Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Nasionalisme Bertemu Algoritma: Membaca Ulang Sumpah Pemuda 2026

A
Penulis: Amin Bashiri❯
Moh. Hafid Effendy
Moh. Hafid Effendy

Advertisement


Oleh: Moh. Hafid Effendy, Dosen FTIK UIN Madura


Advertisement

Setiap 28 Oktober, ruang-ruang sekolah kembali dipenuhi pembacaan ikrar Sumpah Pemuda. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan pesan persatuan disampaikan dengan khidmat.

Namun, seusai upacara, kehidupan berpindah ke layar telepon. Di sana, pendapat dipilihkan mesin, perhatian diperebutkan unggahan, dan emosi kerap bergerak lebih cepat daripada pertimbangan. 

Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah anak muda hafal bunyi ikrar 1928, melainkan apakah semangatnya masih hidup ketika mereka berhadapan dengan informasi yang memecah belah. 

Advertisement

Peringatan ke-98 Sumpah Pemuda pada 2026 mengundang kita memikirkan persoalan itu secara lebih serius.

Para peserta Kongres Pemuda Kedua pada 1928 datang dari latar organisasi, bahasa, dan pengalaman sosial yang beragam.

Mereka tidak menunggu semua perbedaan lenyap untuk menyatakan cita-cita kebangsaan. 

Justru dengan mengakui keberagaman itulah mereka menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. 

Keputusan tersebut mengandung pelajaran penting, bahwa persatuan merupakan pekerjaan politik sekaligus kebudayaan. 

Hal ini membutuhkan kesediaan mendengar, berunding, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kebanggaan kelompok. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menjaga Sanad di Ruang Kelas tanpa Dinding: Tantangan PAI Hadapi Ustadz Algoritma

Menjaga Sanad di Ruang Kelas tanpa Dinding: Tantangan PAI Hadapi Ustadz Algoritma

Dalam kacamata sosiologi pendidikan Islam, kita sedang menyaksikan terjadinya desentralisasi sekaligus pergeseran otoritas keagamaan secara masif. 

Menolak Nasionalisme Kosmetik: Otentisitas Agustus di Pelosok Madura

Menolak Nasionalisme Kosmetik: Otentisitas Agustus di Pelosok Madura

Melalui pranata tasyakuran, kemerdekaan tidak dilihat secara transaksional berdasarkan apa yang sudah didapatkan secara fasilitas.

Gubernur Khofifah Kenang Kontribusi Putra Daerah di Upacara HSP

Gubernur Khofifah Kenang Kontribusi Putra Daerah di Upacara HSP

Gubernur Khofifah mengatakan, pemilihan Pamekasan sebagai lokasi upacara HSP untuk mengenang kontribusi putra daerah dalam sejarah kebangsaan sekaligus mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga persatuan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer