SUMENEP, RadarMadura.id – Universitas Al-Amien (UNIA) Prenduan, Sumenep melalui program pengabdian kepada masyarakat (P2M) Kelompok 2 mengadakan penyuluhan anti-bullying di SDN Bandungan 2. Kegiatan ini berlangsung Rabu (17/9) dari pukul 07.30 hingga 09.30 WIB.
Acara diikuti sekitar 70 siswa kelas 4 hingga 6, serta didukung penuh para guru setempat. Suasana sekolah tampak hidup dengan antusiasme siswa sejak awal kegiatan.
Kepala SDN Bandungan 2, Habibi, mengungkapkan pentingnya kegiatan ini karena masih ada siswa yang menjadi korban bullying. Ia menegaskan bahwa penyuluhan memberi pemahaman kepada semua siswa bahwa perundungan adalah tindakan salah.
“Penyuluhan ini bertujuan untuk memberi pemahaman kepada siswa, baik pelaku maupun korban, bahwa bullying itu salah dan bisa merugikan semua pihak,” ujar Habibi.
Baca Juga: Kontingen TMI Al-Amien Prenduan Raih Dua Penghargaan di WMSJ 2025
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari kepala sekolah. Setelah itu, siswa diajak mengikuti sesi ice breaking berupa permainan konsentrasi dan lagu “Stop Bullying, Kita Semua Teman.”
Kegiatan pembuka ini menciptakan suasana santai dan menyenangkan sebelum materi utama dimulai. Anak-anak terlihat gembira dan terlibat aktif dalam permainan.
Pemateri dari mahasiswa P2M, Miftahul Jannah dan Nailis Saadah, kemudian menyampaikan materi tentang bullying. Mereka menjelaskan dampak perundungan yang dapat merusak mental dan psikologis korban.
Selain itu, siswa juga mendapat arahan tentang cara menghadapi dan mencegah bullying di lingkungan sekolah. Beberapa siswa dengan berani mengajukan pertanyaan sebagai tanda ketertarikan mereka.
Momen paling mengharukan terjadi pada sesi renungan. Beberapa ungkapan perasaan korban bullying dibacakan, seperti “Ibu, aku dikatakan miskin… aku dikatakan jelek,” dan seterusnya.
Baca Juga: 23 Santri Al Amien Prenduan Ikuti Jambore Dunia
Sontak suasana menjadi haru, bahkan beberapa siswa terlihat meneteskan air mata. Kegiatan itu menyentuh hati peserta sekaligus membuka kesadaran pentingnya menghargai sesama teman.
Untuk menyalurkan perasaan, siswa diminta menulis surat berisi pengalaman atau emosi mereka terkait bullying. Aktivitas ini menjadi media positif untuk menuangkan isi hati.
Kemeriahan acara kembali terasa saat sesi quiz game. Siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar mendapat hadiah menarik dari panitia.
Program ditutup dengan sesi foto bersama antara mahasiswa P2M, guru, dan seluruh siswa. Kebersamaan itu menjadi simbol tekad bersama untuk melawan perundungan di sekolah.
Habibi mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap siswa semakin sadar pentingnya menjaga perasaan teman. Menurutnya, penyuluhan semacam ini sangat bermanfaat bagi pembentukan karakter anak.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para siswa semakin sadar akan pentingnya saling menghargai dan menjaga perasaan teman,” tegas Habibi.
Ke depan, mahasiswa P2M UNIA akan berkolaborasi dengan Lembaga Psikologi Terapan Al-Amien (eL-Psika). Mereka menyiapkan program observasi lanjutan dan layanan konseling bagi siswa yang membutuhkan.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif. UNIA berkomitmen mendukung dunia pendidikan dengan program nyata yang berdampak langsung pada siswa. (*/dry)
Editor : Hendriyanto