
Kemandirian pesantren tidak cukup dibangun melalui pendidikan. Penguatan ekonomi juga diperlukan agar pesantren mampu menjaga keberlangsungan pendidikan tanpa terus bergantung pada bantuan pihak lain.
Ketua Pengurus Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Nuri Jawa Timur (KSPPS Nuri Jatim) Achmad Mukhlisin menilai, pesantren perlu mengembangkan usaha produktif untuk memperkuat sumber pendapatan. Sekaligus meningkatkan kesejahteraan santri dan tenaga pendidik.
Menurut dia, donasi bukan sesuatu yang salah. Namun, ketergantungan terhadap bantuan berisiko mengganggu keberlangsungan kegiatan pesantren ketika dukungan tersebut berkurang.
”Dengan kemandirian ekonomi, pesantren diharapkan dapat lebih leluasa mengembangkan pendidikan,” ujarnya.
Momentum Hari Santri Nasional menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi umat.
Semangat itu pula yang melatarbelakangi pendirian KSPPS Nuri Jatim pada 1 Desember 2008.
Koperasi syariah yang dirintis alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar tersebut berangkat dari gagasan bahwa perjuangan memajukan umat harus ditopang pendidikan dan penguatan ekonomi.
Saat itu, pendidikan pesantren berkembang, sementara kegiatan usaha organisasi alumni belum berjalan optimal. Para tokoh alumni kemudian menyepakati pendirian Baitul Maal wat Tamwil (BMT) untuk mendorong pemberdayaan ekonomi umat.
Dalam perkembangannya, Nuri Jatim tidak hanya melayani alumni pesantren, tetapi juga masyarakat umum.
Pembiayaan syariah yang disalurkan dimanfaatkan untuk merintis dan mengembangkan berbagai usaha, mulai dari toko kelontong, pertanian, perikanan, perdagangan emas dan kayu, hingga batik dan rental mobil.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




