DARUL HAKIM, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura
KONDISI gedung SDN Planggiran 1, Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan, memprihatinkan. Sebagian ruangan sudah tidak bisa ditempati. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung di halaman sekolah.
Siswa yang belajar di SDN Planggiran 1 relatif banyak. Yakni, 137 siswa. Perinciannya, kelas I 30 siswa, kelas II 23 siswa, dan kelas III 17 orang. Kemudian, di kelas V terdapat 21 siswa dan kelas VI ada 24 siswa.
Pantauan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), terdapat tiga ruangan rusak parah. Jadi, tersisa tiga ruang kelas yang bisa dipakai. Itu pun kondisinya kurang layak. Sebab, atap jebol, dinding retak, dan sebagian lantai pecah. Sebagian diperbaiki dengan biaya dari para guru.
Plt Kepala SDN Planggiran 1 Suwarni Siswo Haryati menyampaikan, tiga ruang kelas tidak dipakai lantaran takut membahayakan. ”Kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan membahayakan,” katanya kemarin (14/2).
Perempuan berhijab itu menambahkan, tiga ruangan yang sudah tidak dipakai hampir tiga tahun berjalan. Yakni, kelas III dan IV serta kantor. Dengan demikian, siswa belajar di halaman sekolah. ”Kalau kelas I dan II masuknya bergantian,” imbuhnya.
Perempuan yang juga menjabat kepala SDN Tanjungbumi 2 itu menuturkan, pernah ada wali murid memprotes karena anaknya belajar di luar kelas. ”Tiga ruangan yang masih bisa ditempati yakni, kelas VI, I, dan II. Ruang perpustakaan disekat menjadi tiga. Ditempati kantor, kelas V, dan ruang perpustakaan,” urainya.
Pihaknya sudah berkali-kali mengajukan perbaikan. Termasuk saat dirinya menjabat kepala pada 2015. Bahkan, perwakilan dinas pernah melakukan survei. Namun, belum pernah mendapatkan bantuan. ”Kami sudah berkali-kali mengajukan lewat dapodik. Tapi, belum beruntung,” tuturnya lantas tertawa.
Tidak hanya itu, komite sekolah juga pernah mengajukan ke kementerian. Bahkan, sudah disurvei. Namun, tidak pernah ada tindak lanjut. Pihaknya berharap ada bantuan rehabilitasi sekolah. Dengan demikian, KBM berjalan normal dan tidak waswas saat belajar.
”Karena bagaimanapun murid harus mendapat kenyamanan saat belajar. Kalau kondisi seperti ini (ruang kelas rusak), KBM tidak maksimal. Kami khawatir kepada murid. Bahkan, saat hujan, siswa yang belajar di luar kelas kami liburkan. Terutama kelas I, II, dan III. Kami juga sudah izin ke korwil,” jelasnya.
Seorang guru Sri Hayati mengatakan, perbaikan terakhir pada 2000. Setelahnya, tidak ada perbaikan sama lagi. Hingga kondisi tiga ruang kelas rusak dan tidak dipakai. ”Tiga ruang kelas yang tidak dipakai lebih kurang tiga tahun. Kalau kelas V dialihkan sejak lima tahun lalu,” ungkapnya.
Perempuan 46 tahun itu berharap ada perhatian pemerintah untuk perbaikan ruangan tersebut. Dengan demikian, KBM berjalan maksimal, aman, dan nyaman. ”Tanggung jawab kami seharunya mengajar siswa karena kondisi bangunan memprihatinkan. Kami juga bertanggung jawab untuk menjaga siswa,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dispendik Bangkalan Bambang Budi Mustika menuturkan, banyak sekolah rusak di Bangkalan. Untuk perbaikan ruang kelas sekolah bisa dari Kementerian PUPR. Tahun ini rencananya ada 63 sekolah yang bakal diperbaiki. ”Semuanya berbasis anggaran,” katanya.
Bambang menambahkan, anggaran di instansinya tidak semuanya untuk rehab gedung. Ada juga untuk sanitasi dan kegiatan lain. Anggaran tersebut juga berbasis data dapodik by name. Kabupaten tinggal melaksanakan. Jika tanah tidak bermasalah dan murid lebih dari 60 akan dapat. ”Doanya saja. Semoga ada kabar baik tahun ini. Kalau sudah kewenangan PUPR, kami tidak bisa ikut campur,” ucapnya. (*/han) Editor : Abdul Basri