(Dari Kepahlawanan M. Tabrani hingga Kamus Adrian Pawitra)
oleh SONNY T. ATMOSENTONO
Pemerhati budaya, tinggal di Jogjakarta
TIDAK banyak yang mengingat dengan cukup baik bahwa pada minggu terakhir Oktober 1928, para peserta Kongres Pemuda Kedua di Gedung Kramat 106 yang saat itu benama Gedung Langen Siswo atau sering dijuluki sebagai Indonesische Clubhuis dengan lantang menyatakan sebaris kalimat ikrar, yang di antaranya adalah ; ”Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mendjoengdjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.”
(naskah orisinil tersebut diabadikan di Museum Sumpah Pemuda dengan menggunakan ejaan Van Ophuijsen).
Dalam konteks inilah, kita perlu menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu elemen penting dalam konstruksi jati diri bangsa.
Dan, dari sepenggal ikrar para pemuda itulah, maka bulan Oktober ini kemudian kita peringati sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.
Tabrani dan Bahasa Indonesia
Mohammad Tabrani Soerjowitjitro (1904–1984), dikenal pada masa itu sebagai salah satu tokoh Jong Java.
Jurnalis dan politikus pergerakan nasional Indonesia ini adalah juga pemimpin redaksi harian Pemandangan (Juli 1936–Oktober 1940 dan Juli 1951–April 1952).
Dilahirkan di Pamekasan, M. Tabrani termasuk di antara segelintir pribumi yang pernah bersekolah di Eropa untuk mendalami ilmu jurnalistik bersama Djamaluddin Adinegoro dan Jusuf Jahja.
Pada 1925, Tabrani sudah memimpin harian Hindia Baroe yang didirikan Haji Agus Salim, lalu menjadi pemimpin majalah Revue Politik di Jakarta (1930–1932), pemimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan (1932–1936), sebelum akhirnya menjadi direktur sekaligus pemimpin harian Pemandangan dan mingguan Pembangoenan.
Ketika menjadi Ketua Kongres Pemuda Pertama yang dilaksanakan pada 30 April–2 Mei 1926 di Loge Ster in Het Oosten (Loji Bintang Timur), Batavia, Tabrani berbeda pandangan dengan Muhammad Yamin yang mengusulkan penyebutan ”Bahasa Melayu” sebagai bahasa persatuan, Tabrani mengajukan identitas ”Bahasa Indonesia” sebagai pilihan yang lebih baik yang didukung oleh Sanusi Pane dan pada akhirnya berhasil disepakati dalam Kongres Pemuda Kedua 1928.
Muhammad Yamin dalam Kongres Pemuda itu memang yang mengusulkan agar bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa pergaulan atau bahasa persatuan, namun penggantian nama dari ”Bahasa Melayu” menjadi ”Bahasa Indonesia” adalah jelas mengikuti usulan dari M. Tabrani seperti yang sudah dia cetuskan sebelumnya pada Kongres Pemuda Pertama (1926).
Tabrani beranggapan bahwa jika tumpah darah dan bangsa tersebut dinamakan Indonesia, maka bahasanya pun harus disebut bahasa Indonesia.
Sebutan Bahasa Indonesia ini telah dimunculkannya dalam harian Hindia Baroe 10 Januari 1926, dan 11 Februari 1926 di koran yang sama, tulisan Tabrani muncul dengan judul ”Bahasa Indonesia” yang di dalamnya terdapat kalimat yang terbaca sangat heroik-patriotik; ”Bangsa dan pembaca kita sekalian! Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu. Bahasa Indonesia belum ada.
Terbitkanlah bahasa Indonesia itu. Karena menurut keyakinan kita kemerdekaan bangsa dan tanah air kita Indonesia ini terutama akan tercapai dengan jalan persatuan anak-Indonesia yang antara lain-lain terikat oleh bahasa Indonesia.”
Tokoh penting dan pelaku sejarah ke-Bahasa Indonesia-an dari Madura ini wafat pada 12 Januari 1984 di Jakarta, dan atas semua jasa-jasanya itu hingga kini sejumlah pihak masih berjuang keras untuk mengusulkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Sebuah Jendela Berwujud Kamus Bahasa Madura
Pada 2009 terbit sebuah kamus yang disusun oleh seorang pekamus, Adrian Pawitra (1969–2023) berjudul ”Kamus Lengkap Bahasa Madura-Indonesia” (KLBMI), yang menurut penulisnya mulai disusun sejak 2000.
Terbitnya kamus setebal 750 halaman pada saat itu menjadi sangat fenomenal, bahkan membuat tokoh sekaliber William D Davis (1954–2017), profesor pada Department of Linguistics di University of Iowa Amerika Serikat secara khusus harus menuliskan pada bagian paragraf pendahuluan di dalam bukunya, ”A Grammar of Madurese” (2010) ; ”Terakhir telah disusun kamus baru oleh Adrian Pawitra (Pawitra, 2009).
Dengan tebal hampir 750 halaman, Kamus Lengkap Bahasa Madura-Indonesia adalah sebuah karya monumental yang memuat pengucapan transkripsi fonetik untuk setiap entri serta informasi etimologis, definisi dalam bahasa Indonesia, sinonim Madura, dan beberapa ungkapan umum.
Saya menyesal bahwa kamus ini diterbitkan setelah naskah buku ini selesai dibuat sehingga tidak dapat dikonsultasikan secara lebih mendalam.”
Setelah KLBMI beredar luas, banyak kalangan yang kemudian mendesak kepada Adrian sebagai penyusun kamus tersebut bahwasanya perlu juga disusun sebuah kamus Bahasa Indonesia-Madura, mengingat sebagian besar tenaga pengajar bahasa daerah di Madura adalah orang non-Madura, sementara pengetahuan orang Madura akan bahasanya daerahnya sendiri sangat minim.
Maka, mulai disusunlah Kamus Bahasa Indonesia-Madura pada sekitar 2010. Setelah berjalan lebih dari 13 tahun sampai penulisnya meninggal dunia pada 17 Juli 2023, perjalanan penyusunan kamus itu belum terlacak dan tidak banyak diketahui orang hingga akhirnya ditemukan oleh keluarga almarhum dalam bentuk file-file digital yang secara teknis sesungguhnya kamus itu bisa dianggap telah paripurna.
Maka kemudian dilakukan proses editing dan layout hingga tercetak dan dapat diterbitkan sebagai Kamus Bahasa Indonesia-Madura (KBIM) yang kemudian dihadirkan dalam dua jilid, masing-masing setebal 682 dan 716 halaman.
KBIM menyajikan 19.473 lema pokok, yang bila ditambahkan dengan derivasi atau kata bentukannya yang mencapai 23.922 sub-lema maka akan memuat 43.395 kosakata.
Meskipun perhitungan angka-angka tadi belum termasuk beberapa bentuk variasi fonetis dan fonemis yang sebagian turut terjelaskan dalam KBIM, namun hal ini telah membuat kamus tersebut menjadi salah satu kamus bilingual dengan jumlah lema terbanyak yang pernah dibuat.
Kita dapat membandingkannya dengan A Dictionary of The Sunda Language of Java (Jonathan Rigg, 1862) yang memuat 9.308 lema, atau Kamus Bahasa Komering-Indonesia (Balai Bahasa Sumatera Selatan, 2022) yang menyajikan 4.479 lema.
Bahkan, KBIM mungkin bisa disandingkan dengan mahakarya Kamus Bahasa Pushkin yang disusun Aleksandr Pushkin pada pertengahan abad ke-20, yang memasukkan sekitar 21.000 root (akar kata) dari bahasa Rusia dan pernah menjadi salah satu kamus pemegang rekor dengan jumlah perbendaharaan kata terbanyak.
KBIM disusun oleh Adrian dengan menyertakan definisi-definisi yang sangat ensiklopedik dan memberi informasi verbal yang cukup terang untuk menjelaskan sisi-sisi unik dari kehidupan manusia Madura beserta ragam adat dan kebudayaannya.
Beberapa kosakata bahkan dijelaskan dengan definisi yang cukup panjang dengan narasi yang menarik, mengenai tradisi adat orang Madura mulai dari pinangan, perkawinan, kehamilan hingga kematian (terwakili dari penjelasan pada lema; bâton, ètek, rongghâng (tanḍâ’), pèlèt betteng, la’-mella’), juga tentang filosofi dan norma sosial (terwakili dari lema; carok, potè mata …), tentang historiografi (terwakili dari lema ; sèlong, Sarandib, sonan, atau pawitra …), dan definisi lema-lema yang terasosiasi pada aspek sosio-antropologis (seperti ; prèkas, ghârâ’â(h), rèng majâng, serrabhi, skilot, langghâr, torrodhân, dan lain-lain).
Mendiang Robert Andrew Blust (1940–2022), pakar bahasa-bahasa Austronesia dan profesor pada Jurusan Linguistik di Universitas Hawaii, Mānoa, pernah menuliskan dalam editorialnya pada Encyclopaedia Britannica; ”Kosa kata suatu bahasa mencerminkan pengalaman kolektif penuturnya, yang mengacu pada dunia alami dan budaya mereka.
Dengan demikian, rekonstruksi kosakata dan identifikasi kata pinjaman dapat memberikan wawasan tentang lingkungan alam dan budaya komunitas bahasa prasejarah serta sifat kontak linguistik mereka.”
Maka, berangkat dari postulat tersebut, kita sesungguhnya dapat mencoba memahami identitas vernakular etnis Madura dari kekayaan perbendaharaan kosakata yang dimilikinya, dan KBIM bisa menjadi sebuah jendela bagi kita untuk dapat melongoknya.
Pada Oktober 2023 ini, KBIM diterbitkan secara perdana oleh penerbitnya bersamaan dengan momentum perenungan dan kemeriahan suasana Bulan Bahasa. Dari sini kita seyogianya dapat sejenak menghikmahi buah dari perjuangan M. Tabrani dan etos pengabdian Adrian Pawitra dalam medan kebudayaan dan kebahasaan. Selamat berkontemplasi! (*)