Dinkes P2KB Sumenep Dorong Pesantren Perkuat Kesehatan Santri

Amin Basiri • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:01 WIB
FOKUS: Petugas Dinkes P2KB Sumenep memberikan pembinaan pada para santri di Ponpes Mambaul Ulum, Manding, Sumenep, Rabu (5/8).
FOKUS: Petugas Dinkes P2KB Sumenep memberikan pembinaan pada para santri di Ponpes Mambaul Ulum, Manding, Sumenep, Rabu (5/8).

MANDING, RadarMadura.id – Pesantren dinilai menjadi lingkungan strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Sebab, aktivitas santri berlangsung dalam satu kawasan selama 24 jam.

Dinkes P2KB Sumenep mendorong pondok pesantren memperkuat sistem kesehatan bagi para santri. 

Karena itu, Dinkes P2KB Sumenep memberikan pendampingan kesehatan di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Manding, Rabu (5/8).

Kegiatan itu diarahkan untuk memperkuat pos kesehatan pesantren (poskestren) agar berperan dalam edukasi, pencegahan penyakit, serta penggerak perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Terdapat 31 peserta yang terdiri atas santriwati, santri husada, pengurus pondok, serta pendamping dari Puskesmas Manding yang mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka diajak memetakan berbagai persoalan kesehatan yang muncul di lingkungan pesantren. 

Hasil Survei Mawas Diri (SMD) dijadikan bahan pembahasan dalam Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren (MMPP) untuk menentukan langkah penanganan yang dianggap prioritas.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ellya Fardasah mengatakan, penguatan kesehatan di pesantren tidak cukup dilakukan melalui penyuluhan.

Pesantren perlu memiliki sistem yang mampu berjalan secara mandiri dan berkelanjutan agar persoalan kesehatan bisa dicegah dan ditangani sejak dini. 

”Pendampingan ini bukan sekadar kegiatan penyuluhan, tetapi bagian dari upaya membangun kemandirian pesantren dalam mengelola kesehatan warganya,” katanya.

Dia menjelaskan, poskestren memiliki peran penting sebagai pusat edukasi sekaligus deteksi dini berbagai persoalan kesehatan.

Karena itu, pihaknya mendorong keberadaan Poskestren dimanfaatkan untuk menggerakkan PHBS di lingkungan pondok. 

”Kami ingin Poskestren benar-benar berfungsi sebagai pusat edukasi, deteksi dini penyakit, dan penggerak PHBS di lingkungan pondok,” tegas Ellya.

Selain PHBS, perhatian juga diarahkan terhadap kesehatan remaja putri. Santriwati mendapatkan tablet tambah darah (TTD) disertai edukasi cara mengonsumsinya.

 Upaya tersebut dilakukan untuk menekan risiko anemia pada kelompok remaja perempuan.

Dinkes P2KB juga mendorong pesantren memperkuat deteksi dini terhadap penyakit menular dan persoalan kesehatan mental.

Skrining tuberkulosis (TBC) dan kesehatan jiwa menjadi bagian dari pendampingan agar potensi gangguan kesehatan dapat diketahui lebih cepat. 

”Santriwati kami dorong disiplin mengonsumsi tablet tambah darah agar terhindar dari anemia,” paparnya.

Menurut Ellya, kemampuan pesantren melakukan inspeksi kesehatan lingkungan secara mandiri juga penting untuk menciptakan kawasan asrama yang bersih dan nyaman.

Dengan lingkungan yang terjaga, risiko penyebaran penyakit di kalangan santri bisa ditekan. 

”Harapannya, lahir pesantren yang sehat, produktif, dan menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya,” tukasnya. (tif/bil)

Editor : Amin Basiri
pendampingan kesehatan Dinkes P2KB Sumenep pondok pesantren