SUMENEP, RadarMadura.id– Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) memadati lapangan sepak bola Kecamatan Dungkek, Sabtu (1/11) malam.
Mereka menghadiri pengajian umum yang digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) dan Rokat Desa/Kecamatan Dungkek, Sumenep.
Kepala Desa Dungkek H Ach. Jumahri mengatakan, sebelum pengajian dimulai, Pemdes Dungkek bersama warga menggelar khataman, macapat, dan tasyakuran di balai desa. Acara itu digelar sejak Kamis (30/10) hingga Jumat (31/10).
Jumahri yang juga pengurus MWCNU Dungkek itu mengundang Wakil Ketua Umum PBNU Dr (H.C) KH Zulfa Mustofa sebagai penceramah.
Ketua Panitia Syahroni saat sambutan mengatakan, rokat desa rutin digelar sejak 2015.
”Sebagai bentuk rasa syukur dan mempererat silaturahmi.
Bersama-sama memohon pertolongan kepada Allah SWT serta melestarikan warisan leluhur dan para sesepuh,” ucapnya.
Jumahri kemudian melakukan pengalungan bunga melati kepada Wakil Ketua Umum PBNU Dr (H.C) KH Zulfa Mustofa.
Lalu dilanjutkan dengan pembacaan salawat yang dipimpin Lora Nizar Ali, Lora Amin Qutbi, Ustadz Muhammad Tumbuk, dan Ustadz Fauzi.
Wakil Ketua Umum PBNU Dr (H.C) KH Zulfa Mustofa menyampaikan kekagumannya kepada masyarakat Dungkek.
”Ini kali pertama saya ke Dungkek. Semakin sering ke Sumenep, saya semakin kagum,” tuturnya.
Menurutnya, banyak tokoh-tokoh hebat lahir dari Kabupaten Sumenep. Salah satunya KH Thoifur Ali Wafa.
"Beliau banyak mengarang kitab, beliau warga Sumenep,” jelasnya.
Dijelaskan, warga Madura (utamanya Sumenep), pada umumnya memiliki etos kerja tinggi.
”Misalnya, mereka membuka warung kelontong 24 jam, di saat yang lain hanya 16 jam,” ulasnya.
Kiai Zulfa Mustafa mengemukakan, santri asal Sumenep di perantauan memilih berdagang sekaligus menjadi guru ngaji.
Sebab, sejatinya santri harus ngaji. ”Yang paling utama salat.
Meski buka warung 24 jam, saat masuk waktu salat, warga Sumenep tutup sejenak.
Atau bisa bergiliran dengan sang istri, jika suami ke masjid, maka istri yang jaga warung,” ingatnya. (via/yan)
Editor : Amin Basiri