SUMENEP, RadarMadura.id – Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Sumenep mengungkap beberapa faktor yang menyebabkan Koperasi Merah Putih (KMP) pasif dan stagnan. Salah satunya, sumber daya manusia (SDM) yang kurang mumpuni.
”Memang ada keterbatasan kemampuan SDM. Misalnya bikin proposal, sarana, dan lain-lain. Akan tetapi, tetap kita dampingi,” kata Kepala DKUPP Sumenep Moh. Ramli.
Menurut dia, koperasi yang stagnan umumnya pasif dan hanya menunggu bantuan dari eksternal. Padahal, pemerintah telah memberikan ruang agar koperasi bisa lebih mandiri.
”Sebetulnya pemerintah telah memberikan jalan dan memberikan ruang, ayo bergerak, bagi yang mau pinjam,” terangnya.
Ramli menuturkan, koperasi perlu membuat proposal dan kajian bisnis terlebih dahulu. ”Hasilnya, kemudian diserahkan ke kepala desa untuk dimusyawarahkan bersama sebelum diajukan ke bank,” tuturnya.
Dijelaskan, saat ini pihak bank sudah siap menyalurkan pinjaman dan menunggu pengajuan resmi dari koperasi. ”Kami juga sudah memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada pengelola koperasi perihal mekanisme pengajuan pinjaman,” jelasnya.
Sekadar diketahui, 105 KMP di Kota Keris mendapatkan prioritas untuk mendapatkan pinjaman dari Himpunan Bank Negara (Himbara). Pinjaman tersebut akan disalurkan melalui Bank Negara Indonesia (BNI) selaku Himbara yang ditunjuk di Sumenep.
”Koperasi yang mendapatkan prioritas berada di desa dengan status mandiri,” tandas Moh. Ramli. (tif/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti