SUMENEP, RadarMadura.id – Pondok Pesantren Tanwirul Hija merupakan salah satu lembaga pendidikan terkenal di wilayah Kecamatan Lenteng, Sumenep.
Lembaga pendidikan Tanwirul Hija yang berada di Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, ini menjadi salah satu pusat belajar masyarakat lintas desa.
Kini, selain pesantren, Yayasan Tanwirul Hija mengelola pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan menengah.
Awalnya lembaga ini hanya terdiri atas musala tempat belajar masyarakat yang mengaji Al-Qur’an kepada KH Ishak.
Beliau alumnus Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan pada masa kepemimpinan RKH Abd. Hamid.
Seiring berjalannya waktu, tempat mengaji tersebut berkembang menjadi madrasah (klasikal) saat KH Khotib mempersunting putri KH Ishak.
”Saat Kiai Khotib jadi menantunya, maka beliau mendirikan Madrasah Diniyah Tanwirul Hija,” kata KH A. Dumairi Asy’ari selaku ketua Yayasan Tanwirul Hija kepada (JPRM) Minggu (17/3).
”Saat ini dilanjutkan ponakan-ponakannya, karena beliau tidak memiliki keturunan,” jelasnya.
Kiai Dumairi menjelaskan, Kiai Khotib lahir pada 1914 M. Ayah beliau, Kiai Abdurraheim, berasal dari Desa Poreh, Lenteng, Sumenep.
Sejak kecil, Kiai Khotib sudah dibimbing dan dididik dengan ilmu agama. Bahkan, untuk memperdalam ilmu keagamaan, sang kiai mondok ke berbagai pesantren.
Pertama, mondok di ponpes yang berlokasi di kawasan Asta Tinggi, Sumenep, yang dipimpin oleh KH Abi Sudjak.
Setelah itu, melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Guluk-Guluk, Sumenep, daerah Latee.
”Pada saat itu PP Annuqayah Daerah Latee dipimpin oleh KH Abdullah Sajjad,” ungkapnya.
MI Tanwirul Hija yang dirintis Kiai Khotib berdiri pada 1950. Saat itu bernama Madrasah Ibtidaiyah Al-Maarif.
”Saya melihat ijazah orang tua saya, ternyata beliau keluar dari MI Tanwirul Hija pada 1950. Apakah itu awal mula ijazah keluar, atau sudah tahun berikutnya, saya tidak tahu,” ungkapnya.
KH. Khotib bin Abdurraheim punya peran yang sangat besar akan berdirinya lembaga pendidikan Tanwirul Hija yang memiliki arti pencerah akal itu.
Nama Tanwirul Hija memiliki maksud dan tujuan agar eksistensi lembaga ini menjadi mercusuar bagi masyarakat.
Proses pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Hija awal mulanya hanya masuk pada sore. Namun, pada perjalanan waktu, sekitar 1962 madrasah tersebut juga dilaksanakan pagi hari.
Saat itu fasilitas gedung madrasah masih dipinjam SD. Beberapa waktu kemudian, SD menempati lokasi lain.
”Kalau tidak salah saat itu merupakan satu-satunya lembaga formal (MI) yang ada di Lenteng. Dan siswanya sudah ratusan orang,” ungkapnya.
Kemudian, yayasan mengembangkan jenjang pendidikan dengan mendirikan madrasah tsanawiyah (MTs). Madrasah itu didirikan sekitar 1990 M.
”Didirikan ketika kakak saya (KH M. Muhdar Imami, Red) lulus dari Malang,” ucapnya.
Pada masa awal, siswa yang masuk ke jenjang MTs masih sangat sedikit.
Namun saat ini rata-rata sudah mencapai 50 siswa baru setiap tahun. ”Awal mula hanya belasan siswa,” ujar Kiai Dumairi.
Setelah itu didirikan lembaga Raudlatul Athfal (RA) sekitar 1990 untuk menunjang lembaga MI. ”Pada 2020 berdiri PAUD dan dilanjutkan dengan mendirikan SMA,” tuturnya.
Proses pendirian SMA melalui tahapan diskusi sangat alot. Saat itu dimusyawarahkan untuk memutuskan SMA atau madrasah aliyah (MA).
Pada akhirnya, lembaga yang dipilih yaitu SMA. Meskipun demikian, proses pembelajaran yang diterapkan tetap berbasis pesantren.
”Kami ajarkan mereka mengaji, salat, bahasa Arab, dan sebagainya,” ungkap Kiai Dumairi.
Dalam kepemimpinan Kiai Dumairi, banyak bangunan fisik dibangun. Sejak mulai 2007 sudah 30 lokal yang dibangun dengan dua lantai.
Gedung-gedung itu digunakan untuk kegiatan pendidikan RA, TKA/TPA, MI, MD, MTs, dan SMA.
Saat ini proses pembangunan aula dua lantai, lantai bawah diproyeksikan untuk tempat parkir.
”Meskipun berada di pelosok desa, tapi kami ingin memiliki fasilitas yang memadai,” tegasnya. (sin/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News