Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lebaran & Seni Menghargai Perjalanan Hidup

H
Muhyatun, S.Sos., M.A., dosen Fakultas Tarbiyah, Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam, IAI Al-Khairat Pamekasan
Muhyatun, S.Sos., M.A., dosen Fakultas Tarbiyah, Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam, IAI Al-Khairat Pamekasan

Advertisement

Oleh Muhyatun, S.Sos., M.A

 

RAMADAN merupakan salah satu momentum spiritual yang begitu ditunggu oleh sebagian besar orang, setiap tahunnya. Ramadan memiliki nuansa yang sangat berbeda dari bulan-bulan lain, karena selama periode ini, aktivitas yang dilakukan sehari-hari menjadi sarat akan nilai refleksi dan transformasi diri. Selama satu bulan penuh, umat Islam menjalani proses ibadah yang kompleks. Mulai dari puasa sebagai metode pengendalian diri, lantunan zikir dan ayat Al-Qur’an sebagai upaya peningkatan kualitas ibadah, hingga kuasa untuk menjaga lisan sebagai bukti upaya memperbaiki relasi dengan Tuhan maupun sesama manusia.

Advertisement

Memasuki penghujung Ramadan yang kini tinggal menghitung hari, umat Islam ramai dengan giat untuk menyambut Lebaran. Idul Fitri seolah menjadi simbol kembalinya seluruh umat Islam pada fitrah yang dikaruniakan Tuhan, yakni batin yang bersih dan diri yang lebih sadar akan nilai moral setelah satu bulan penuh membangun perjalanan spiritual. Idul Fitri memiliki arti kemenangan, dalam hal ini sejatinya menjadi penegas bahwa seseorang mampu untuk menjaga diri dari berbagai godaan dan menumbuhkan sikap syukur, empati, serta kesadaran untuk terus memperbaiki diri ke depan.

Dalam konteks sosial, perayaan Lebaran atau Idul Fitri tidak lengkap tanpa adanya tradisi silaturahmi. Oleh karena itu, kunjungan antar keluarga, kerabat, dan sahabat menjadi sarana yang berfungsi untuk mempererat hubungan sosial serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan pasca Ramadan. Pada dasarnya, keberadaan tradisi ini mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, silaturahmi menjadi aktivitas sosial sekaligus praktik budaya yang tujuannya adalah mengokohkan solidaritas serta keharmonisan dalam komunitas.

Advertisement

Namun, fenomena yang terjadi, tidak jarang dari momen silaturahmi Lebaran, beberapa orang harus menahan sakit hati atas percakapan dan obrolan yang terlalu personal. Sebagian orang kurang meneguhkan empati dan kesadaran moral untuk menahan tanya tentang update pekerjaan, penghasilan, pasangan hidup, hingga pencapaian.

Lebaran yang seharusnya menjadi ruang kembali pada fitrah, justru beralih menjadi arena pertanyaan yang melelahkan. ”Kamu sudah kerja di mana?”, ”kamu kapan menikah?”, atau ”gajinya berapa?”. Tanpa disadari, bagi sebagian orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan, pertanyaan sederhana seperti di atas seolah menjadi pengingat atas kegagalan yang belum selesai dipulihkan. Sungguh ironi, alih-alih mengapresiasi, percakapan yang ada justru penuh ego dan luka.

Fenomena di atas sejalan dengan konsep social comparison, yakni individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Lebaran bukan ajang untuk mempraktikkan teori ini, dan memicu tekanan psikologis dalam diri seseorang.

Dalam banyak kasus, basa-basi ini dibingkai sebagai bentuk keakraban. Akan tetapi, perlu disadari jika pertanyaan atas persoalan personal dapat menghadirkan ketidaknyamanan psikologis. Jadi, seberapa sering diri kita menyebarkan kekerasan simbolik yang dibungkus dalam tradisi keakraban?

Realitas selalu mengingatkan bahwa setiap orang tidak berdiri atas latar belakang hidup, pengalaman, serta dinamika hidup yang serupa. Tidak semua orang menghadapi Lebaran dengan fase kehidupan yang sedang baik-baik saja, baik dalam hal karier, kondisi ekonomi, maupun relasi personal. Sebagian mungkin sedang berjuang menghadapi ketidakpastian hidup, pekerjaan, tekanan ekonomi, dan persoalan pribadi. Begitu juga mereka tidak selalu berkenan untuk dibicarakan secara terbuka kepada khalayak keluarga. Karena itulah, terkadang pertanyaan sederhana dapat berubah menjadi pengalaman sosial yang melahirkan trauma.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sakralisasi Individu: Akar Krisis di Pesantren

Sakralisasi Individu: Akar Krisis di Pesantren

Dalam banyak pesantren, kiai tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menentukan kerangka berpikir santri: bagaimana memahami agama, bagaimana memandang diri, bahkan bagaimana merespons otoritas.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer