SUMENEP, RadarMadura.id – Permintaan bantuan air bersih di Kabupaten Sumenep terus bertambah seiring meluasnya dampak kekeringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep mencatat, pengajuan distribusi air dari masyarakat telah melampaui 30 permohonan, baik dari wilayah daratan maupun kepulauan.
Kepala Pelaksana BPBD Sumenep Kamiluddin mengatakan, permintaan tersebut masih berpotensi meningkat mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
Pihaknya akan terus melayani pengajuan selama persediaan air mencukupi dan bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
”Angka pastinya saya belum cek, tetapi sementara ini sudah lebih dari 30 pengajuan dari masyarakat, baik di daratan maupun kepulauan,” katanya.
Baca Juga: 50 Desa di Bangkalan Krisis Air Bersih, BPBD Bangkalan Hanya Operasikan Dua Armada
Dijelaskan, sejumlah wilayah kepulauan telah menerima distribusi air bersih.
Di Kecamatan Gayam dan Nonggunong, masing-masing telah mendapat dua kali penyaluran.
Sementara di Kecamatan Kangayan, BPBD juga telah menyalurkan bantuan air sebanyak dua kali, disertai tambahan 60 jeriken untuk memenuhi kebutuhan warga
Menurutnya, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan BPBD.
Sejumlah pihak swasta, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), hingga HCML turut membantu masyarakat, khususnya di Kecamatan Gayam dan Nonggunong.
BPBD sendiri telah membeli air melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPAM) setempat untuk didistribusikan kepada warga.
Di Kecamatan Kangayan, kebutuhan warga saat ini masih sebatas tandon dan jeriken. Belum ada permintaan distribusi air bersih.
Namun, BPBD tetap menyiapkan langkah lanjutan apabila kondisi di lapangan mengharuskan penyaluran air.
Baca Juga: Potensi Laut Disulap Jadi Cuan, Makan Ikan Serap Delapan Karyawan
Permohonan serupa juga datang dari wilayah Gili Raja, Kecamatan Gili Genting. Warga mengajukan bantuan tandon dan air bersih.
”Kami masih berkoordinasi dengan camat dan kepala desa untuk menentukan jadwal distribusi melalui HIPAM agar penyaluran tepat sasaran,” ungkapnya.
Selain solusi jangka pendek, pihaknya mulai mengkaji solusi jangka panjang bagi wilayah yang mengalami kekeringan kritis, terutama daerah yang tidak memiliki sumber air.
Opsi yang dipertimbangkan meliputi pengeboran di lokasi yang memungkinkan serta pembangunan jaringan pipa dari desa tetangga yang memiliki sumber air memadai.
”Kalau memang tidak ada sumber air, kami akan kaji apakah memungkinkan dilakukan pengeboran atau pipanisasi dari desa sebelah. Namun, karena ini bisa melibatkan lintas desa, tentu perlu pembahasan dan koordinasi lebih lanjut,” jelasnya.
Dia menambahkan, realisasi solusi permanen membutuhkan dukungan anggaran dan keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, termasuk dinas pekerjaan umum dan tata ruang (PUTR).
Karena itu, BPBD akan mengoordinasikan rencana tersebut agar penanganan kekeringan tidak hanya bergantung pada distribusi air bersih.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air.
Baca Juga: Indonesia Juara! Thailand Ditaklukkan Lewat Adu Penalti 4-2
Berdasarkan hasil koordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung panjang hingga Desember mendatang.
”Kami mengimbau masyarakat agar bijak menggunakan air, menghemat pemakaian, dan menjaga sumber air yang masih tersedia. Mudah-mudahan kemarau ini segera berlalu,” ucapnya.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Sumenep Sami'oeddin meminta BPBD meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun.
Menurutnya, distribusi air bersih harus dilakukan secara merata dengan memprioritaskan wilayah yang mengalami kekeringan kritis dan kesulitan mengakses sumber air.
Dia juga mendorong pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penanganan darurat.
Tetapi, mulai merealisasikan solusi jangka panjang agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap tahun.
”Pemerintah perlu menyiapkan langkah permanen, seperti pembangunan tandon, pengeboran sumur, maupun pipanisasi,” pintanya. (tif/han)
Editor : Hera Marylia