SUMENEP, RadarMadura.id — Bendera Merah Putih berkibar di gerbang utama Kampong Pocang Temor, Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Sumenep, sejak awal Agustus.
Gapura bertuliskan ”Kampong Pocang Temor” itu kini dihiasi spanduk besar bertema HUT Ke-81 RI dengan slogan ”Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”. Pemandangan ini menjadi penanda dimulainya semarak peringatan kemerdekaan di kampung sebelah utara balai desa tersebut.
Rangkaian kegiatan digagas dan dilaksanakan oleh Pemuda Pocang Temor (PPT). Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini PPT kembali mengemas peringatan 17 Agustus dengan sentuhan gotong royong dan nuansa edukatif. Tujuannya sederhana, menumbuhkan rasa cinta tanah air dari kampung.
”Tema nasional kita jadikan semangat di tingkat kampong. Kami ingin agustusan tidak hanya seremonial, tapi juga menghidupkan kebersamaan warga,” kata Busaki, salah seorang penggerak PPT, saat ditemui di lokasi, Senin (3/8/2026).
Kegiatan pertama yang langsung mencuri perhatian adalah keberadaan dua bendera yang berkibar di atas gerbang utama Pocang Temor. Di antara dua bendera itu terdapat lambang burung garuda.
Tak berhenti di gerbang, sepanjang jalan utama Pocang Temor kini dipenuhi ratusan umbul-umbul merah putih. Umbul-umbul itu dipasang berjejer dari pintu masuk kampung hingga ke pemukiman warga baik yang masuk wilayah Desa Cangkreng maupun masuk Desa Meddelan.
Jaraknya sengaja dibuat rapat agar saat tertiup angin, warna merah putih seperti melambai menyambut siapa saja yang melintas. ”Ada ratusan umbul-umbul. Dana patungan, tenaga juga swadaya. Ada yang menyiapkan bambu, ada yang mengikat,” jelas Busaki sambil menunjuk deretan umbul-umbul yang mulai terpasang rapi.
Kemeriahan juga terasa saat malam tiba. Di area taneyan lanjang, sebutan untuk halaman panjang khas Madura di tengah kampung, kaum perempuan mendorong pemasangan lampu hias merah putih. Lampu-lampu kecil berbentuk bintang dan bendera digantung melintang, meneguhkan taneyan lanjang sebagai titik kumpul warga setiap malam.
Taneyan lanjang dipilih karena menjadi ruang publik utama di Pocang Temor. Di sinilah warga biasa berkumpul, anak-anak bermain, dan kegiatan kampung digelar. Dengan lampu hias itu, suasana malam agustusan jadi lebih hidup dan meriah.
Puncak acara akan diisi dengan aneka lomba hiburan dan edukatif. PPT menyiapkan lomba tradisional seperti balap kelereng, nyunggi tampah, dan lain-lain. ”Yang edukatif sengaja kami selipkan. Ada kuis tentang proklamasi dan pahlawan. Kami tidak mau anak-anak hanya tahu lombanya, tapi juga tahu mengapa kita merdeka,” ujar imbuh Luqman Hakim, salah seorang warga Pocang Temor.
Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan doa bersama di taneyan lanjang. Doa dipanjatkan untuk para pahlawan, untuk keselamatan bangsa, dan untuk keberkahan warga Pocang Temor. Setelah doa, akan dilanjutkan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba dan duduk bareng untuk memupuk kebersamaan.
Bagi warga Pocang Temor, agustusan tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya karena dekorasi yang lebih ramai, tapi karena seluruh prosesnya digerakkan dari dalam kampung sendiri. Semangat ”berdaulat” dari tema nasional benar-benar diwujudkan dengan swadaya pemuda.
”Harapan kami sederhana. Setelah 81 tahun merdeka, di kampong kecil ini kami tetap bisa menunjukkan bahwa Merah Putih itu hidup. Hidup di gerbang, di jalan, di lampu, dan di hati warga,” tegas Hakim. (luq)
Editor : Amin Basiri