PAMEKASAN, RadarMadura.id - Guru yang belum berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Pamekasan mencapai 7.331 orang.
Tersebar di pendidikan anak usia dini (PAUD), SD, dan SMP. Sedangkan yang berstatus ASN hanya 4.158 orang.
Dominasi guru honorer paling banyak berada di jenjang PAUD.
Dari ribuan pendidik, hanya 99 orang yang menyandang status ASN.
Sedangkan 3.529 lainnya berstatus non-ASN. Kondisi serupa juga terjadi di jenjang SD dan SMP.
Beban kerja guru honorer tidak jauh berbeda dari yang sudah berstatus sebagai ASN.
Namun, penghasilan yang diterima belum sepadan, bahkan jomplang.
Karena pendapatan jauh lebih besar guru yang berstatus sebagai ASN.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Pamekasan Akhmad Basri Yulianto mengeklaim pemerintah tidak tinggal diam melihat ketimpangan itu. Pemkab Pamekasan akan terus meningkatkan kesejahteraan guru.
Yakni, dengan memperluas formasi PPPK dan pemberian insentif daerah kepada guru.
Pihaknya maksimalkan pengusulan formasi sesuai kebutuhan.
Sebab, pemerintah berkewajiban hadir meringankan beban guru honorer.
Basri menambahkan, pemerintah daerah juga mengawal pencairan tunjangan guru bersertifikasi agar tidak terhambat.
Dari total 5.194 guru bersertifikat, hanya 1.626 orang merupakan guru non-ASN.
Kami terus pastikan administrasi berjalan lancar. Harus tepat waktu. Itu hak mereka, tegasnya.
Ketua Dewan Pendidikan (DP) Pamekasan M. Sahibuddin menilai persoalan kesejahteraan guru harus ditempatkan sebagai prioritas pendidikan daerah.
Tingginya jumlah guru honorer adalah realitas yang tidak bisa diabaikan.
Mereka menopang sebagian besar proses pembelajaran. Kesejahteraan mereka tidak boleh dikesampingkan.
Kami juga mendorong agar Pemkab Pamekasan bisa memperbesar dukungan anggaran dan memperkuat sinergi kebijakan dengan pusat, sambungnya.
Sahibuddin menilai, guru yang sejahtera akan lebih fokus dan stabil dalam mendidik.
Karena itu, langkah penguatan formasi PPPK, penyaluran tunjangan tepat waktu, serta dukungan insentif dapat memperbaiki kondisi ribuan guru non-ASN yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan di Pamekasan. (afg/jup)
Editor : Amin Basiri