SUMENEP, RadarMadura.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep mencatat ada 188 bangunan rusak diterjang angin puyuh pada Minggu (1/2).
Namun, hingga sekarang proses asesmen yang dilakukan BPBD belum rampung.
Ratusan bangunan rusak meliputi rumah, masjid, musala dan toko yang tersebar di tiga kecamatan.
Perinciannya, 178 bangunan di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan.
Delapan bangunan di Desa/Kecamatan Guluk-Guluk dan dua bangunan di Desa Pekandangan Tengah, Kecamatan Bluto.
Kepala BPBD Sumenep Ach. Laily Maulidy menyatakan, bencana terjadi akibat hujan deras yang disertai angin kencang tidak hanya terjadi tiga kecamaan tersebut.
Sejulmah wilayah di Kecamatan Kalianget dan Kota Sumenep juga diterjang angin puyuh. Tapi, hanya pohon tumbang dan tidak ada korban.
Pihaknya sudah turun ke lokasi terdampak bencana dan melakukan asesmen.
Asesmen bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan bangunan akibat bencana angin kencang. Tiga kecamatan itu diprioritaskan karena ada korban.
”Hasilnya (asesmen) belum selesai. Yang ada di kami hanya laporan sementara dari kades melalui camat masing-masing,” ujarnya.
Laily belum bisa memastikan kapan asesmen dampak bencana selesai. Dia berdalih, kerusakan di wilayah terdampak beragam.
”Seandainya semua rata rusak parah atau ambruk, tiga hari asesmennya selesai. Tapi, karena tingkat kerusakannya beragam, maka harus menghitung dan menilai kerusakannya dulu,” ungkapnya.
Baca Juga: Bank Jatim Sumenep Salurkan Ratusan Hadiah Khusus PNS Pemohon Kredit
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep melalui BPBD dan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Dinsos P3A) telah menyalurkan sejumlah bantuan kepada warga terdampak.
Meski begitu, penyaluran bantuan belum merata ke semua korban.
Kepala Desa Karduluk Ahmad Faruq membenarkan adanya bantuan tersebut.
Menurutnya, pemerintah sudah menyalurkan bantuan kepada korban terdampak bencana. Namun, bantuan tersebut belum merata kepada semua korban.
”Dinsos dan BPBD telah menyalurkan bantuan. Ada pula yang dari pihak swasta, tapi masih belum merata,” tandasnya. (tif/bil)
Editor : Amin Basiri