
Oleh: Mohamad Fathollah*)
Suatu waktu selepas Isya, seorang guru ngaji umur 50-an tahun bercerita panjang lebar tentang NU (Nahdlatul Ulama). Dia lama aktif di kompolan NU di desa.
Pernah sekali menjadi pengurus NU di tingkat ranting (desa). Kini lebih memilih sebagai warga NU biasa tanpa melekat identitas struktural di balik bajunya yang lusuh.
Dia begitu menikmati molang (mengajari ngaji) anak-anak di kampungnya. Sembari bekerja serabutan dan tetap hadir kompolan bulanan NU di desanya.
Dari sekian panjang obrolan dan cerita yang disampaikan, ada satu kalimat menggugah saya sebagai kader NU. Katanya, NU hari ini membutuhkan sosok seperti Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid.
Sebenarnya, dia mengakui sangat jarang mengikuti obrolan politik di perkumpulan ranting. Termasuk desas-desus perihal kontestasi Ketua Umum PBNU yang bakal berlangsung di arena Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada 27-31 Agustus 2026, beberapa hari lagi. Setelah tahlilan rutin dan ramah tamah biasanya dia langsung pulang ke rumah.
Walau sangat jarang terlibat diskusi tentang “politik” dan NU, tapi malam itu obrolan kami di langgarnya yang berukuran 2 x 5 meter mengalir begitu saja. Maklum, obrolan orang desa dari satu tema ke tema yang lain.
Ternyata, dia banyak mendapat informasi beragam sana-sini melalui gawainya yang buatan China. Termasuk hiruk-pikuk tentang NU belakangan ini. Semuanya diserap.
Ya, Seperti Gus Dur!
Katanya, Gus Dur berhasil memimpin NU. Faktanya, Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Kemudian terpilih kembali pada Muktamar ke-28 di Krapyak dan mendapat mandat lagi pada Muktamar ke-29 di Cipasung. Selama hampir 15 tahun Gus Dur mampu membawa perubahan signifikan di internal NU.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




