SUMENEP, RadarMadura.id – Persebaran penyakit campak di Kabupaten Sumenep mengkhawatirkan. Pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Hingga Minggu (24/8), jumlah kasus suspek campak mencapai 2.105 orang. Sedikitnya, 17 pasien dilaporkan meninggal dunia.
Untuk menekan persebaran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep sejak Senin (25/8) telah melaksanakan imunisasi atau outbreak response immunization (ORI). Program ini menyasar sekitar 73.969 anak usia PAUD hingga kelas I SD, dengan target capaian 95 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep Achmad Syamsuri menyampaikan, setiap harinya dinkes P2KB menargetkan sekitar 3.346 anak mendapatkan vaksinasi atau setara 4,8 persen dari total sasaran. Imunisasi massal ini sebagai respons atas meningkatnya kasus suspek campak di Kota Keris.
”Imunisasi ini dilaksanakan serentak di 26 puskesmas, baik di daratan maupun kepulauan,” terangnya.
Pada hari pertama realisasi, per tanggal 25 Agustus 2025, imunisasi ORI campak tersebut mencapai 8,6 persen atau 6.336 sasaran. Angka itu didapat berdasar laporan imunisasi dari 26 lokasi pelaksanaan se-Kabupaten Sumenep.
”Hari pertama ini mampu menempuh dua kali lipat dari jumlah yang ditargetkan,” tutupnya.
Syamsuri menyampaikan, keberhasilan imunisasi ini bergantung pada partisipasi masyarakat. Sebab itu, pihaknya mengajak para orang tua agar aktif membawa anaknya ke fasilitas layanan kesehatan. ”Kami opitimistis bisa menekan dan segera mengakhiri kasus ini,” katanya.
Orang tua sangat perlu untuk melengkapi imunisasi bagi anak yang belum lengkap status imunisasinya atau bahkan tidak pernah imunisasi sama sekali. Sebab, campak merupakan penyakit yang persebarannya sangat mudah dan cepat. Misalnya, melalui percikan air liur saat penderita batuk dan bersin.
”Persebaran campak itu sangat cepat, dalam hitungan menit bisa menular ke 12 sampai 18 anak. Karena itu, imunisasi itu sangat penting dilakukan,” jelasnya.
Sebab itu, dia mengimbau agar para orang tua tidak mudah termakan hoaks terkait imunisasi. ”Jangan mudah percaya hoaks tentang imunisasi dan obat alternatif, selalu rujuk ke informasi resmi dari tenaga kesehatan,” tutupnya.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Sumenep Sami’oeddin meminta dinas terkait untuk menyukseskan giat imunisasi tersebut. Selain itu, dia juga meminta dinkes untuk menyosialisasikan pentingnya imunisasi bagi anak kepada para orang tua.
”Pemahaman tentang pentingnya imunisasi ini juga perlu disosialisasikan kepada para orang tua,” pintanya. (tif/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti