SUMENEP, RadarMadura.id – Pemerintah Kabupaten Sumenep dihadapkan dengan tantangan besar dalam penanganan penyakit tuberkulosis (TBC).
Salah satunya, masalah ekonomi dan kepatuhan masyarakat untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan.
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mencatat, sejak 2026 terdapat 716 warga yang terdeteksi menderita TBC. Mayoritas kelompok usia produktif. Yakni usia 25 hingga 56 tahun.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Sumenep Achmad Syamsuri menyampaikan, tantangan terbesar dalam penanganan TBC bukan masalah pengobatan. Tetapi, deteksi dini untuk menemukan penderita TBC.
Selama ini, sedikit warga yang telah mendapat rekomendasi pemeriksaan lanjutan tetapi tidak datang ke fasilitas kesehatan rujukan
”Kadang saat dianjurkan dirujuk, mereka tidak datang. Mungkin karena faktor jauh, butuh pengantar, sedangkan itu tidak kita tanggung biayanya,” jelasnya.
Mayoritas warga yang dirujuk masih dalam kondisi cukup sehat dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pada umumnya, mereka mengalami batuk berkepanjangan selama lebih dari dua pekan.
Namun belum menunjukkan kondisi yang membuat mereka merasa perlu segera berobat.
Kondisi tersebut diperparah oleh persoalan biaya dan akses transportasi. Sebagian warga membutuhkan pendamping untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Sementara kebutuhan transportasi maupun akomodasi belum sepenuhnya dapat difasilitasi layanan kesehatan.
”Kesulitannya memang pada penjaringan penemuan kasus. Ada masyarakat yang sudah dirujuk, tetapi tidak menindaklanjuti karena berbagai alasan, termasuk faktor biaya dan pendamping,” ucapnya.
Pihaknya kini menggandeng lembaga nonpemerintah yang menyediakan layanan mobile rontgen.
Fasilitas itu dimanfaakan saat petugas turun ke masyarakat, sehingga warga yang membutuhkan pemeriksaan dapat langsung menjalani skrining di lokasi.
”TBC tidak bisa sembuh tanpa pengobatan medis. Penderitanya harus menjalani terapi secara rutin selama minimal enam bulan agar benar-benar sembuh dan tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain,” tandasnya.
Anggota Komisi IV DPRD Sumenep, Sami'oeddin, meminta pemerintah memperkuat upaya pencegahan dan penanganan TBC. Khususnya pada kelompok usia produktif.
Edukasi kepada masyarakat harus terus ditingkatkan. Terutama terkait pola hidup sehat dan pentingnya deteksi dini.
Pihaknya juga mendorong optimalisasi layanan kesehatan hingga ke wilayah kepulauan agar penanganan kasus bisa lebih merata.
”Pemerintah harus memperkuat langkah preventif, termasuk sosialisasi dan skrining. Jangan sampai kasus terus bertambah karena keterlambatan penanganan,” pintanya. (tif/jup)
Editor : Amin Basiri