SUMENEP, RadarMadura.id - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Sumenep bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merilis hasil kajian strategis terkait penanganan banjir di kawasan perkotaan.
Kajian tersebut mengungkap penyebab utama banjir, titik-titik kritis genangan, serta rekomendasi intervensi yang perlu segera ditindaklanjuti pemerintah daerah.
Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa tiga daerah aliran sungai (DAS) utama, yakni Sarokah, Marengan, dan Patean, memiliki debit banjir rencana (Q10) cukup besar.
Masing-masing sebesar 342 meter kubik per detik di DAS Sarokah, 115 meter kubik per detik di DAS Marengan, dan 122 meter kubik per detik di DAS Patrean.
Debit tersebut melampaui kapasitas drainase eksisting sehingga menjadi faktor utama munculnya genangan di sejumlah titik perkotaan.
Dari survei lapangan, tim riset menemukan sejumlah persoalan teknis, seperti saluran yang dangkal akibat sedimentasi, inlet tertutup, saluran tertutup bangunan warga, hingga konflik fungsi antara irigasi dan drainase yang menyebabkan aliran tidak optimal.
Titik kritis yang teridentifikasi antara lain Jalan Dr WahidinSetiabudi, Perumahan Bumi Sumekar, Perumahan Satelit, Asabri, serta Jalan KartiniJati Emas.
Selain itu, hilir Sungai Marengan juga kerap terdampak backwater saat air laut pasang, ujar Kepala Brida Sumenep Benny Irawan.
Benny menjelaskan, berdasarkan hasil kajian, terdapat dua pendekatan utama dalam penanganan banjir.
Pertama, intervensi struktural yang meliputi normalisasi saluran, pengerukan sedimen, peningkatan kapasitas drainase, pembangunan kolam tampungan, pemasangan pintu air, sistem pompa non-gravitasi, serta penguatan tanggul di titik rawan.
Kedua, intervensi nonstruktural meliputi penguatan sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, pengendalian tata ruang berbasis risiko, serta pelibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran.
Menurut Benny, penyusunan kajian tersebut merupakan bagian dari tugas brida dalam memberikan rekomendasi berbasis riset kepada pemerintah daerah.
Semua hasil kajian akan kami sampaikan kepada pimpinan daerah. Selanjutnya pimpinan yang menentukan program prioritas, dan secara teknis akan dikerjakan organisasi perangkat daerah (OPD) sesuai tupoksinya, jelasnya.
Dia berharap hasil kajian bersama ITS itu dapat menjadi acuan penting dalam merumuskan program penanganan banjir yang lebih terarah, komprehensif, dan berbasis data.
Kajian ini menegaskan bahwa penanganan banjir membutuhkan intervensi terpadu serta perbaikan tata kelola risiko di wilayah perkotaan Sumenep, tandasnya. (tif/han)
Editor : Amin Basiri