Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Malam Salekoran dalam Teropong Etnomatematika

H

Moh. Zayyadi, dekan FKIP Universitas Madura
Moh. Zayyadi, dekan FKIP Universitas Madura


Advertisement

Oleh Moh. Zayyadi

 

RAMADAN bagi masyarakat di Pulau Madura tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai momentum untuk merawat tradisi dan kebersamaan. Salah satu tradisi yang masih hidup adalah malam salekoran (malam ke-21), sebuah kegiatan yang dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadan. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur sekaligus penanda bahwa umat Islam telah memasuki sepuluh malam terakhir yang penuh keberkahan.

Advertisement

Dalam praktiknya, masyarakat berkumpul di masjid atau musala untuk beribadah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan berbagi makanan yang telah disiapkan, di mana hidangan yang paling identik adalah serabi, kue tradisional berbahan dasar tepung dan santan.

Serabi ini kemudian diantarkan kepada tetangga atau kerabat dalam tradisi yang dikenal dengan istilah ter-ater. Melalui ter-ater, masyarakat saling berbagi makanan sebagai simbol persaudaraan dan kepedulian sosial.

Jika ditelisik lebih dalam, tradisi malam salekoran tidak hanya sarat nilai religius dan sosial, tetapi juga menyimpan praktik-praktik matematika yang hidup dalam budaya masyarakat.

Advertisement

Perspektif ini dikenal dalam kajian etnomatematika, yaitu pendekatan untuk memahami bagaimana konsep-konsep matematika lahir, digunakan, dan diwariskan dalam praktik budaya suatu masyarakat. Berikut adalah analisis etnomatematika yang lebih mendalam dari tradisi ini:

Pertama, Sistem Bilangan dan Penanggalan: Istilah "salekoran" berasal dari kata "salekur" dalam bahasa Madura yang berarti angka dua puluh satu. Penamaan ini secara eksplisit menunjukkan penggunaan sistem bilangan dalam kehidupan sehari-hari untuk menandai momen religius yang penting.

Angka 21 di sini bukan sekadar nominal, melainkan berfungsi sebagai penanda batas waktu dimulainya fase-fase penting Ramadan (10 malam terakhir). Ini membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya mengenal angka, tetapi juga memaknainya sebagai alat untuk mengorganisasi ritual keagamaan. Konsep bilangan ordinal (ke-21) pun melekat dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Kedua, Setiap keluarga biasanya menyiapkan sejumlah serabi yang kemudian diantar (ter-ater) ke masjid atau musala. Serabi tersebut tidak dibagikan langsung kepada tetangga, melainkan dikumpulkan sebagai bentuk sedekah yang diperuntukkan bagi kiai atau tokoh agama yang memimpin doa pada malam salekoran.

Dalam proses ini, secara tidak langsung terdapat praktik perhitungan yang dilakukan oleh masyarakat, seperti menentukan jumlah serabi yang akan dibuat dan dibawa ke musala, serta mengumpulkannya bersama serabi dari keluarga lain sebelum kemudian disedekahkan.

Aktivitas sederhana ini menunjukkan adanya praktik berhitung dan pengorganisasian dalam tradisi masyarakat yang dapat dilihat melalui perspektif etnomatematika.

Ketiga, Estimasi dan Pengukuran. Proses pembuatan serabi dalam jumlah besar untuk dibagikan melibatkan keterampilan estimasi dan pengukuran yang kompleks. Estimasi kuantitas: Ibu-ibu Madura akan memperkirakan (ngira) berapa banyak adonan yang dibutuhkan.

Mereka tidak menggunakan rumus, tetapi menggunakan pengalaman dan pengetahuan turun-temurun. Misalnya, "satu liter tepung biasanya cukup untuk 20 buah serabi ukuran sedang." Ini adalah bentuk praktis dari pemodelan matematika.

Berikutnya konsep proporsi dan perbandingan: Resep serabi melibatkan perbandingan (rasio) yang tetap antara tepung, santan, dan gula. Ketika bahan baku dinaikkan menjadi dua atau tiga kali lipat, secara intuitif mempraktikkan konsep skala dan proporsi untuk menjaga cita rasa agar tetap konsisten.

Keempat, Geometri dan Pola. Proses penyusunan serabi di atas nampan atau wadah sebelum diantarkan sering kali memperlihatkan pola-pola geometris. Susunan melingkar, berbaris lurus (linear), atau pola selang-seling (misalnya, serabi pisang dan serabi pandan diletakkan berselang) adalah representasi visual dari konsep pola bilangan dan simetri dalam matematika. Kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pemahaman intuitif tentang keteraturan dan estetika ruang.

Melalui sudut pandang etnomatematika, tradisi malam salekoran menunjukkan bahwa matematika bukanlah entitas asing yang hanya ada di ruang kelas. Matematika adalah aktivitas manusia (human activity) yang hidup dan bernapas dalam praktik budaya sehari-hari.

Mulai dari penamaan waktu (bilangan), proses berbagi (aritmetika), memasak (estimasi dan rasio), hingga menyajikan (geometri), semuanya adalah bukti bahwa kearifan lokal merupakan sumber belajar yang kontekstual dan kaya makna.

Dengan demikian, melestarikan tradisi malam salekoran berarti tidak hanya menjaga tali silaturahmi dan warisan kuliner, tetapi juga merawat cara berpikir logis, sistematis, dan penuh perhitungan yang telah lama menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat Madura.

Melestarikan tradisi ini berarti tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga merawat cara masyarakat memaknai kehidupan melalui praktik-praktik sederhana yang sarat makna. (*/han)

*)Dekan FKIP Universitas Madura

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar MaduraIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menggugat Kemajuan Madura

Menggugat Kemajuan Madura

Perbaiki dan majukan Madura. Setidaknya agar anak-anak Madura di sana tetap bertahan dan tidak datang ke daerah lain di Indonesia untuk jadi tukang parkir liar, debt collector kejam.

Dari Dapur Redaksi ke Ruang Demokrasi

Dari Dapur Redaksi ke Ruang Demokrasi

Menjadi wartawan juga memberi kesempatan untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian. Melalui pemberitaan, persoalan masyarakat kecil bisa disuarakan agar mendapat perhatian dari pihak terkait.

Bupati Kholil Ajak Generasi Muda Rawat Tradisi, Buka Kejuaraan Karapan Sapi Tingkat Kabupaten

Bupati Kholil Ajak Generasi Muda Rawat Tradisi, Buka Kejuaraan Karapan Sapi Tingkat Kabupaten

Ketua Pakar Sakera Pamekasan Moch. Fahrurozi menyebut pelaksanaan Piala Kabupaten 2026 berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena tidak melalui seleksi tingkat kawedanan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer