PAMEKASAN, RadarMadura.id – Forum Rektor Perguruan Tinggi (PT) se-Madura digelar di gedung rektorat UIN Madura Selasa (12/8).
Acara bertema ”Penguatan Sinergi Penelitian dan Pengabdian demi Kemajuan Pembangunan di Madura” tersebut dihadiri para pimpinan PT se-Madura beserta para kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).
Forum Rektor PT se-Madura tersebut mengusung tiga agenda utama. Yakni silaturahmi, rapat koordinasi, dan seminar. Acara tersebut berjalan hangat, meriah, dan akrab.
Tidak sedikit yang beranggapan bahwa forum regional tersebut sekaligus menjadi momentum tasyakuran atas alih status UIN Madura serta selesainya pembangunan gedung rektorat.
Saiful Hadi selaku rektor UIN Madura saat sambutan memperkenalkan slogan kampus yang baru bertransformasi menjadi universitas tersebut. Yakni, Kampus Taneyan Lanjang Pengembangan Ilmu Pengetahuan Islam Integratif.
Sebagaimana diketahui, slogan tersebut berlandaskan pada konsep Asta Helix Heutagogi sebagai miniatur dari kosmos taneyan lanjang masyarakat Madura yang terbagi dalam delapan unsur.
Delapan unsur tersebut mencerminkan relasi linearitas dan sinergi komplementatif, keberlimpahan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan ekonomi, kedaulatan sumber daya alam dan kemajuan teknologi, spiritualitas mendalam dan kelestarian budaya, serta terjaganya lingkungan dan tegaknya norma aturan.
Semangat tersebut banyak menemukan common ground dengan spirit kolaborasi yang digaungkan para peserta forum.
Safi’ selaku Ketua Forum Rektor PT se-Madura menegaskan, semangat kolaborasi sudah seharusnya menggantikan iklim kompetisi antar perguruan tinggi.
”Justru harus melakukan kolaborasi demi kemajuan masing-masing kampus maupun Madura secara umum,” tegas pria yang dikenal sebagai rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tersebut.
Acara inti dalam forum tersebut adalah seminar yang dipandu oleh Ah. Fawaid. Sedangkan narasumbernya adalah Moh. Masyhur Abadi dan Achmad Amzeri. Mashur mengemukakan sebuah kata kunci yang menurutnya harus melandasi kerja-kerja penelitian dan pengabdian pada masyarakat di perguruan tinggi, yakni berdampak.
”Hal tersebut menjadi mungkin dengan sinergi antara rekayasa teknologi dan rekayasa sosial secara simultan,” katanya.
Gagasan tersebut dibenarkan oleh Amzeri dengan paparan yang lebih teknis. Dia menyebut bahwa untuk membangun Madura, diperlukan kerja-kerja penelitian dan pengabdian yang memfasilitasi kolaborasi antar perguruan tinggi, pemerintah daerah melalui lembaga litbangnya masing-masing, serta pihak swasta. Dia juga memberi beberapa best practice capaian yang selama ini telah diraih.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog dan ramah tamah. Forum rektor tersebut diagendakan menjadi agenda triwulan untuk melanjutkan dan menopang kerja-kerja kolaborasi antar perguruan tinggi di Madura. (yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti