Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kasus Forum Solidaritas Madura dan Dinamika Kepemimpinan Publik di Surabaya

Amin Basiri • Sabtu, 21 Juni 2025 | 14:41 WIB
An Annisa Uyun Naura, Mahasiswa semester 2 program studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga
An Annisa Uyun Naura, Mahasiswa semester 2 program studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

Oleh: An Annisa Uyun Naura, Mahasiswa semester 2 program studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

Beberapa waktu lalu, terdapat rencana aksi demonstrasi yang akan dilakukan oleh Forum Solidaritas Madura Indonesia (FSMI) di Surabaya.

Aksi demonstrasi tersebut merupakan respons terhadap penertiban juru parkir liar (jukir) yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya, serta adanya komentar negatif yang mengarah pada Suku Madura.

Namun, dalam perkembangan terakhir, FSMI memutuskan batal menggelar aksi demo tersebut setelah melakukan pertemuan dengan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

Kejadian yang terlihat sederhana ini memberikan pelajaran penting dalam konteks kepemimpinan dan kebijakan publik yang beragam dan kompleks.

Permasalahan Awal dan Potensi Konflik
Penertiban juru parkir liar memang bukan hal baru dan seringkali menimbulkan ketegangan sosial.

Di satu sisi, pemerintah berkewajiban menegakkan aturan demi ketertiban kota dan kenyamanan publik.

Di sisi lain, kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini mencari nafkah dari aktivitas tersebut merasakan dampak langsung yang mengancam kesejahteraan mereka.

Namun, hal yang menjadi awal mula terjadinya konflik yaitu adanya komentar negatif di media sosial terhadap Suku Madura.

Forum Solidaritas Madura sebagai salah satu organisasi yang mewakili kepentingan masyarakat Madura di Surabaya menganggap komentar-komentar negatif ini sebagai tindakan yang bisa merugikan komunitasnya.

Ancaman demo besar di Surabaya menjadi isyarat ketegangan yang genting di ranah sosial-politik.

Ini merupakan momen kritis yang menguji kualitas kepemimpinan lokal dan ketepatan serta kecermatan kebijakan yang akan diambil.

Baca Juga: Survei Seismik Migas Kangean, Mengapa Harus Ditolak dari Awal?

Dalam konteks ini, peristiwa batalnya demonstrasi bukan hanya masalah administratif, tetapi juga simbol penting bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat bekerjasama menyelesaikan konflik melalui komunikasi dan pengertian bersama.

Kepemimpinan yang Responsif

Kehadiran Wali Kota Surabaya, yang secara aktif melakukan mediasi dengan FSMI merupakan contoh kepemimpinan yang responsif dan demokratis.

Alih-alih mengabaikan aspirasi yang berkembang atau menggunakan pendekatan represif, komunikasi dipilih sebagai media untuk mendengar keluhan dan mencari solusi bersama.

Sikap terbuka ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mendengarkan masyarakatnya dan merangkul keberagaman kepentingan tanpa mengorbankan prinsip asas keadilan dan ketertiban umum.

Responsif bukan berarti tunduk sepenuhnya, melainkan mencari titik temu yang saling menguntungkan.

Sehingga terjadinya kesepakatan bersama dan menghindari terjadinya ketidakpuasan dengan pihak yang lain.

Kepemimpinan seperti ini penting diterapkan agar kota dapat berkembang dengan harmonis, tanpa terjadinya perpecahan masyarakat.

Kebijakan Publik yang Adaptif dan Berkeadilan
Kasus ini juga mengungkapkan perlunya kebijakan publik yang adaptif dan berkeadilan.

Penertiban juru parkir liar memang memiliki alasan kuat seperti pengaturan tata kelola parkir yang efisien, peningkatan pendapatan daerah, dan kenyamanan warga kota.

Tapi di sisi lain, pemerintah harus menyadari dampak sosial ekonomi terhadap individu yang selama ini bergantung pada penghasilan dari aktivitas tersebut.

Implementasi kebijakan harus disertai dengan program-program pendukung, seperti pelatihan keterampilan baru ataupun alternatif mata pencaharian.

Tanpa pendampingan ini, kebijakan berisiko menimbulkan kemarahan yang meluas dan resistensi masyarakat yang akhirnya kontra-produktif bagi tujuan pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam konteks Surabaya, komunikasi yang dibangun antara Pemerintah Kota dan Forum Solidaritas Madura menjadi sarana untuk menemukan solusi yang seimbang dan adil.

Hal tersebut menciptakan pemerintahan yang fleksibel dan peka terhadap kebutuhan berbagai lapisan masyarakat.

Di sinilah kekuatan kebijakan publik diuji, bukan hanya dalam membuat aturan, tapi juga dalam implementasi dan evaluasi yang memastikan keseimbangan antara tata kota dan kesejahteraan sosial.

Pelajaran Penting dari Kasus Forum Solidaritas Madura

Dari insiden batalnya aksi demonstrasi ini, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil:

Komunikasi sebagai Kunci Resolusi: Konflik sosial bisa didamaikan secara efektif melalui komunikasi yang komunikatif antara pemerintah dan masyarakat.

Kepemimpinan yang Empati dan Keadilan: Pemimpin yang berhasil mengelola konflik ialah mereka yang mampu menempatkan diri pada posisi semua pihak dengan mengedepankan keadilan sosial.

Kebijakan yang Kompleks: Kebijakan yang diterapkan harus mempertimbangkan dampak dari berbagai aspek agar hasilnya tidak merugikan kelompok tertentu secara tidak adil.

Kesadaran Keberagaman: Kota besar seperti Surabaya yang terdiri dari beragam suku dan komunitas, sehingga penanganan masalah harus inklusif dan sensitif terhadap perbedaan tersebut.

Menuju Tata Kelola Kota yang Modern dan Humanis

Di era yang cepat berubah seperti saat ini, pemerintah daerah dihadapkan dengan tantangan untuk mengkombinasikan penegakan aturan yang tegas dengan pendekatan humanis yang dapat merangkul masyarakat luas.

Kasus Forum Solidaritas Madura memberikan gambaran sejauh mana kepemimpinan dan kebijakan publik harus beradaptasi agar pemerintahan berjalan dengan efektif tanpa mengorbankan nilai kemanusiaan dan persatuan.

Inovasi kebijakan yang partisipatif, transparan, serta berorientasi pada kesejahteraan bersama wajib dikedepankan.

Pemanfaatan teknologi informasi untuk melakukan komunikasi dua arah antara pemerintah dan warga juga dapat menjadi solusi untuk memperbaiki proses pengambilan kebijakan dengan cepat.

Oleh karena itu, pembentukan kebijakan publik harus dilandasi melalui riset lapangan dan menggunakan data yang akurat serta memperhitungkan aspek keberlanjutan sosial dan ekonomi.

Kebijakan yang responsif dan adaptif tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, melainkan dapat menjadi pondasi pembangunan kota yang stabil dan aman untuk masa depan.

Kesimpulan

Kasus Forum Solidaritas Madura yang batal melakukan demonstrasi di Surabaya bukan sekadar berita tentang sebuah peristiwa sosial politik.

Kasus tersebut merupakan contoh dari proses demokrasi yang sehat, di mana kepemimpinan yang responsif dan kebijakan publik yang adil mampu meredam potensi konflik dan menciptakan keharmonisan sosial.

Pemimpin harus terus dituntut untuk mengutamakan komunikasi, empati, dan keterbukaan dalam menghadapi setiap tantangan.

Sementara itu, kebijakan publik harus memastikan perlindungan dan kesejahteraan tidak hanya untuk mayoritas tapi juga kelompok-kelompok minoritas dan rentan agar keadilan sosial dapat terwujud nyata.

Dengan pondasi seperti ini, Indonesia khususnya kota-kota besar seperti Surabaya dapat menjadi tempat yang lebih baik, damai, dan produktif bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Kasus FSMI memberikan pandangan agar setiap masyarakat dan pemerintah terus bekerjasama membangun masa depan yang inklusif dan bermoral.***

Editor : Amin Basiri
#solidaritas #madura #opini