SUMENEP, RadarMadura.id - Bagi para pencinta kuliner tradisional, Pasar Kebbun yang terletak di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, tidak boleh dilewatkan.
Sesuai namanya, pasar yang menjual aneka makanan dan jajanan tradisional itu berada di area perkebunan.
Para penjual makanan di pasar itu hanya dapat dijumpai setiap hari Minggu.
Pedagang membuka lapak di bawah pepohonan yang rindang.
Bentuk warungnya dibuat senatural mungkin, sehingga jauh dari kesan modern.
Sebab, pengelola pasar ingin menunjukkan kesan klasik. Pedagang yang berjualan di tempat itu juga mengenakan pakaian yang sangat tradisional, seperti kebaya. Sementara makanan yang dijual beragam.
Namun yang pasti, makanan tradisional Madura. Antara lain, tajin, ikan panggang, palotan, nasi orap. Selain itu juga lepet, lemet, gettas, korket cenge, kocor, cindul, dan berbagai jajajan tradisional lainnya.
Di pasar itu juga tersedia hiburan yang menyajikan pertunjukan budaya Sumenep, berbeda-beda setiap pekannya.
Mulai dari tarian tradisional, musik khas Sumenep, hingga pertunjukan rakyat yang menghibur pengunjung dari berbagai kalangan usia.
"Kami ingin membuat pengunjung bernostalgia ke masa lalu. Sehingga, masyarakat yang datang ke sini akan sulit melupakan pengalamannya", kata Owner Pasar Kebbun, Moh. Fajar Siddiq, Jumat (23/1).
Para penjual di Pasar Kebbun sebagian besar merupakan warga sekitar. Pihaknya menggandeng pelaku usaha mikro untuk ikut berjualan di Pasar Kebbun.
Awalnya tidak semua pelaku usaha antusias. Sebab, khawatir dagangannya sepi pembeli.
”Karena kan tempat dan konsepnya baru. Lokasinya juga tidak di jalan raya, tapi masuk ke jalan kampung. Tapi sekarang alhamdulillah, para pedagang bisa memetik hasilnya. Dagangannya selalu habis terjual", ungkapnya.
Harga makanan yang dijual di Pasar Kebbun itu bervariasi. Tapi, bisa dikatakan cukup terjangkau.
Terdapat jajanan yang bisa dibeli cukup dengan 1 koin. Misalnya apem, bikang, pisang rebus.
Selain itu juga ada pedagang juga yang menjual produk olahan dengan harga dua koin. Yaitu, makanan tahu cenge.
Sedangkan untuk sebungkus nasi, pembeli bisa menukarnya dengan 4 koin kayu.
Pasar Kebbun tidak hanya menyajikan beragam menu kuliner tradisional. Tetapi, juga menyediakan wahana berperahu menyusuri sungai di tengah pasar.
Cukup dengan 2 koin per orang, pengunjung akan diajak berkeliling sungai naik perahu kayu dengan didayung.
Pasar yang beroperasi saat akhir pekan tersebut dibuka mulai pukul 06.00 hingga 12.00.
"Tempat ini cocok sebagai tempat liburan keluarga yang ingin menikmati akhir pekan dengan suasana berbeda dan memperdalam pemahaman akan kekayaan budaya lokal Madura", imbuhnya.
Pembayaran Menggunakan Koin Kayu
Jika ingin berkunjung ke Pasar Kebbun, pengunjung hanya bisa bertransaksi menggunakan koin kayu.
Sebab, pedagang tidak menerima pembayaran dengan uang tunai, apalagi melalui QRIS.
Siddiq memaparkan, cara mendapatkan koin kayu itu tidak sulit.
Begitu masuk ke Pasar Kebbun, terdapat ada stan yang bertuliskan pamoropan pesse atau tempat penukaran uang.
Jadi, pengunjung bisa menukar uang tunai dengan koin kayu untuk berbelanja.
Satu koin kayu senilai Rp 2.500, rata-rata pengunjung menukarkan uang minimal Rp 50.000 dengan mendapatkan 20 koin kayu, terangnya.
Apabila koin kayu tidak semua dibelanjakan, pengunjung tidak perlu khawatir, karena bisa ditukar lagi dengan uang rupiah seperti sebelumnya.
Kami tidak ingin pengunjung merasa rugi, karena telanjur menukar banyak tapi tidak semua digunakan. Kami akan mengembalikan penuh, sesuai nilai koin yang tersisa, tuturnya.
Ide belanja menggunakan koin kayu muncul karena ingin semakin mendekatkan pengunjung dengan suasana tempo dulu.
Menurut cerita, di masa lampau, orang berbelanja tidak menggunakan uang tunai, melainkan dengan sistem barter barang.
Tapi kalau sekarang kan sulit kalau membayar barang dengan barang. Makanya kami memilih menggunakan sistem bayar pakai koin kayu, bukan uang tunai, pungkasnya. (tif/jup)
Editor : Amin Basiri