Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menu MBG Tak Sesuai Rekomendasi BGN, Korwil SPPG Sumenep Beralasan Susu Full Cream Langka

Amin Basiri • Jumat, 27 Februari 2026 | 20:00 WIB

BUTUH PENGAWASAN: Menu MBG yang disalurkan kepada penerima manfaat oleh SPPG Sumenep Lenteng Lenteng Timur, Senin (23/2).
BUTUH PENGAWASAN: Menu MBG yang disalurkan kepada penerima manfaat oleh SPPG Sumenep Lenteng Lenteng Timur, Senin (23/2).

SUMENEP, RadarMadura.id – Badan Gizi Nasional (BGN) merekomendasikan susu full cream untuk menu makan bergizi gratis (MBG).

Namun, di lapangan masih banyak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) menggunakan susu rasa-rasa.

Seperti yang terlihat dalam paket menu MBG yang didistribusikan SPPG Sumenep Lenteng Lenteng Timur, Senin (23/2).

Susu dalam paket MBG SPPG milik Yayasan Rumah Juang Garuda Emas itu susu rasa-rasa. 

Menu paket MBG itu untuk jatah tiga hari hingga Rabu (25/2).

Menu porsi kecil berupa satu bungkus roti, tiga susu kotak merek Indomilk rasa stroberi dan cokelat, serta empat butir telur puyuh.

Selain itu, paket MBG untuk siswa PAUD hingga kelas 3 SD/MI itu ada dua bungkus abon, satu buah jeruk, dan empat butih buah kurma. 

Sedangkan porsi besar untuk siswa kelas 4 SD/MI hingga SMA. Menu MBG terdiri atas satu roti, tiga susu kotak merek Indomilk, dua butir telur ayam, satu bungkus abon, satu buah jeruk, dan enam buah kurma.

Koordinator Wilayah SPPG Sumenep Moh. Kholilurrahman Hidayatullah menjelaskan, SPPG masih menggunakan susu rasa-rasa karena susu full cream saat ini masih langka.

Sehingga, penggunaan susu rasa-rasa tetap dipaksakan.

”Nanti kami arahkan ke hal-hal barulah, akan kami lakukan evaluasi bersama terkait itu,” janjinya. 

Kepala SPPG Sumenep Lenteng Lenteng Timur Aril Maulana Ramadhan menjelaskan, penggunaan susu dalam paket MBG bukanlah komponen wajib, melainkan hanya tambahan.

”Susu itu hanya sebagai tambahan sebenarnya, sebagai pelengkap, sebagai tambahan protein,” jelasnya. 

Anggaran yang dialokasikan untuk porsi kecil Rp 8 ribu per porsi. Sedangkan untuk porsi besar dianggarkan Rp 10 ribu.

Setiap komposisi menu disesuaikan dengan kebutuhan gizi penerima. 

Aril mengeklaim, menu yang disalurkan itu sudah sesuai dengan anggaran yang ditetapkan.

”Seperti penggunaan telur puyuh untuk porsi kecil itu karena menyesuaikan dengan kebutuhan gizi penerima,” terangnya. (tif/luq) 

Editor : Amin Basiri