Sepekan, Kayu Gelondongan di Pesisir Dungkek Tidak Dievakuasi

Hera Marylia • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 08:50 WIB
KESULITAN: Nelayan hendak melaut di antara kayu gelondongan yang berserakan di Desa Bicabbi, Kecamatan Dungkek, Sumenep. (MADSUDI UNTUK JPRM)
KESULITAN: Nelayan hendak melaut di antara kayu gelondongan yang berserakan di Desa Bicabbi, Kecamatan Dungkek, Sumenep. (MADSUDI UNTUK JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Sepekan berlalu sejak ratusan kayu gelondongan terdampar di pesisir Kecamatan Dungkek, hingga kini material tersebut masih berserakan dan belum dievakuasi.

Kondisi itu terus mengganggu aktivitas nelayan dan warga yang menggantungkan penghasilan dari kawasan pesisir.

Warga Desa Bicabbi, Kecamatan Dungkek, Madsudi mengatakan, proses penanganan masih berjalan.

Rencananya, pembahasan teknis evakuasi dilakukan bersama pemilik kayu dan anak buah kapal (ABK).

”Sampai saat ini belum dievakuasi, masih dalam proses penanganan. Nanti malam masih akan rapat untuk teknis evakuasinya dengan pemilik kayu dan ABK,” kata Madsudi.

Baca Juga: Ubaid Jadi Penentu Emas Indonesia, Timnas Indonesia Taklukkan China 3-2 di Final Asian Games

Dia mengungkapkan, dampak kejadian tersebut juga dirasakan pemilik perahu. Berdasarkan pendataan warga, terdapat 39 perahu yang terdampak.

Enam di antaranya mengalami kerusakan parah, satu perahu rusak berat hingga karam, sedangkan empat perahu lainnya mengalami kerusakan ringan. Selebihnya hanya mengalami lecet.

”Sudah satu minggu sampai sekarang,” ucapnya.

Menurut Madsudi, kondisi kayu yang terus bergerak mengikuti gelombang membuat nelayan harus ekstra hati-hati.

Di wilayah tersebut terdapat tiga jenis aktivitas nelayan, yakni menggunakan perahu losongan tanpa mesin, sampan, serta pengambilan serabut kelapa yang direndam di laut.

Menurutnya, nelayan pengguna losongan masih dapat melaut. Namun, mereka harus memindahkan kayu terlebih dahulu saat hendak berangkat maupun kembali ke daratan.

”Kalau yang losongan itu bisa beraktivitas, tapi saat mau berangkat dan pulang harus memindahkan kayu. Kayu itu kan bergerak terus, jadi kalau mau lewat harus memindahkan kayu dulu,” katanya.

Baca Juga: Sungai Ke' Lesap, Pesona Air Jernih di Tengah Rindangnya Pepohonan di Bangkalan

Sementara itu, nelayan yang menggunakan sampan harus berjalan ke tengah laut untuk menuju perahunya. Mereka terpaksa melewati tumpukan kayu yang masih berada di sekitar pesisir.

Gangguan lebih besar dirasakan warga yang mengelola serabut kelapa. Madsudi menyebut sekitar 60 lahan serabut kelapa terdampak.

Sebanyak 70 persen di antaranya tidak dapat dimanfaatkan karena tertimpa kayu gelondongan.

”Kalau yang serabut kelapa, 70 persen tidak bisa mengambil serabutnya karena tertimpa kayu-kayu itu,” ungkapnya.

Serabut kelapa tersebut biasanya dimanfaatkan untuk membuat sapu, keset kaki, hingga tali tambang.

Kondisi itu membuat warga tidak hanya mengalami kerugian dari sisi perbaikan perahu, tetapi juga kehilangan aktivitas ekonomi.

Untuk kerugian akibat kerusakan perahu, warga telah melakukan pendataan dan membentuk forum.

Data tersebut kemudian diserahkan kepada pemilik kayu untuk menjadi bahan penanganan.

”Intinya, kerugiannya ada finansial dan nonfinansial,” tegas Madsudi.

Baca Juga: Dilantik Tapi Tak Diterima: Pelajaran Kepemimpinan dari UINSA

Sebelumnya, ratusan kayu gelondongan mulai terdampar di pesisir Desa Bicabbi, Desa Romben Guna, dan Desa Dungkek pada Sabtu (19/9).

Material tersebut merupakan muatan TK Lintas Samudera XXIII yang ditarik TB Yamdena 03 dari Kalimantan Timur menuju Probolinggo.

Kayu mulai terbawa gelombang dan tiba di sejumlah titik pesisir sekitar pukul 18.00 WIB.

Hingga pukul 22.00 WIB, material terus berdatangan dan memenuhi sejumlah kawasan pantai di Kecamatan Dungkek. 

Kayu yang terdampar berukuran besar, dengan diameter mencapai sekitar 3 meter dan panjang sekitar 12 meter. (tif/han)

Editor : Hera Marylia
kayu gelondongan kawasan pesisir evakuasi terdampar