Rp10,3 Miliar Gotong Royong Digital dan Rasa Tidak Sendiri bagi Korban Bencana Sumatera
Abdul Basri• Rabu, 24 Desember 2025 | 02:23 WIB
10,3 Miliar dari Warga untuk Warga, Kisah Revolusi Kecil yang Mengubah Negeri yang Terdampak Bencana.
RadarMadura.id — Bagi para korban bencana alam di Sumatera, bantuan yang datang dalam bentuk makanan, pakaian, dan obat-obatan memang penting.
Namun lebih dari itu, yang mereka terima adalah pesan bahwa mereka tidak dilupakan.
Pesan itu datang melalui sebuah gerakan solidaritas digital yang berhasil menghimpun Rp10,3 miliar hanya dalam 24 jam, melibatkan sekitar 87.600 warga Indonesia.
Gerakan ini berawal dari video singkat ajakan donasi yang diunggah pembuat konten Ferry Irwandi.
Tanpa produksi berlebih, video tersebut justru memicu respons luas.
Ajakan donasi berkembang menjadi siaran langsung yang memungkinkan publik menyaksikan proses penggalangan dana secara terbuka. Dokumentasi lengkapnya dapat disaksikan di: ???? https://youtu.be/UE9ukDQsdZI
Teknologi memungkinkan solidaritas bergerak cepat. Warga dari berbagai daerah berkontribusi sesuai kemampuan, menciptakan akumulasi dana yang signifikan.
Transparansi dan komunikasi langsung menjadi kunci kepercayaan publik.
Penggerak gerakan ini menyebut semangat yang terbangun sebagai “nakama”—sebuah ikatan persahabatan dan saling melindungi.
Istilah ini menjadi simbol bahwa bantuan tidak hanya soal angka, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia.
Gerakan ini disebut sebagai revolusi kecil kebaikan, sebuah inisiatif yang lahir dari empati kolektif.
Ia mengingatkan bahwa di tengah berbagai perbedaan, nilai kemanusiaan dan gotong royong tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Indonesia.
Pengalaman ini menegaskan perubahan lanskap filantropi di Indonesia. Tanpa struktur organisasi formal dan tanpa birokrasi panjang, warga bergerak secara sukarela.
Donasi mengalir dari berbagai lapisan masyarakat, membentuk akumulasi dana yang signifikan dalam waktu singkat.
Kepercayaan publik dibangun melalui transparansi. Siaran langsung memungkinkan masyarakat memantau proses donasi secara real time, sekaligus menciptakan ruang komunikasi dua arah antara penggerak dan publik.
Gerakan ini juga memanfaatkan bahasa budaya populer. Istilah “nakama”, yang merujuk pada ikatan persahabatan dalam anime One Piece, digunakan untuk menggambarkan semangat kebersamaan.
Pendekatan ini menjadikan pesan kemanusiaan lebih mudah diterima, terutama oleh generasi muda.
Lebih dari sekadar bantuan material, dana yang terkumpul dimaknai sebagai dukungan moral dan psikologis bagi para korban.
Solidaritas publik menjadi pengingat bahwa para penyintas bencana tidak menghadapi situasi sulit ini sendirian.
Inisiatif ini disebut sebagai “revolusi kecil kebaikan”—sebuah gerakan yang lahir dari empati kolektif, bukan kebijakan formal.
Ia menegaskan bahwa kekuatan sosial Indonesia terletak pada nilai gotong royong dan kemanusiaan yang tetap hidup di tengah berbagai perbedaan. ***