PAMEKASAN, RadarMadura.id – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Pemakaman Ronggosukowati Senin (16/2).
Rombongan Dewan Adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu datang untuk nyekar.
Ziarah itu menjadi penanda kuat hubungan darah antara Surakarta dan Pamekasan yang telah terjalin sejak abad ke-18.
Rombongan dipimpin Gusti Kanjeng Ratu Wandansari atau Gusti Moeng.
Mereka berziarah ke makam Raden Alsari atau R.T.A. Tjokro Adiningrat I.
Tokoh tersebut dikenal sebagai Ghung Seppo atau Bupati Pamekasan yang juga mertua Pakubuwana IV.
Prosesi nyekar diawali dengan kirab budaya dari Pendopo Budaya Pamekasan.
Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto bersama jajaran forkopimda menyambut rombongan.
Setelah itu, doa bersama dipanjatkan di kompleks makam para raja terdahulu Pamekasan itu.
Sebab, hubungan Surakarta dan Pamekasan seperti keluarga besar.
Yakni, dengan merujuk pada pernikahan PB IV dengan putri Adipati Cakra Adiningrat, yaitu Raden Ajeng Handoyo.
Dari garis tersebut lahir raja-raja Surakarta berikutnya.
”Bisa dikatakan keluarga Keraton Surakarta masih berdarah Madura, karena istri PB IV melahirkan raja-raja pada saat itu,” ujar Sukri.
Dia menegaskan, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi simbol harmonisasi budaya.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Gusti Moeng menjelaskan, kedatangannya untuk menyambung benang sejarah yang pernah terikat kuat pada masa PB IV.
Sejak masih menjadi putra mahkota, sang raja telah dijodohkan dengan Raden Ajeng Handoyo dari Pamekasan.
Menurut catatan keraton, Raden Ajeng Handoyo telah dipingit sejak usia delapan tahun.
Setelah menikah, pasangan itu dikaruniai seorang putra bernama Gusti Sugandi.
Namun, permaisuri wafat saat anaknya masih berusia satu setengah tahun.
Gusti Moeng menuturkan, kecintaan PB IV kepada Raden Ajeng Handoyo begitu besar.
Sang raja bahkan menciptakan tarian sebagai ungkapan perasaannya. Kisah itu menjadi bagian penting dalam sejarah keraton.
Setelah naik takhta, PB IV kembali mempersunting adik Raden Ajeng Handoyo.
Yakni Raden Ajeng Sakabdina, dari garis permaisuri kedua itu lahir Pakubuwana VII.
Dengan demikian, dua permaisuri PB IV sama-sama berasal dari Pamekasan.
Gusti Moeng juga menyerahkan buku hasil alih aksara dan alih bahasa kepada bupati Pamekasan.
Buku tersebut memuat kisah perjalanan utusan Surakarta ke Madura.
Dalam naskah disebutkan rombongan berlayar menggunakan kapal Kyai Rajamala sepanjang 36 meter dan lebar 8 meter.
Perjalanan itu diiringi gamelan dari Solo hingga ke Pamekasan.
Dia mengaku telah menelusuri silsilah tersebut selama sekitar sepuluh tahun.
Pencarian dilakukan hingga ke Bangkalan dan Sumenep.
Kepastian akhirnya ditemukan di Pamekasan. ”Ternyata makamnya ada dan terawat dengan baik. Di sini juga ada juru kunci yang merawat,” ujarnya.
Putri Pakubuwana XII itu berharap kegiatan nyekar ini dapat menjadi agenda rutin.
Bahkan, diharapkan masuk dalam kalender event tetap Pamekasan.
Pihak keraton siap berkoordinasi untuk perawatan makam yang lebih baik.
”Beliau ini (leluhur, Red) yang menurunkan kami, putri-putrinya. Dari garis inilah hubungan darah antara Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan Pamekasan akan terus tersambung,” tegasnya.
Dalam rombongan turut hadir keluarga keraton, termasuk Gusti Kanjeng Ratu Ayu dan sejumlah kerabat.
Wali Kota Salatiga Robby Hernawan juga ikut membersamai rombongan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti