat membentuk bayang yang mengharu

menemani persamuhan yang gagu

setelah puluhan purnama terpisah ruang dan waktu

pintu yang kaku

jendela yang bisu

langit-langit berwarna biru

lantai ubin yang membatu

menabalkan rindu yang tetiba membuhulkan isak yang terperam, lama

bantu aku

mengingatmu

mensyukuri adamu

menginsyafi peranku atasmu

amin!

Desasiswa Bakti Fajar Permai, USM, 15082024

 

*salah satu dari ‘pepali pitu’, tujuh dasar ajaran luhur filosofi hidup Sunan Drajat. Bahwa dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan, dan dalam keadaan hening itulah kita akan meresapi & mencapai cita luhur dan permenungan kesejatian

………………………………………………….

 

Entah

kumandang khutbah siang ini

pelan-pelan menelusupkan sunyi yang abstrak

lautan manusia di depan mimbar merunduk khusyuk

entah apa yang bergema di setiap kepala

tapi rasanya hanya beberapa ayat saja yang tertangkup

 

lalu gerimis turun seusai terik yang menusuk

jalan mulai lengang, seketika

aku melipir ke sudut bangunan tua

jam sudah menunjuk pukul berapa lebih berapa

aku mengunyah entah

suatu yang tak tahu apa

aku tak berani bertanya

sekelilingku sibuk sendiri dengan pikirannya

pelan-pelan kueja lamat-lamat yang berputar di kepala

tentang luka, resah, dan juga cerita lama yang tak kunjung sudah

tak terhitung jumlahnya

 

satu yang kupercaya, setiap dera senantiasa meninggalkan jejaknya

 

lalu angin berembus sekejap saja

menghantar semacam kegaduhan di pelupuk mata, yang basah, terciprat air sisa rintik

 

ah. sekarang sudah pukul berapa

baiknya kuteruskan nanti saja

suatu yang tak tahu apa. entah!

Selasar Masjid Al Malik Khalid, USM, 09082024

………………………………………………….

 

Jendela 1

dengan apa aku akan merapal doa. pada titik-titik hujan yang singgah di jendela. satu per satu datang dan pergi. sepasang bola mata yang resah mengintai. di ujung ufuk yang semakin tergelincir. menunduk. terpekur. mengiris cemas yang seketika.

………………………………………………….

 

Jendela 2

dari balik jendela yang berdebu. sebuah nama terapal lirih. angin selat dan fajar menyingsing perlahan. sepi dari semenanjung jauh kini menghukumku. satu per satu kuhitung waktu. aku tahu, puan. cinta tak hanya menghadirkan pelangi. tapi juga amuk badai yang menggentarkan. kita telah melewati banyak musim. Namun sepertinya sisi gelapku lebih suka remang tanpa cahaya. tapi kau tetap setia di sana. menantiku. menemukan jalan pulang.

………………………………………………….

Jendela 3

 

dari bening kaca yang sudah terseka kulihat dengan gagap sepotong siluet yang tak nyana dari kejauhan. mendung samar-samar mengintai hendak menutup hari yang kerontang. pada desir angin yang menyeringai, kutitip aroma senja yang lindap dengan gontai menuju pulang. air mata yang menetes acak di sela pipimu yang ranum adalah penanda. tak perlu membuncah jika pikirmu nyalang ke alam risau. 

 

dunia memang begitu adanya, kekasih. sebab musim pun tak sama lagi. tak ada yang beredar tepat dalam pusaran mestinya. kita hanya perlu bersetia kepada segala kemungkinan. remang atau terang, sungguh, tak ada beda!

 

Asrama Desasiswa Bakti Fajar Permai, USM, 08082024

………………………………………………….

 

Achdiar Redy Setiawan

Pembelajar pada Jurusan Akuntansi Universitas Trunojoyo Madura yang sedang menempuh pendidikan doktoral pada The Center for Islamic Development Management Studies (Isdev), Universiti Sains Malaysia di Pulau Pinang, Malaysia. Penikmat sastra dan kajian seni budaya.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer