Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Bupati Sumenep Minta Pemdes Proaktif Melapor, Jika Wilayahnya Alami Kekeringan

Hera Marylia Damayanti • Sabtu, 4 Juli 2026 | 06:05 WIB
KEBUTUHAN UTAMA: Anggota Polri menyalurkan air bersih di wilayah Kecamatan Batuputih, Sumenep, Jumat (19/6). (POLRES UNTUK JPRM)
KEBUTUHAN UTAMA: Anggota Polri menyalurkan air bersih di wilayah Kecamatan Batuputih, Sumenep, Jumat (19/6). (POLRES UNTUK JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Puluhan desa di Kabupaten Sumenep berpotensi mengalami kekeringan di musim kemarau tahun ini.

Karena itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo meminta seluruh pemerintah desa (pemdes) lebih proaktif melapor kepada pemerintah agar mendapatkan penanganan cepat. Seperti dropping air bersih.

Orang nomor satu di Sumenep itu menyatakan, pemdes memiliki peran vital dalam penanganan dampak kekeringan.

Oleh sebab itu, kepala desa dan perangkatnya harus aktif memantau kondisi di lapangan.

”Yang penting adalah, pemerintah desa lebih responsif dalam melaporkan jika terjadi kekeringan di suatu daerah,” ujarnya.

Kemarau tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Tetapi, juga berdampak terhadap pertanian yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar warga Kota Sumenep.

”Kondisi ini biasanya berdampak pada kebutuhan air bersih dan pertanian. Karena itu, informasi dari seluruh stakeholder desa menjadi langkah penting agar penanganan bisa segera dilakukan,” ucapnya.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Kadir menyatakan, pemetaan daerah kekeringan telah dilakukan.

Sehingga, terbitlah Surat Keputusan (SK) Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026.

Dalam surat itu disebutkan, terdapat 76 desa di 19 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan.

Penetapan lokasi status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026 tersebut dibagi dalam kategori kering kritis, kering langka, kering langka terbatas.

”Sudah ada pemetaaan, biasanya setelah satu bulan musim kemarau, wilayah yang kering kritis mulai membutuhkan suplai air bersih. Itu memang menjadi prioritas yang perlu kita suplai di awal,” ucapnya.

Dia menambahkan, pemetaan tersebut juga menjadi acuan pemkab dalam melaksanakan mitigasi jangka panjang.

BPBD bersama dinas PUTR dan kodim terus memperluas program pengeboran sumur di daerah yang kerap dilanda kekeringan.

”Ada beberapa daerah yang awalnya kering kritis, sekarang sudah menjadi kering langka dengan bantuan pengeboran yang dilakukan pemerintah, termasuk bersama kodim. Upaya ini terus kami lakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap suplai air bersih,” tandasnya. (tif/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kabupaten sumenep #Pemdes #kekeringan #proaktif #Musim kemarau